Skip to main content

Staycation: Selonjorin Kaki, Menjaring Inspirasi

staycation

Anak sekolah sudah menempuh setengah semester pertama di tahun ajaran ini. UTS sudah lewat, rapor sementara juga sudah dibagikan. Emak bisa menghela napas lega. Alhamdulillaah. Separuh semester sedang ditempuh. Berarti masih ada tantangan hingga akhir tahun ini. Bismillaah.

Di akhir semester nanti, ingin pulang kampung untuk meramaikan rumah Ibu di Jogja. Suara riuh-rendah cucu-cucunya, pasti tidak bakal ditolak Ibu. Eyangnya anak-anak saya itu selalu menyambut kebisingan yang ditimbulkan duo krucil saya dengan tabah. Apalagi cucunya akan bertambah satu lagi dari saya, insya Alloh.

Akhir semester nanti sepertinya akan jadi episode pulkam satu-satunya di tahun 1438 Hijriyah ini, sebab diperkirakan pada pertengahan tahun depan, adiknya Damar-Rojat lahir, insya Alloh. Yang berarti kemungkinan besar saya tidak bisa pulkam saat Lebaran 1438 H depan. Nah, maunya libur akhir semester ini sebagai gantinya.

Kenapa Staycation Sama Ibu?

Liburan di Jogja pinginnya bisa puter-puter sama Ibu dan kakak-adik saya, mumpung mereka tinggal di Jogja. Tapi mengingat kondisi saya sebagai ibu hamil, rasanya lebih aman dan nyaman kalau saya ambil staycation saja alias bersantai di tempat. Biar nanti anak-anak menyusuri Jogja bareng ayah, paman dan bude mereka. Mau ke Taman Pintar, boleh. Ke pantai di Bantul dan Gunung Kidul, monggo.

Saya selonjoran kaki saja dengan Ibu. Cuma...kalau selonjoran di rumah bisa-bisa nggak jadi staycation, malah stuckcation yang berujung pada suntukcation gara-gara di rumah melulu dan ketemu pekerjaan rumah yang sama aja baik di Madiun ataupun di Jogja. Hahaha... Perlu 'kabur' sejenak barang dua hariii saja kayaknya nih.

Sebetulnya Ibu lebih senang kalau ketika pulang kampung saya lebih banyak di rumah. Kenapa? Soalnya mau diajak ngobrol ngalor-ngidul-ngetan-ngulon. Hehe... Ibu tipe yang senang berdiskusi, dan saya senang menanggapi. Tapi ya itu tadi, mau stuckcation? Nooo...

Jadi? Ke mana?

Ke Adhisthana bisa tuh! Hotel bernuansa rumah ini letaknya di Prawirotaman, dekat tempat masa kecil saya dulu di Mangkuyudan. Bisa sambil naik sepeda motor ke sananya sama Ibu. Dekat? Ya, kira-kira 45 menit dari rumah di Banguntapan. Jogja mana sih yang jauh? Kalau macet, iya sih, mulai macet. Sayaaang deh.

Prawirotaman sendiri secara geografis berada dekat dengan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Dekat pusat kebudayaan, jelaslah penduduknya masih menjunjung tinggi adat, termasuk bahasa dan budi pekerti yang halus. Ibu saya sepertinya bakal bahagia diajak ke mari, soalnya Ibu adalah sosok yang peduli betul dengan bahasa. "Bahasa menunjukkan bangsa!" demikan quote kesukaan Ibu. Di Prawirotaman ini juga Ibu bisa bernostalgia mengenang masa penuh perjuangan hidup bersama Bapak (alm.) sekaligus menikmati budaya langsung dari sumbernya.

Menjaring Inspirasi Saat Staycation

Staycation di sini bukan hanya bisa selonjorin kaki dan tidur di kasur mentul-mentul, tapi juga bisa menjaring inspirasi. Ya, biarpun raga sedang berlibur, jiwa tetap mencari pendapatan dong biar kaya terus.

hotel di jogja

Terpentul-pentul di kasur lalu menangkap ide memberi tema kamar tidur di rumah.

hotel di jogja

Memandang kursi santai di tepi kolam lalu muncul ide buat kursi tidur di rumah untuk nonton TV.

hotel di jogja

Melirik tata ruang lalu bangkit semangat bebersih rumah nantinya.

hotel di jogja

Mengagumi parkiran sepeda lalu kirim fotonya ke suami biar dibikinkan parkiran seperti ini. Eh.

hotel di jogja

Dan yang jelas, staycation memungkinkan saya menyantap sarapan dengan santai tanpa takut terpapar bau bawang yang bikin mual.

Gambar diambil dari instagram @adhisthana

Betul kok silaturahmi itu memperpanjang usia. Kenalan dengan orang baru, melihat hal baru, semangat hidup jadi membuncah. Setuju nggak?

Semoga keinginan staycationini bisa terlaksana. Nah, bagaimana dengan teman-teman? Punya rencana berlibur akhir semester nanti? Staycation juga atau apa? Cerita, yuk, cerita!

Hotel Adhisthana
Jalan Prawirotaman 2 nomor 613 Yogyakarta 55153
Telepon +62-274-413888
email: info@adhistanahotel.com

Tulisan ini merupakan collaborative blogging dengan tema: Traveling
Baca juga tulisan Prita HW: Untuk Mendengar Suara Hati, Staycation Bisa Jadi Salah Satu Pilihan

Comments

  1. Mau... Biar nggak melulu liat rumah yang tiap hari diberesin, tapi nggak beres2..😀

    ReplyDelete
  2. Ealah kenape saya ga tahu kalau Mbak Diah lagi isi lagi? Semoga lancar sampai melahirkan ya Mbak. Amin.

    Kalau kami staycationnya di rumah mewah ajalah sambil dengerin suara kodok ngorek :)

    ReplyDelete
  3. Dari fotonya, ini hotelnya adem bener ya.
    Berasa di rumah sendiri pula.

    ReplyDelete
  4. Ini serasa di rumahnya. SAya mau dong sepedaan, asyik deh.

    ReplyDelete
  5. anak-anakku malah belum selesai uts nya mbak... betul juga kalau perempuan itu ga dirumah sendiri gak mudik di rumah orang tua selalu ada saja yang dikerjakan, staycation ide yang bagus juga... tapi rumah ortuku di desa ga ada hotel atau penginapan hihihi...

    ReplyDelete
  6. Wah bisa jadi referensi kalau saya ke Jogya nanti.
    Saya biasanya bermalam di sekitar Malioboro je
    Terima kasih infonya
    Salam hangat dari Jombang

    ReplyDelete
  7. Sulis: hehe...kabur sejenak ya.

    Mbak Tarry: kemarin memang belum dirilis beritanya, Mbak. hihihi...

    Mbak Ika: adem ya, Mbak.

    Mbak Lidha: asyik, ya, sepedaan.

    Mbak Retno: oooh...Malang belum selesai UTS to? Libur di desa juga asyik kok.

    Pakde: iya, Pakde. Sekali-sekali nggak di kawasan Malioboro asyik juga.

    ReplyDelete
  8. Yuk ahh, kita kabuurrr sejenak dan staycation di hotel kece inii

    bukanbocahbiasa(dot)com

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan berkomentar dengan baik dan sopan. Mohon maaf, segala komentar spam, yang berisi link hidup atau yang menyebabkan broken link serta komentar yang mencantumkan identitas tidak jelas akan dihapus.

Popular posts from this blog

Kegiatan Ibu Rumah Tangga Saat Anak Sudah Beranjak Dewasa

Disclosure: Tulisan ini merupakan artikel bersponsor


“Kamu enak, Dek, masih punya anak kecil. Anakku udah remaja, apa-apa maunya dia lakukan sendiri,” curhat seorang saudara saya.

“Mau apa nanti aku, ya, jadi ibu rumah tangga saat anak sudah beranjak dewasa?”

Saya cuma bisa nyengir saja. Sama deh, saya juga ibu rumah tangga. Beberapa tahun lagi mungkin saya bakalan mengalami hal ini juga. Banyak tuh ibu-ibu yang bercerita, dulunya si anak mau diajak ke mana-mana. Sekarang? Boro-boro diajak, anaknya aja jarang ada di rumah.

Dulu, pas repot-repotnya mengurus anak balita, kita inginnya anak kita cepat besar, biar lebih enteng. Eh, setelah anak benar-benar besar dan mandiri, kita juga kebingungan mau ngapain di rumah seharian. Istighfar.

“Ngurus Posyandu aja, Mbak,” jawab saya iseng.

Saudara saya itu tinggal di perumahan model cluster di wilayah Solo Baru, Jawa Tengah. Kota satelitnya Solo ini termasuk yang cepat berkembang. Maklumlah, Solo memang salah satu kota besar di Jawa Tengah. Pen…

Mengurus Lapor Jual Kendaraan

Siang ini saya mengurus lapor jual kendaraan ke Samsat Polres Kabupaten Madiun. Untuk apa mengurus lapor jual kendaraan? Lapor jual dilakukan saat seseorang menjual kendaraan bermotornya. Mengapa harus dilaporkan? Hal ini berkenaan dengan pajak kendaraan bermotor. Kendaraan yang telah dijual namun belum dilaporkan akan tetap dikenai pajak atas nama pemilik lama. Jika pemilik lama memiliki kendaraan lebih dari satu, sesuai Peraturan Pemerintah dikenai pajak progresif.
Kendaraan yang dikenai pajak progresif adalah mobil dan sepeda motor dengan kapasitas mesin di atas 250 cc. Jika seseorang memiliki kendaraan dua buah, makai dikenai pajak progresif 2% dari Nilai Jual Kendaraan Bermotor. Jika tiga buah, pajak progresifnya 2,5%; dan seterusnya.

Cara Menonaktifkan Fitur Talkback Pada HP Samsung Galaxy Core Duo

Ini adalah cerita cara menonaktifkan fitur Talkback pada HP Samsung Galaxy Core Duo. Minggu lalu, tiba-tiba anak saya yang kecil lapor ke saya, "Bu, talkback itu gunanya untuk mengunci HP." Naluri saya bekerja, apa maksudnya mengunci? Ternyata betul, si Mas sedang berjuang mengembalikan settingan HP ayahnya yang dia utak-atik. Sejurus kemudian, dengan muka memelas, si Mas meminta bantuan saya.Kejadian ini bukan pertama kalinya. Sudah kesekian kali si Mas bikin kecelakaan pada HP. Kecelakaannya pun bermacam-macam. Anehnya, HP ayahnya pula yang kena, padahal HP itu lebih penting daripada HP saya. Iya sih, HP saya kalah canggih jadi baru dilirik kala HP si Ayah tak ada.