Skip to main content

Pengemis Pun Harus Tahu

Ini cerita tentang pengemis. Pengemis pun harus tahu, saya kira.

Seorang bapak kelam mendekati saya di parkiran, meraih pintu mobil yang memang sedikit terbuka karena saya berniat keluar, lalu berkata, "Minta uang. Untuk beli makan,"sambil menggerak-gerakkan tangannya menirukan gerak tangan yang menyuap makanan.

Kaget, saya pun mengurungkan niat untuk keluar dan buru-buru merogoh dompet. Ada sekian ratus rupiah. Saya ulungkan ke bapak kelam itu. Dia mengambil uang itu lalu menghitung nilainya.
"Nggak cukup untuk beli makan. Nggak cukup," katanya sambil mengulungkan kembali uang itu.
"Bapak nggak mau?"
"Nggak cukup," katanya lagi.

Duh, jadi grogi saya. Baru kali ini ketemu pengemis yang begini.

"Tunggu suami saya, ya, Pak," kata saya.
Suami saya memang sedang di dalam mini market saat itu. Tapi ditungguin si bapak kelam yang berpakaian kumal dan tangannya dihiasi banyak asesoris cincin dan gelang itu membuat saya makin grogi. Gimana, ya, posisi pintu mobil sedikit terbuka begitu. Mau ditutup nggak enak (takut si bapak teriak ngatain saya), nggak ditutup ya saya takut. Akhirnya saya merogoh-rogoh laci di mobil dan menemukan beberapa ratus rupiah lagi. Saya kumpulkan dan saya ulungkan lagi.

Belum sempat dia terima, suami saya yang ternyata sudah keluar dari mini market juga mengurkan uang koin ke bapak itu. Dan lagi-lagi si bapak kelam itu menghitung nilai uang itu. Sebelum dia protes lagi saya segera memanggilnya dan memberikan seluruh uang koin yang saya peroleh tadi. Alhamdulillaah bapak itu menerimanya. Kami pun buru-buru pergi dari tempat itu. Sekilas saya lihat dari balik kaca jendela, si bapak kelam mendekati sebuah mobil lain yang baru datang.

#

Cerita aneh lain lagi. Siang itu saya barusan memarkir sepeda motor di depan mini market. Di halaman parkir itu ada dua pengemis. Si bapak sepuh dituntun oleh (mungkin) anaknya. Mereka mendekat. Saat mereka meminta sedekah, saya cuma tersenyum saja. Duit saya 'besar' sekali dan tak ada receh yang saya bawa.

Mendadak si bapak sepuh meneriaki saya, "Ooo...dasar tuli!"
Deg!
Kaget saya. Tapi saya pura-pura tak mendengar. Sudahlah, biar saja, asal tidak lebih jauh dari itu.

#

Kadang pengemis pun harus tahu juga bahwa tak semua yang tak memberi itu pelit. Bisa jadi ia sedang pelit karena memang 'harus pelit' seperti karena tak ada uang receh, uangnya ngepas, sedang terburu-buru, sedang dalam posisi tanggung seperti momong anak kecil yang lari ke sana ke mari dan sebagainya.

Ya, saya kira pengemis pun harus tahu.

Comments

  1. Bener-bener mbak. Aku perah juga mb sengaja nggak ngasib ke pengemis...lha wong masih muda, sehat, pakaian bagus. Cuma malas aja kan berarti..... Di kampung/desa itu banyak nenek-kakek dah sepuh masih di sawah' panas-panas, dipasar juga..... Lha ini minta2 katanya sodaqoh pribadi...ketika aku nggak ngasih, dia berucap "astaghfirullah mb"....sok agamis,tp kan dia malas intinya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kita jadi salting y lis. Nggak enak bgt rasanya.

      Delete
  2. Terkadang pengemis pun harus diberi pelajaran agar tangan tak selalu mengadah ke atas, tapi sekali-sekali tangan diperas keringat untuk bekerja yang lain. Seharusnya yang jadi masalah dari para pengemis adalah pola pikir mereka, yg terlalu malas utk bekerja

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya lebih hormat ke sales2 itu drpd pengemis atau pengamen mas. Tp sales yg betulan lho y.

      Delete
  3. "Bang laper bang, dari pagi belom makan."
    Suara seorang pengemis sambil megangin perutnya.
    karena posisi gw waktu itu di depan tukan ketoprak, gw tawarin dia untuk mesan ketoprak dan gw bilang klo gw yang bakal bayar.
    denger omongan gw anak itu malah lari, ini bocah laper tapi kenapa larinya kenceng banget?

    ReplyDelete
  4. kadang kita harus liat-liat juga orangnya ya, mbak. kalo saya sih...ga akan kasih uang kalo orangnya masih seger dan merokok...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Apalagi merokok ya, Mbak. Saya juga gitu. Mikir-mikir.

      Delete
  5. Pengemis nggak pernah saya kasih. Kalau dikatain sama pengemis gara2 nggak ngasih, saya malah lega, berarti keputusan saya nggak ngasih sudah tepat. Orang yg benar2 nggak mampu biasanya pasrah, nggak galak begitu. Tp kalau tukang koran yg sudah tua2 gitu, butuh nggak butuh korannya aku beli & kembaliannya nggak aku minta. Grup musik macam klanting gitu di Jogja ada di perempatan2 & gak maksa tapi aku kasih. Itung2 mencegah mrk jadi preman. Heheheee...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya sih, Mbak. Kalau di rumah masih bisa nolak halus tp kalau di jalanan tuh lho. Lebih sering meresahkannya drpd mengundang simpati.

      Delete
  6. terus terang mba..pengemis sekarang banyak yang palsu..jadi suka sebel melihat mereka mengemis tapi sangat tidak sopan dan memaksa seperti cerita mba..

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Sila berkomentar dengan baik dan sopan. Mohon maaf, segala komentar spam, yang berisi link hidup atau yang menyebabkan broken link serta komentar yang mencantumkan identitas tidak jelas akan dihapus.

Popular posts from this blog

Kegiatan Ibu Rumah Tangga Saat Anak Sudah Beranjak Dewasa

Disclosure: Tulisan ini merupakan artikel bersponsor


“Kamu enak, Dek, masih punya anak kecil. Anakku udah remaja, apa-apa maunya dia lakukan sendiri,” curhat seorang saudara saya.

“Mau apa nanti aku, ya, jadi ibu rumah tangga saat anak sudah beranjak dewasa?”

Saya cuma bisa nyengir saja. Sama deh, saya juga ibu rumah tangga. Beberapa tahun lagi mungkin saya bakalan mengalami hal ini juga. Banyak tuh ibu-ibu yang bercerita, dulunya si anak mau diajak ke mana-mana. Sekarang? Boro-boro diajak, anaknya aja jarang ada di rumah.

Dulu, pas repot-repotnya mengurus anak balita, kita inginnya anak kita cepat besar, biar lebih enteng. Eh, setelah anak benar-benar besar dan mandiri, kita juga kebingungan mau ngapain di rumah seharian. Istighfar.

“Ngurus Posyandu aja, Mbak,” jawab saya iseng.

Saudara saya itu tinggal di perumahan model cluster di wilayah Solo Baru, Jawa Tengah. Kota satelitnya Solo ini termasuk yang cepat berkembang. Maklumlah, Solo memang salah satu kota besar di Jawa Tengah. Pen…

Mengurus Lapor Jual Kendaraan

Siang ini saya mengurus lapor jual kendaraan ke Samsat Polres Kabupaten Madiun. Untuk apa mengurus lapor jual kendaraan? Lapor jual dilakukan saat seseorang menjual kendaraan bermotornya. Mengapa harus dilaporkan? Hal ini berkenaan dengan pajak kendaraan bermotor. Kendaraan yang telah dijual namun belum dilaporkan akan tetap dikenai pajak atas nama pemilik lama. Jika pemilik lama memiliki kendaraan lebih dari satu, sesuai Peraturan Pemerintah dikenai pajak progresif.
Kendaraan yang dikenai pajak progresif adalah mobil dan sepeda motor dengan kapasitas mesin di atas 250 cc. Jika seseorang memiliki kendaraan dua buah, makai dikenai pajak progresif 2% dari Nilai Jual Kendaraan Bermotor. Jika tiga buah, pajak progresifnya 2,5%; dan seterusnya.

Cara Menonaktifkan Fitur Talkback Pada HP Samsung Galaxy Core Duo

Ini adalah cerita cara menonaktifkan fitur Talkback pada HP Samsung Galaxy Core Duo. Minggu lalu, tiba-tiba anak saya yang kecil lapor ke saya, "Bu, talkback itu gunanya untuk mengunci HP." Naluri saya bekerja, apa maksudnya mengunci? Ternyata betul, si Mas sedang berjuang mengembalikan settingan HP ayahnya yang dia utak-atik. Sejurus kemudian, dengan muka memelas, si Mas meminta bantuan saya.Kejadian ini bukan pertama kalinya. Sudah kesekian kali si Mas bikin kecelakaan pada HP. Kecelakaannya pun bermacam-macam. Anehnya, HP ayahnya pula yang kena, padahal HP itu lebih penting daripada HP saya. Iya sih, HP saya kalah canggih jadi baru dilirik kala HP si Ayah tak ada.