Skip to main content

Takut Ulat

Sungguh saya takut ulat! Takut banget! Ulat yang kecil pun saya takut apalagi yang gemuk besar ginak-ginuk kloget-kloget. Huaaa...!!!

Seperti hari Minggu ini (2/8) pas saya ke rumah mendiang mertua yang sekarang jadi kantor perusahaan keluarganya suami saya. Usai beberes njemur daun sirsak untuk jamu suami saya, tiba-tiba saya merasa ada yang nggak beres di jilbab saya. Kok kayak ada suara 'kresek-kresek' gitu.

Refleks saya kabur minta tolong suami untuk ngecek pakaian saya. Alhamdulillaah, untung di sana cuma ada saya sekeluarga dan si mbah yang bertugas bersih-bersih.

Ternyata memang ada ulatnya! Huaaa...!!!

Tapi sudah disingkirkan oleh si mbah. Hhhh... lega.

Gara-gara itu ponsel suami yang sedang saya pegang rusak kameranya karena saya lempar akibat ketakutan. Retak gitu kaca pelindungnya. Waduh, gimana coba mbetulinnya? Apa dicopot aja, ya? Ada ide kah teman-teman?

Balik ke urusan ulat, ya. Berhubung rasa takut ini mengganggu saya, maka saya dengan sengaja tidak mau menanam tanaman yang berpotensi berulat. Daripada daripada lah. Bahkan sayur yang kira-kira ada ulatnya juga saya hindari kecuali kalau penjualnya bersedia ngecek untuk saya.

Pernah dulu saya maksa mas sayur untuk ngecek lembar per lembar sawi hijau gara-gara pernah saya beli sawi berulat. Huaa...!!! Saya lempar tuh sawi ke tempat sampah! Wis, refleks deh pokoknya.

Tapi meski takut berat saya berusaha untuk jaim di hadapan anak-anak saya. Karena takut ini menular. Dan saya nggak mau anak-anak saya ikut takut sama ulat. Ya masak anak laki kabur kalau ada ulat? Jangan dong...nanti yang nolongin saya siapa??? Hehe...

Konon ada cara ampuh mengatasi rasa takut ulat, yaitu dengan shock therapy. Adik teman saya hilang rasa takutnya sama ulat dengan cara ini, tapi saya nggak! Pas SD dulu saya pernah disodorin ulat oleh teman saya. Ceritanya pas lagi belajar bersama di rumah saya. Kebetulan di rumah tuh ada pohon kol bandang yang dihuni ulat keket ijo-kuning. Sewarna dengan daunnya. Ulat keket tahu, kan, ya? Ulat yang nggak berbulu itu lho. Apa ya namanya dalam Bahasa Indonesia? Kalo di Bahasa Jawa namanya uler keket.

Berhubung teman saya itu pingin saya sembuh, pas istirahat belajar dia ambil satu ulat trus diletakkan di bagian dalam buku tulis saya yang saya taruh di lantai. Belajarnya dulu nggak pakai meja, sih, cuma di lantai aja. Begitu mau mulai belajar lagi, saya buka buku dan "Aaaaaa!!!" langsung saya kabur! Ya Alloh...mengerikan! Bukannya sembuh, malah tambah parah. Uh, jangan ditiru, ya...

Shock therapy yang mengerikan!

Sebetulnya ada cara lain yang nggak shocking. Yaitu dengan cara dikenalkan sejak kecil. Nah, ini yang saya nggak bisa lakukan ke anak-anak saya. Nggak selalu harus pegang ulat, sih, yang penting tahu caranya ngusir ulat. Lha masalahnya sayanya udah ambil langkah seribu duluan, gimana mau ngenalin? Hahaha...

Sudah, ah. Ngomongin ginian jadi tambah takut. Kalau teman-teman gimana, takut nggak sama ulat?

Comments

  1. aku juga takut ulat mbak,geli aja hehehe...

    ReplyDelete
  2. saya juga geli sama ulat, apalgi kalo liat gambar ulat yang diperbesar

    ReplyDelete
    Replies
    1. Uh, ga dipwrbesar aja saya takut mbak. Haha

      Delete
  3. aku pernah uler keket nempel di tangan... duuuuh gatal plus rasanya panas banget, hiii rasanya kok langsung merinding inget kejadian waktu itu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Uler keket tetep gatel ya mbak? Hiiiy

      Delete
  4. Aku gak takut mbak, justru malah takutnya sama kaki seribu hahaha geli liat kakinya gerak gerak bersamaan -___-

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kaki seribu juga geli sij mas tp ga separah ulat.

      Delete
  5. Replies
    1. Hehe...saya malah nggak takut cuma kadang sebel liat cicak kl pas ngrubungin nasi gitu.

      Delete
  6. Hi..hi, takut ulat yaaa.... Aku nggak ki mbak.....biasa wae. Dulu pas kecil, takute sama luing soale ktnya ngisep darah....btw, luing makan apa tho?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Luwing yg ngentup itu ya? Apa sing merah kl dipegang mlengkuwer?

      Delete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Sila berkomentar dengan baik dan sopan. Mohon maaf, segala komentar spam, yang berisi link hidup atau yang menyebabkan broken link serta komentar yang mencantumkan identitas tidak jelas akan dihapus.

Popular posts from this blog

Kegiatan Ibu Rumah Tangga Saat Anak Sudah Beranjak Dewasa

Disclosure: Tulisan ini merupakan artikel bersponsor


“Kamu enak, Dek, masih punya anak kecil. Anakku udah remaja, apa-apa maunya dia lakukan sendiri,” curhat seorang saudara saya.

“Mau apa nanti aku, ya, jadi ibu rumah tangga saat anak sudah beranjak dewasa?”

Saya cuma bisa nyengir saja. Sama deh, saya juga ibu rumah tangga. Beberapa tahun lagi mungkin saya bakalan mengalami hal ini juga. Banyak tuh ibu-ibu yang bercerita, dulunya si anak mau diajak ke mana-mana. Sekarang? Boro-boro diajak, anaknya aja jarang ada di rumah.

Dulu, pas repot-repotnya mengurus anak balita, kita inginnya anak kita cepat besar, biar lebih enteng. Eh, setelah anak benar-benar besar dan mandiri, kita juga kebingungan mau ngapain di rumah seharian. Istighfar.

“Ngurus Posyandu aja, Mbak,” jawab saya iseng.

Saudara saya itu tinggal di perumahan model cluster di wilayah Solo Baru, Jawa Tengah. Kota satelitnya Solo ini termasuk yang cepat berkembang. Maklumlah, Solo memang salah satu kota besar di Jawa Tengah. Pen…

Mengurus Lapor Jual Kendaraan

Siang ini saya mengurus lapor jual kendaraan ke Samsat Polres Kabupaten Madiun. Untuk apa mengurus lapor jual kendaraan? Lapor jual dilakukan saat seseorang menjual kendaraan bermotornya. Mengapa harus dilaporkan? Hal ini berkenaan dengan pajak kendaraan bermotor. Kendaraan yang telah dijual namun belum dilaporkan akan tetap dikenai pajak atas nama pemilik lama. Jika pemilik lama memiliki kendaraan lebih dari satu, sesuai Peraturan Pemerintah dikenai pajak progresif.
Kendaraan yang dikenai pajak progresif adalah mobil dan sepeda motor dengan kapasitas mesin di atas 250 cc. Jika seseorang memiliki kendaraan dua buah, makai dikenai pajak progresif 2% dari Nilai Jual Kendaraan Bermotor. Jika tiga buah, pajak progresifnya 2,5%; dan seterusnya.

Cara Menonaktifkan Fitur Talkback Pada HP Samsung Galaxy Core Duo

Ini adalah cerita cara menonaktifkan fitur Talkback pada HP Samsung Galaxy Core Duo. Minggu lalu, tiba-tiba anak saya yang kecil lapor ke saya, "Bu, talkback itu gunanya untuk mengunci HP." Naluri saya bekerja, apa maksudnya mengunci? Ternyata betul, si Mas sedang berjuang mengembalikan settingan HP ayahnya yang dia utak-atik. Sejurus kemudian, dengan muka memelas, si Mas meminta bantuan saya.Kejadian ini bukan pertama kalinya. Sudah kesekian kali si Mas bikin kecelakaan pada HP. Kecelakaannya pun bermacam-macam. Anehnya, HP ayahnya pula yang kena, padahal HP itu lebih penting daripada HP saya. Iya sih, HP saya kalah canggih jadi baru dilirik kala HP si Ayah tak ada.