Skip to main content

Jilbab Gadis vs Hijab Ibu-ibu

jilbab


Zaman dulu, waktu saya masih kecil, istilah yang dipakai untuk kain penutup kepala adalah 'kerudung' alias 'kudung'. Lalu istilah kerudung banyak ditinggalkan saat hadir istilah 'jilbab'. Intinya sama, kain penutup kepala. Hanya saja, saat itu kerudung bermakna lebih luas, bentuk atau model seperti apa saja asal dimaksudkan sebagai penutup kepala maka dikategorikan sebagai kerudung meski sebagian rambut, telinga dan leher masih terlihat (jadi ingat Red Riding Hood).

Sedangkan jilbab bermakna lebih khusus, yaitu kain yang dipakai sebagai penutup kepala, telinga dan leher serta sebagian dada. Bahkan di tahun 1990-an ada pengelompokan jilbab menjadi dua, yaitu jilbab dan jilbib. Jilbib ini ukurannya lebih mini daripada jilbab pada umumnya. Maklum, saat itu pemakaian jilbab sedang menggeliat, salah satunya diawali dengan populernya syair Emha Ainun Najib Lautan Jilbab di tahun 1980-an. Meskipun mendapat tekanan dari sana-sini dan juga karena iklim pemerintah saat itu kental diwarnai islamophobia, jilbab terus naik daun hingga akhirnya menjadi model busana yang dipakai banyak kalangan dengan beragam gaya dan corak.

Belakangan muncul istilah 'hijab', yang menurut saya lebih khusus lagi daripada istilah jilbab tadi. Hijab digambarkan sebagai jilbab syar'i yang lebih besar, berwarna tak terlalu mencolok, dikenakan bersama dengan busana yang juga syar'i. Semoga nasib hijab ini tak seperti jilbab yang kemudian punya 'adik' bernama jilbib.
Dalam keseharian, saya melihat pemakaian jilbab lebih beragam dibandingkan dengan hijab. Jilbab biasa juga dipakai dalam acara tertentu seperti pernikahan, wisuda, menyambangi orang sakit atau meninggal dunia, sekolah atau kuliah dan bekerja. Selebihnya, jilbab ditanggalkan. Jilbab seolah hanya sebagai pakaian dinas saja.

Tetapi, hijab, yang saya lihat, lebih baik nasibnya. Ia dipakai di mana pun pemakainya berada, kecuali di dalam rumah. Tampilannya pun biasanya sederhana dilihat dari potongan dan coraknya. Jarang saya lihat muslimah berhijab yang mengenakan hijab warna jreng atau motif-motif ramai nan mengundang decak. Kebanyakan memilih warna kalem, lembut tapi tidak pinky-pinky, bahkan warna gelap. Pun tak banyak yang bermotif. Jika ada biasanya dipadu dengan kain polos.

Saya sendiri saat masih single suka mengenakan jilbab. Waktu itu jilbab yang banyak beredar adalah jilbab kain segi empat. Saat masih bekerja kantoran pun saya mengenakan jilbab seperti ini. Dipadu dengan atasan dan celana panjang serta kaos kaki. Lucunya, kaos kaki ini pun saya padankan warnanya dengan jilbab dan atasan. Koleksi kaos kaki saya cukup banyak waktu itu. Ada ungu, oranye, merah, kuning, krem dan putih. Saat itu saya menghindar dari warna hitam. Termasuk jilbab hitam, saya tidak punya.

Setelah menikah dan punya anak, gaya saya berubah. Sekarang saya lebih suka mengenakan rok dibandingkan celana panjang. Bahkan saat ini saya hanya punya satu setel celana panjang! Rok dan atasan yang panjang hingga menutup pantat adalah pakaian wajib saya. Dipadu dengan jilbab panjang menutup dada hingga perut. Sepertinya tidak praktis ya, namun saya sadar bahwa seharusnya memang seperti itu. Sebab bentuk tubuh seseorang yang pernah melahirkan memang berbeda. Jadi saya merasa lebih aman dan tentram berada di balik hijab.

Lalu, apakah dengan begitu saya bisa tampil bergaya? Tentu bisa. Pilihan warna yang beragam bisa jadi salah satu caranya. Asal tidak mencolok dan mengundang perhatian karena saking anehnya. Cara lain adalah dengan menyetok jilbab dengan warna-warna wajib seperti putih, krem, hitam (sekarang saya tidak lagi antihitam :-) ), serta padu padankan busana. Mau model gamis atau two pieces, hijab gaya tanpa banyak biaya siap dikenakan!

Comments

  1. Jilbab adek saya banyak sekali, warna-warnanya komplet dan yang paling suka sih dia suka bikin model-model gitu jadi kelihatan selalu cantik.
    Kadang juga dia suka main-main dengan pashmina koleksi saya :)

    Salam kenal :)

    ReplyDelete
  2. wah...banyak koleksi menyenangkan ya...salam kenal jg.

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Sila berkomentar dengan baik dan sopan. Mohon maaf, segala komentar spam, yang berisi link hidup atau yang menyebabkan broken link serta komentar yang mencantumkan identitas tidak jelas akan dihapus.

Popular posts from this blog

Kegiatan Ibu Rumah Tangga Saat Anak Sudah Beranjak Dewasa

Disclosure: Tulisan ini merupakan artikel bersponsor


“Kamu enak, Dek, masih punya anak kecil. Anakku udah remaja, apa-apa maunya dia lakukan sendiri,” curhat seorang saudara saya.

“Mau apa nanti aku, ya, jadi ibu rumah tangga saat anak sudah beranjak dewasa?”

Saya cuma bisa nyengir saja. Sama deh, saya juga ibu rumah tangga. Beberapa tahun lagi mungkin saya bakalan mengalami hal ini juga. Banyak tuh ibu-ibu yang bercerita, dulunya si anak mau diajak ke mana-mana. Sekarang? Boro-boro diajak, anaknya aja jarang ada di rumah.

Dulu, pas repot-repotnya mengurus anak balita, kita inginnya anak kita cepat besar, biar lebih enteng. Eh, setelah anak benar-benar besar dan mandiri, kita juga kebingungan mau ngapain di rumah seharian. Istighfar.

“Ngurus Posyandu aja, Mbak,” jawab saya iseng.

Saudara saya itu tinggal di perumahan model cluster di wilayah Solo Baru, Jawa Tengah. Kota satelitnya Solo ini termasuk yang cepat berkembang. Maklumlah, Solo memang salah satu kota besar di Jawa Tengah. Pen…

Mengurus Lapor Jual Kendaraan

Siang ini saya mengurus lapor jual kendaraan ke Samsat Polres Kabupaten Madiun. Untuk apa mengurus lapor jual kendaraan? Lapor jual dilakukan saat seseorang menjual kendaraan bermotornya. Mengapa harus dilaporkan? Hal ini berkenaan dengan pajak kendaraan bermotor. Kendaraan yang telah dijual namun belum dilaporkan akan tetap dikenai pajak atas nama pemilik lama. Jika pemilik lama memiliki kendaraan lebih dari satu, sesuai Peraturan Pemerintah dikenai pajak progresif.
Kendaraan yang dikenai pajak progresif adalah mobil dan sepeda motor dengan kapasitas mesin di atas 250 cc. Jika seseorang memiliki kendaraan dua buah, makai dikenai pajak progresif 2% dari Nilai Jual Kendaraan Bermotor. Jika tiga buah, pajak progresifnya 2,5%; dan seterusnya.

Cara Menonaktifkan Fitur Talkback Pada HP Samsung Galaxy Core Duo

Ini adalah cerita cara menonaktifkan fitur Talkback pada HP Samsung Galaxy Core Duo. Minggu lalu, tiba-tiba anak saya yang kecil lapor ke saya, "Bu, talkback itu gunanya untuk mengunci HP." Naluri saya bekerja, apa maksudnya mengunci? Ternyata betul, si Mas sedang berjuang mengembalikan settingan HP ayahnya yang dia utak-atik. Sejurus kemudian, dengan muka memelas, si Mas meminta bantuan saya.Kejadian ini bukan pertama kalinya. Sudah kesekian kali si Mas bikin kecelakaan pada HP. Kecelakaannya pun bermacam-macam. Anehnya, HP ayahnya pula yang kena, padahal HP itu lebih penting daripada HP saya. Iya sih, HP saya kalah canggih jadi baru dilirik kala HP si Ayah tak ada.