Dua Tawanan Saya

"Bu, mohon maaf. Saya mau diskusi sebentar. Demi kebaikan anak-anak kita juga sih, Bu."

Tiga penggal kalimat itu berhasil menahan kaki saya untuk tetap diam menjejak bumi. Bukan sekali ini sebetulnya ajakan diskusi ini terjadi. Yang sebelumnya malah saya yang mengajaknya diskusi duluan.

Saya pun mengiyakan ajakan itu demi kebaikan bersama. Demi kebaikan dua tawanan saya tentunya.

"Kemarin anak saya bilang begini...bla-bla-bla...lalu saya marahi dia."

Saya diam mendengarkan. Setelah selesai pembukaan dari lawan bicara saya, barulah saya menyambungnya dengan kasus yang saya hadapi.

Lawan diskusi saya tadi itu adalah ibunya teman anak saya. Usia anak-anak kami cuma berselisih 1 tahun. Laki-laki dan bersekolah di SD yang sama, jadi sangat wajar kalau mereka berteman. Anak-anak itu baru saja bikin 'ulah', dan kami, orang tua mereka, harus kompak mengatakan hal yang sama agar mereka paham soal salah-benarnya.

Konon katanya punya anak laki-laki itu bikin lelah karena mereka seperti tak pernah kehabisan tenaga. Tapi barangkali anak perempuan juga sama saja. Entahlah. Saya tidak punya anak perempuan. Yang jelas, anak seusia itu sedang dalam masa mulai suka mendebat orang tuanya. Inilah PR besar buat saya, terlebih karena saya punya tiga anak laki-laki. Dua tawanan dan satu raja.

"Perlakukan anakmu seperti raja ketika mereka berusia 0-7 tahun. Perlakukan mereka bagai tawanan di usia 8-14 tahun dan bagai sahabat di kala mereka 15-21 tahun." (Ali bin Abi Tholib)

Ya, dua tawanan saya itu anak pertama dan kedua saya. Yang sulung suka bicara ceplas-ceplos, segala hal diceritakan. Yang nomer dua anaknya saklek, suka matematika dan astronomi tapi ga suka punya banyak teman. Saya masih ingat bagaimana dulu penurutnya kedua anak itu. Di usia pra baligh, kini semua tinggal cerita. Kedua anak saya itu mulai menguji kesabaran dan kesadaran saya sebagai orang tua. Di sinilah terlihat kalau saya masih seperti mereka, jiwa anak kecil yang terjebak dalam tubuh renta berusia 40 tahun. Inner child, kata orang.

Seringkali keadaan penuh perdebatan dengan anak ini bikin spaneng, stres dan bisa melemahkan tubuh. Saya jadi kerap uring-uringan dan dilanda kelelahan. Persis seperti orang habis sakit. Lemas dan kurang berenergi. Gawatnya, kadang berlanjut jadi sakit betulan.

Sakit di usia segini ini lain rasanya. Penyakit ringan terasa mulai berat. Sepertinya si penyakit itu juga makin betah saja hinggap di tubuh. Padahal saya tidak boleh sakit atau kalau sakit jangan lama-lama, karena saya masih punya satu raja yang harus dirawat: si adek bayi yang saat ini baru berusia 6 bulan. Perlulah saya vitamin yang bagus untuk mempercepat masa penyembuhan seperti Theragran-M.

Theragran-M ini merupakan paduan multivitamin dan mineral. Ada Vitamin A, Vitamin B, Vitamin C, Vitamin D, Vitamin E dan mineral esensial seperti Magnesium dan Zinc. Theragran-M bisa dikonsumsi sekali sehari. Aman karena sudah diresepkan para dokter sejak 1976. Wah, sudah eksis sejak sebelum saya lahir lho.

Mengoreksi Diri Demi Dua Tawanan Saya

Siang tadi, tawanan saya yang paling besar kembali unjuk rasa. Dia meminta sebuah kesepakatan agar saya tidak terlalu cerewet kepadanya. Ya, saya tahu diri, dulu di usia segitu saya juga paling sebal kalau dimarahi dan disuruh-suruh oleh ibu saya. Jadi, kalau kali ini saya yang dituntut balik, okelah, saya terima.

Beberapa poin yang kami sepakati antara lain adalah: pulang sekolah segera ganti baju, letakkan sepatu di tempatnya, keluarkan wadah makan siang dari tas; setelah dengar adzan atau masuk waktu sholat segera sholat; mandi pada waktunya.

Semua poin itu disanggupi anak sulung saya. Lalu saya pun sepakat tidak akan menyuruh-nyuruh anak saya melakukannya, tapi saya boleh memberi peringatan dan hukuman kalau sampai batas waktu yang ditentukan bersama tugas itu belum juga dilaksanakan. Bentuk hukuman akan dibicarakan belakangan.

Baik. Sepakat.

Beginilah pendekatan ke anak usia 8-14 tahun. Mereka bagai tawanan bagi saya yang berarti harus selalu saya awasi gerak-geriknya, diberi batasan tegas serta hukuman dan hadiah atas kinerjanya. Tawanan juga berarti sesuatu yang sangat penting. Tawanan lepas berarti kerugian, sebab tak bisa ada pertukaran.

Di 2018 Dan Seterusnya, Inilah Keinginan Besar Saya Untuk Mengawal Dua Tawanan Saya

Saya sadar, cara saya menangani tawanan saya selama ini keliru. Besar. Saya harus segera ambil langkah drastis agar saya tidak salah jalan dan kehilangan tawanan berharga saya.

Saya juga sadar bahwa tiap anak memiliki karakter berbeda yang menyebabkan cara pendekatan yang juga harus berbeda, tetapi secara umum mereka tidak suka hidup mereka terlalu dicereweti.

Saya harus berjanji kepada diri sendiri untuk mengoreksi cara saya. Dan yang paling utama dan pertama yang harus saya perbaiki adalah: mengurangi berbicara reaktif. Saya bertekad saya harus lebih menahan lisan saya dari mengkritik mereka. Inilah yang saya sumpahkan kepada diri sendiri. Saya harus mengurangi kritikan saya kepada tawanan saya. Tahan. Tahan. Tahan.

Harapan saya dengan menahan diri ini emosi saya tidak naik-turun sesukanya. Emosi yang stabil insya Alloh bisa menyeimbangkan hidup. Lebih menerima, lebih memaklumi, lebih mengayomi.

Ya, itulah cerita seputar dua tawanan saya. Saya masih harus banyak belajar dan berlatih. Semoga di tahun-tahun ke depan saya bisa menjaga tawanan saya dengan baik sampai tiba masanya nanti saya bebaskan mereka agar menjadi sahabat saya.

Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan Network dan Theragran-M.

Comments

  1. Samaaa...dimata raka aku adalah ibu yang bnyk meminta...tas nya taruh di dlm ( bukan dpn pintu)...kaos kaki taruh di kranjang, bukan berserakan.. mandi, sudah sore... Tvnya matikan..sudah maghrib...


    Ahh..kok serupa mba

    ReplyDelete
  2. Ibuk jangan marah2 terus nanti cepat tua, kata Alfi yang bikin emaknya instropeksi diri dan ga banyak nuntut ini itu ke bocah 5 tahun :).

    ReplyDelete
  3. Anak2ku cowok cewek dua2nya sama aja gak bisa diem hahaha :P
    Salah satu resolusi saya juga mau mengkoreksi cara saya mengasuh anak mbak, moga2 terlaksana yaaaa :D

    ReplyDelete
  4. PR banget ya mba punya anak laki-laki hehe, sehat selalu ya mba semoga anak-anaknya jadi anak sholeh..

    ReplyDelete
  5. Sehat terus ya mbaa dalam menjaga tawanannya :)

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Sila berkomentar dengan baik dan sopan. Mohon maaf, segala komentar spam, yang berisi link hidup atau yang menyebabkan broken link serta komentar yang mencantumkan identitas tidak jelas akan dihapus.

Popular Posts