Sebelum Ke Pasar

Ke pasar. Dulu saya paling benci kalau disuruh ibu ke pasar. Benciii banget. Kalau boleh nawar minta tukar kerjaan, rasanya mau-mau aja. Mending nyapu, ngepel, nyuci, kasih makan ayam deh daripada ke pasar. Beneran!

Pasar itu selain jauh dari rumah juga kotor dan kumuh. Malesin pokoknya. Tapi yang bikin saya benci ke pasar adalah para penjualnya. Nah lho. Ada apa?

Dulu tiap mau ke pasar, ibu saya selalu membekali saya dengan catatan. Beli tempe sepuluh biji, kacang tanah seperempat, bawang merah satu ons, dst, dll, dsb. Ngenesnya, meski udah dibekali catatan gitu kadang meleset dari aturan. Gimana nggak, lha wong nggak jarang para bakul di pasar itu nawar ke saya. Lho penjual kok malah nawar. Nawarnya gini lho, "Mbok ya beli bawang merah itu seperempat, jangan satu ons." Sudah gitu kadang pakai nertawain. Astaghfirullah. Lha wong sini ini masih bocah cilik je diketawain gara-gara dianggap nggak paham ukuran minimal belanja suatu barang. Hhhh...

Malesin banget nggak digituin?

Jadilah tiap disuruh ke pasar saya harus meyakinkan ibu saya dulu, boleh nggak nih beli cabe dua puluh lima rupiah? Eits, itu zaman dulu banget pas kurs dollar masih 2.500.

Baca juga: Bisa Nitip Anak Saat Belanja Di Pasar Pagottan

Pas sudah nikah dan pindah ke pinggiran ibukota saya kesandung masalah pasar lagi. Kali ini soal nama atau istilah.

Pertama kali masuk pasar, saya dengan penuh semangat belanja. Ketemulah saya sama si singkong. Pingin beli. Mampir ke los itu.

"Ketelanya satu kilo, ya," kata saya.
"Oh, singkong?" tanya si penjual.
"Eh iya, singkong," jawab saya sambil membatin, iya ya Bahasa Indonesianya ketela pohon tuh singkong. Kalau di Jogja sih telo. Ketahuan deh orang baru. Hahaha...

Gambar dari http://nationalgeographic.co.id/berita/2016/06/melestarikan-pasar-tradisional-melestarikan-budaya-bangsa

Ada lagi ceritanya pas belanja di abang tukang sayur.

"Ikan kranjangan ada?" tanya saya.
"Kranjangan? Cuwe maksudnya?"

Aih...iya. Di sini namanya cuwe. Jadi tetangga saya sering bilang masak cuwe tu ternyata masak ikan kranjangan to? Oalahhh...

Biar Nggak Benci Pasar, Tanya Dulu Sebelum Ke Pasar

Nah, dua alasan tadi: nggak tahu ukuran minimal pembelian dan nggak tahu istilah setempat itu yang bikin saya benci ke pasar. Emang enak diketawain?

Tapi sebagai ibu, sekarang saya mau nggak mau ya harus akrab dengan pasar. Gimana coba?

Pikir punya pikir, alangkah enaknya kalau sebelum ke pasar kita sudah menguasai info pasar. Baik harga, ukuran minimal atau ukuran kewajaran pembelian, istilah yang dipakai dan letak los-los penjual. Bisa dengan pede tuh blusukan ke pasar. Kan di zaman sekarang ini siapa yang menguasai informasi dialah pemenangnya.

Baca juga: Pasar Tradisional dan Barang Gembolan

Enak juga kalau semua informasi itu bisa didapat lewat mobile gadget kita. Misalnya lewat aplikasi 'Sebelum Ke Pasar' yang saya bayangkan.

Di aplikasi ini tersedia informasi tentang pasar di wilayah setempat lengkap dengan denahnya sehingga memudahkan calon pengunjung atur strategi mau parkir di mana, belanja apa terlebih dahulu biar satu jalur.

Ada informasi tentang harga terkini dan minimal pembelian sesuai kewajaran setempat. Misal beli wortel 2.000 masih wajar, nggak akan diketawain. Atau beli telur seperempat kilo. Biar nggak ada lagi cerita orang mau beli minyak goreng satu ons. Tak kalah pentingnya juga ada info istilah setempat, seperti nama barang dan nama satuan. Kan ada tuh misalnya tempe sejinah dapat 10 bungkus, misalnya.

Ibu-ibu dan mbak-mbak, juga bapak-bapak dan mas-mas yang belum akrab dengan pasar bisa hepi nih. Nggak akan kagok atau malu gara-gara salah tanya. Juga bisa sangat membantu buat yang sedang dalam perjalanan atau baru pindah .

Sudah ada atau belum, ya, aplikasi semacam ini?

Sebelum Ke Pasar, Sumbangan Ide Untuk IWIC 2017

Aplikasi khayalan saya itu sebetulnya untuk menjawab tantangan IWIC, Indosat Wireless Innovation Contest 2017. Tahun ini merupakan IWIC ke-11.

Di IWIC, siapa saja boleh ikut untuk mengeluarkan ide membuat aplikasi mobile atau pun start-up. Ibu-ibu rumahan kayak saya pun boleh ikut lho. Sebab ibu rumahan pun menghadapi masalah dan butuh penyelesaian. Ayok, Bu, telurkan ide-ide gila nan brilian kalian. Coba deh tulis ide kalian dan daftarkan ke sini.

Biar apa sih ikutan sumbang ide? Yang jelas jadi ladang beramal. Kebayang nggak, Bu, ide kita dijadikan kenyataan dan kemudian mendatangkan banyak manfaat?

Lha terus ngembanginnya gimana? Tenang...kalau ide Ibu terpilih, akan ada mentoring dari pakar, publikasi, pengalaman kunjungan ke tempat ide keren lahir dan, yang jelas, hadiahnya!

Ikut, yuk! Tantang diri sendiri di IWIC 2017. Sampai 20 November saja pendaftarannya, ya. Yuk, yuk!

Comments

  1. wahh siapp, istri saya harus baca nih artikel nya, sukur2 klo mau daftar IWIC juga, hehe.. Trims mba artikelnya menghibur tapi tetep informatif, siapp

    ReplyDelete
  2. Mau ikut IWIC juga ah, semoga ide ku masuk :)

    ReplyDelete
  3. jaid kepingin juga ikut IWIC, daftar ah

    ReplyDelete
  4. wah bagus juga ya idenya itu, jd kalau ke pasar sdh gak bingung lagi

    ReplyDelete
  5. Semacam panduan singkat ttng pasar ya mba..?

    Dunia ibu pokoknya. Maksimalkan fungsi gadget pokoknya.

    ReplyDelete
  6. Aku pernah diceritain karyawanku. Jadi dia baru menikah dan tinggal di kampung dengan suku berbeda. Pas ke pasar, dia beli kangkung di nenek-nenek. Ternyata si nenek nggak bisa bahasa Jawa dan sepertinya nggak bisa bahasa Indonesia. Mana karyawanku juga gak ngerti bahasa setempat. :V Hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha...nah itu mbak, kejadian yang tak terlupakan.

      Delete
  7. Hehehehe iya, ya? Singkong dan ketela pohon itu sama. :v

    ReplyDelete
    Replies
    1. bener, mbak. meski udah tahu tapi tetep aja salah ngomong ya, hahaha...

      Delete
  8. mantap idenya mba hahaha aku ya kalo ke pasar juga suka was2 kalau bawa uang terbatas takutnya naik harga2nya dan gagal beli ini itu karena kenaikan yang ga tau :) sakses mba

    ReplyDelete
    Replies
    1. kalo saya kadang ke pasar jadi melebihi budget. ya gmana, sama pnjualnya dipasin mlulu. "sekalian setengah kilo, yaaaa..." gimanaaa coba kalo gitu.

      Delete
  9. Aku kira aplikasi itu udah ada tau mbak,ternyata hehe....tapi,itu ide yg cemerlang lo. Bener2 membantu emak2 kayak saya yang kalo ke pasar belinya g kira2 hehehe...

    ReplyDelete
    Replies
    1. udah ada ya mbak? hihihi...saya juga nyoba-nyoba aja ini.

      Delete
  10. Kemarin aku download aplikasi tukang sayur, tapi belum sempat beli di situ. Karena aku malah lebih asyik peri ke pasar, hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. tukang sayur tuh kitanya pesan lewa app trus dia yg beliin gitu ya? kita tinggal duduk manis, pesanan datang gitu kah?

      Delete
  11. Brilian ih idenya mbak... Kalau aku kira-kira mau nyumbang ide apa ya buat iwcc

    ReplyDelete
    Replies
    1. ayo deh, sumbangannya mbak. demi martabat bangsa.

      Delete
  12. Brilian ih idenya mbak... Kalau aku kira-kira mau nyumbang ide apa ya buat iwcc

    ReplyDelete
  13. Keren juga aplikasinya. Aku jarang ke pasar karena belanjaanku nggak banyak. Biasanya ke warung dekat rumah saja.

    ReplyDelete
    Replies
    1. kalo saya nungguin pak sayur lewat mbak. kecuali kalo lagi pingin banget ke pasar.

      Delete
  14. Baik ke pasar ataupun ke warung sayur dekat rumah, saya memang selalu tanya, paling sedikit boleh belinya berapa? Terkadang ada yg hahah heheh, "Beli mah ya suka2 pembeli, heheheh..." atau "Ya terserah. Diborong semua juga boleh, heheheh..." Udah pasti saya tinggal itu kedai. Saya mau masak, bukan mau hahah heheh :D

    ReplyDelete
  15. Di awal geli-geli ketawa, ujungnya pengen juga ikutan.. :D

    ReplyDelete
  16. kalo saya males ke pasar itu karena gak bisa nawar. ada hal2 atau brg2 yg dibeli mesti ditawar dulu kalo di pasar, dan ini saya gak bisa hehe jatohnya malah kejebak sama harga yg mahal

    ReplyDelete
  17. Hihi seru banget tuh mbak aplikasi pasarnya..

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Sila berkomentar dengan baik dan sopan. Mohon maaf, segala komentar spam, yang berisi link hidup atau yang menyebabkan broken link serta komentar yang mencantumkan identitas tidak jelas akan dihapus.

Popular Posts