Pembajakan Tenaga Kerja

"Tempatnya Pak Totok orangnya ganti semua," ujar teman kerja saya yang baru saja datang dari tempat pemesanan spanduk.

Saya tahu betul yang dimaksud 'ganti semuanya' adalah 'ganti sebagian besar'. Ya kadang kita suka hiperbola kan ya.

"Jadi kalau pesan spanduk sekarang nggak bisa cepat. Orangnya baru," terang teman saya tadi.

Rupanya pegawai di tempat pemesanan spanduk itu pindah beramai-ramai ke perusahaan lain. Macam migrasi aja, ya. Ini mungkin yang disebut pembajakan tenaga kerja. Bukan cuma laut dan sawah saja yang bisa dibajak ternyata, ya?

Pembajakan tenaga kerja umumnya dilakukan oleh pesaing suatu perusahaan dengan cara menawarkan iming-iming gaji dan fasilitas yang lebih besar dengan beban pekerjaan yang sama kepada pegawai perusahaan saingannya. Biasanya menimpa pegawai yang prestasinya baik pula. Jadilah saat pegawai tersebut pindah kerja ke perusahaan lain karena tergoda iming-iming tadi, perusahaan yang ditinggalkan merasa kewalahan. Apalagi kalau yang pindah itu berombongan. Wuih...kejam nian, ya.

Sebetulnya pindah kerja itu sah-sah saja asalkan dengan cara yang baik. Terutama kalau perusahaan pertama memperlakukan pegawainya dengan relatif baik. Kalau saya sih melihat pembajakan tenaga kerja ini secara moral nilainya negatif. Gimana nggak, perusahaan yang ditinggalkan bisa mengalami kegoncangan hebat seperti kasus perusahaan Pak Totok tadi. Merugikan, gitu. Sudahlah keluar biaya, tenaga dan waktu untuk melatih si pegawai, eh, setelah piawai malah kabur ke perusahaan saingan. Nyesek, kan?

Buat saya sih aneh aja kalau ada perusahaan yang membajak tenaga kerja, kok ya segitunya. Apa nggak ada cara lain untuk cari pegawai yang mumpuni. Pegawai yang dibajak pun menurut saya aneh. Sepanjang perusahaan pertama memperlakukannya dengan baik, kenapa mau pindah ke perusahaan pesaing? Teganya, gitu.

Lain perkara kalau perusahaannya kurang care sama pegawainya. Kurang care itu misalnya sering telat saat gajian atau nggak ada THR. Kalau soal suasana kerja ada pengaruhnya juga sih, tapi mungkin bukan masuk kategori perusahaan tidak care.

Nah, pas masih kerja di periklanan dulu, aset perusahaan tempat saya bekerja adalah divisi kreatif dan marketing. Sudah, dua ujung tombak itu harus dijaga mati-matian agar tidak bisa terbajak. Apalagi iklim persaingan kala itu keras. Beda persen sedikit saja (calon) klien bisa pindah ke lain agency.

Saya masih ingat bagaimana dulu Pak Boss berusaha mengubah cara pikir klien dari sekedar cari yang murah ke cari yang lebih pelayanannya. Termasuk menampilkan karya terbaik agar dapat penghargaan di ajang Pinasthika Award agar klien betah. Demi apa? Demi bisa menggaji ujung tombak tadi yang tentu saja menentukan hidup-matinya perusahaan.

Duh, cerita soal pembajakan tenaga kerjanya kok sampai mana-mana? Haha...iya, soalnya berhubungan erat sih. Nah, teman-teman punya cerita juga soal pembajakan tenaga kerja ini? Dibajak atau membajak? *eh* Boleh dong bagi ceritanya! Yuk, yuk.

Comments

  1. aku pernah mbaa...aku yang 'dibajak' hehehe..jadi pindah ke departemen lain...agak awkward memang tapi memang jadi pelajaran tersendiri

    ReplyDelete
  2. Berarti Mbak Indah prestasinya bagus ya, makanya jadi incaran hehe...

    ReplyDelete
  3. Dunia broadcast juga sering mba.. Biasanya yang diincar yang potensial2 gitu.. Banyak asset SDM tv lokal yang pindah ke nasional.
    Tapi krn tv nasional mmng lebih menjanjikan.. Jadi yang dibajak sepertinya menikmati.

    ReplyDelete
  4. Kadang masalahnya tidak semata-mata uang tapi juga working environment yang nyaman meski targetnya tinggi dan pekerjaan menantang.

    ReplyDelete
  5. Kasihan ya perusahaan yang tenaganya dibajak. Tapi, yang melakukan itu mana peduli, ya Mak?

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Sila berkomentar dengan baik dan sopan. Mohon maaf, segala komentar spam, yang berisi link hidup atau yang menyebabkan broken link serta komentar yang mencantumkan identitas tidak jelas akan dihapus.

Popular Posts