Tentang Rasa Sakit Saat Melahirkan

Pekan ini kehamilan saya memasuki usia 35 minggu. Berarti kira-kira 4 – 5 minggu lagi bayi saya sudah akan lahir insya Alloh. Rasanya gimana? Senang, takjub, sekaligus keder. Senang karena akan segera ketemu dedek bayi. Penasaran dong sama wajahnya, mirip siapa, kayak apa warna kulitnya, rambutnya dan seterusnya. Takjub karena nggak percaya kalau anak saya akan bertambah satu lagi. Alhamdulillaah. Keder? Iya, keder menghadapi rasa sakit saat melahirkan.

Sudah bukan rahasia lagi kalau yang namanya melahirkan itu rasanya sakit. Sakit pakai banget, kata orang-orang, dan kata saya.

Melahirkan memang sudah jadi fitrahnya perempuan. Tidak ada laki-laki yang bisa menggantikan tugas ini: mengandung dan melahirkan. Mengandung sendiri sudah penuh dengan dinamika, ditambah lagi melahirkan yang merupakan perjuangan antara hidup dan mati. Tidak jarang ibu meninggal dunia karena melahirkan. Meski pahalanya sama dengan orang yang mati syahid, namun rasanya tak ada ibu yang ingin meninggal saat melahirkan.

Apa betul semua proses melahirkan itu sakit? Kan ada tuh ibu yang melahirkan melalui operasi caesar yang katanya nggak sakit? Oh, jangan salah. Sakitnya mungkin tidak sesakit ibu melahirkan secara normal, ya, tapi tetap saja sakit. Bahkan ada yang rasa sakitnya bertahan sampai bertahun-tahun. Contohnya saya. Saya sudah melahirkan dua kali dengan dua cara. Yang pertama secara vaginal dan yang kedua melalui operasi caesar.

Baca juga: Karena Setiap Kehamilan Itu Istimewa

Bedanya jika melahirkan secara vaginal harus berjuang dulu merasakan kontraksi rahim yang rasanya aduhai selama berjam-jam. Kalau boleh saya deskripsikan, rasanya kontraksi itu seperti kram hebat yang terus-menerus di daerah panggul. Kontraksi rahim sendiri terjadi karena rahim sedang berusaha mengeluarkan sang jabang bayi. Iramanya teratur. Makin lama makin sering dan makin panjang durasinya.

Sedangkan melahirkan dengan operasi caesar mungkin bisa menghindari rasa sakit akibat kontraksi karena tidak melalui tahap itu, melainkan bayi langsung dilahirkan melalui sayatan di perut. Tapi, ada juga ibu yang melahirkan melalui operasi caesar namun juga merasakan kontraksi. Contohnya saya lagi, hehe... Kelahiran anak kedua saya diakhiri dengan operasi caesar setelah saya gagal mengejan pada pembukaan sempurna. Ceritanya lengkapnya bisa dibaca di sini: Kehamilan Yang Tak Direncanakan.


sakit-saat-melahirkan



Operasi caesar sendiri meninggalkan bekas luka sayatan yang lebar. Nah, ketika usai dioperasi, ibu yang melahirkan secara caesar tidak bisa menggunakan otot perutnya untuk apapun. Jangankan untuk duduk, untuk tertawa saja tidak sanggup, sebab rasanya sakit sekali. Dan, sakit pada luka sayatan ini bisa bertahan selama bertahun-tahun. Hingga anak kedua saya berusia 4 tahun, saya masih merasakan rasa nyeri di bagian sayatan. Jadi, jangan bilang  ibu melahirkan itu tidak sakit. Sakit semua, baik secara vaginal maupun melalui operasi caesar.

Sakitnya ibu yang akan melahirkan ini juga tidak bisa dijadikan patokan kadar dosa atau keimanan seseorang. Ya kali ada yang berpandangan begitu. Semua ibu melahirkan disertai rasa sakit. Bahkan seorang perempuan penghuni surga pun, Maryam, merasakan sakitnya melahirkan.

Kemudian rasa sakit akan melahirkan memaksanya (bersandar) pada pangkal pohon kurma. Ia (Maryam) berkata, “Wahai, betapa (baiknya) aku mati sebelum ini dan aku menjadi orang yang tidak diperhatikan dan dilupakan.”(Quran surat Maryam [19] ayat 23)

Bayangkan, perempuan pilihan sekelas Maryam pun merasakan sakitnya melahirkan!  Jadi, rasa sakit saat melahirkan itu adalah sesuatu yang lazim.

Mengelola Rasa Sakit Saat Melahirkan

Bagaimana agar tidak sakit saat melahirkan? Hmm...kalau soal ini saya belum bisa menjawab. Semua proses melahirkan yang saya lalui terasa sakit. Namun, ada kok cara MENGURANGI rasa sakit saat melahirkan.

Metode yang pernah saya pakai adalah metode pernapasan. Sebelum saya sempat baca buku mengenai melahirkan dan serba-serbinya, sudah ada teman yang menyarankan saya untuk mengatur napas saat melahirkan. Caranya tiap kali kontraksi datang, ambil napas panjang lewat hidung lalu hembuskan lewat mulut. Ini juga yang diajarkan bidan saya saat saya ikut kelas senam hamil dulu. Intinya kita berusaha memasok sebanyak mungkin oksigen ke dalam otak kita dengan cara mengambil napas dalam dan panjang.

Cara kedua adalah dengan pengalihan perhatian. Macam-macam caranya. Ada yang dengan mendengarkan musik, menonton TV, tidur, berjalan-jalan di sekitar, melantunkan doa atau bacaan Al-Quran. Saya pilih tidak mendengarkan musik saat akan melahirkan, sebab apa yang akan saya bawa ke hadapanTuhan kalau ternyata setelah melahirkan saya harus kembali ke hadirat-Nya? Saya memilih membaca bacaan dari Al-Quran semampu saya. Apa yang saya hafal, itu saya baca. Suami saya menyarankan banyak membaca Al-Fatihah, sebagaimana yang dipraktikkan ibu mertua dulu. Ibu mertua saya punya pengalaman 11 kali melahirkan lho. Jadi, sangat mungkin Al-Fatihah membantu proses kelahiran.

Baca juga: Cara Menghafal Juz Amma Untuk Para Ibu

Cara ketiga adalah dengan cara pijat. Pas sedang sakit-sakitnya, punggung bawah saya dipijat lembut oleh adik ipar saya. Betul lho, rasanya lebih enak. Sakitnya bisa berkurang. Ada juga yang menyarankan dikompres air hangat. Tapi saya sendiri belum pernah mencobanya.

Bolehkah Ibu Menangis Ketika Merasakan Sakit Saat  Melahirkan?

Menurut hemat saya sih, boleh-boleh saja. Asal sekadarnya, ya. Cukup merintih sambil mengeluarkan air mata, itu wajar. Namanya juga sakit. Tapi jangan sampai berteriak-teriak heboh seperti di sinetron, ya. Kerugian berteriak-teriak itu ada dua, yang pertama menghabiskan cadangan energi ibu yang seharusnya dihemat untuk mengejan nantinya. Yang kedua membuat ibu lain yang mungkin juga sedang berjuang melahirkan jadi ciut nyalinya. Apalagi bagi ibu yang baru pertama kali akan melahirkan.

Peran Suami Agar Istri Bisa Melalui Rasa Sakit Saat Melahirkan


Nah, ini poin yang juga sangat penting untuk dibahas. Para suami tentunya punya andil dong ya dalam kehamilan sang istri. Ketika saatnya melahirkan, para suami juga diharapkan turut serta dalam mendukung istri guna melalui rasa sakit saat melahirkan.

Yang perlu diingat, rasa sakit ini tidak bisa dipindahkan dari istri ke suami. Ada sih yang bilang kalau rasa sakit ini bisa dibebankan kepada suami, asal ada perjanjian terlebih dulu antara dua pihak. Kalau orang Jawa perjanjian itu dibuat saat pesta pernikahan. Si istri ‘mencuri’ keris suami dengan harapan kelak bila melahirkan sang suamilah yang merasakan mulas-mulasnya.

Saya sih baru pertama dengar ada istri yang bilang kalau dia tidak merasakan sakit saat proses melahirkan, melainkan suaminyalah yang merasakan mulas-mulasnya. Tapi saya juga tidak tahu persis itu kenapa. Benarkah bisa dipindah rasa sakit itu? Wah, kalau bisa, rasanya saya juga mau, hahaha...

Kembali ke peran suami, ya. Yang jelas dan harus adalah mendukung istri. Dukungan moral sangat besar pengaruhnya bagi istri. Suami yang hadir di ruang bersalin, suami yang menerima rintihan kesakitan si istri, suami yang bersedia tangannya diremas-remas istri saat merasakan sakit, adalah wujud tanggung jawab suami. Kata-kata lembut menyemangati istri juga bisa dibisikkan suami ke telinga istrinya.

Bagaimana kalau suami tidak bisa mendampingi istri karena sedang bertugas di luar kota atau luar negeri? Doakan dan berilah dukungan moral.

Ucapkan juga terima kasih kepada istri saat bayi berhasil dilahirkan. Bisikan, “Istriku hebat,” sudah bisa membuat istri yang kelelahan usai melahirkan menjadi berurai air mata haru. Betul, lho ini...

Selain dukungan moral, jangan lupa dukungan fisik dan finansial. Siapkan biaya melahirkan, siapkan perlengkapan ibu dan bayi, siapkan rumah agar siap dihuni bayi baru, siapkan juga diri saat dibutuhkan untuk menggendong bayi, memandikan dan seterusnya. Ya kan anaknya sendiri to, ga perlu malu dan sungkan.

Sudah, itu saja curhatan saya seputar rasa sakit saat melahirkan. Apapun caranya, melahirkan adalah sebuah proses alami yang harus dijalani setiap ibu yang ingin memiliki keturunan. Sakit saat melahirkan bukan perwujudan dosa seseorang, bahkan ibu yang meninggal dunia kala melahirkan mendapatkan pahala mati syahid. Keder kayak saya, boleh, wajar, normal. Tapi sudahlah, hadapi saja sambil berdoa agar proses melahirkan nanti lancar dan mudah. Mohon diaminkan ya, teman.

Tulisan ini merupakan kolaborasi dengan Mbak Ade Delina Putri dan Mbak Liza Permasih
dan tulisan Mbak Liza di Mulas Pasca Melahirkan, Wajarkah?

Comments

  1. Wow banget kan rasanya. Saya 7 kali. Bukan urusan kapok dan gak kapok.Tapi karena memang sudah takdir dari Allah Swt seperti itu.

    ReplyDelete
  2. Masya Allah ya jadi seorang ibu itu. Aku bener-bener baru ngerasain memang pas mau melahirkan hikz

    ReplyDelete
  3. rasa sakit itu berbeda ya setiap orangnay, harga ambangnya. ada yang sakit sedikits aja sdh terasa sakit, ada yang sakitnya tinggi tapi dia merasa biasa saja. Kalau aku pada melahirkan anak kedua gak bgt sakit kn sdh punya pengalaman anak pettama ya

    ReplyDelete
  4. Seminggu lalu saya lahiran anak pertama rasa mulesnya kayak mau haid, Alhamdulillah berayukur banget bisa melahirkan dengan cepat dan lancar, semangat ya Mba semoga sehat selalu^^

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Sila berkomentar dengan baik dan sopan. Mohon maaf, segala komentar spam, yang berisi link hidup atau yang menyebabkan broken link serta komentar yang mencantumkan identitas tidak jelas akan dihapus.

Popular Posts