Nafkah Batin Untuk Istri, Apakah Termasuk Rezeki Yang Telah Ditetapkan Oleh-Nya?




Foto: pixabay (dengan tambahan teks)

Perempuan A: "Udah 'isi' belum?"
Perempuan B: (menghela napas panjang) "Belum."
Perempuan A: "Kok belum? Udah hampir setahun lho kalian jadi pengantin."
Perempuan B: (menghela napas lebih panjang lagi) "Gimana mau 'isi'? Suamiku jarang kasih nafkah batin."

Familiar dengan percakapan tadi? Mungkin sering, ya, dengar pertanyaan memojokkan seperti itu yang ditujukan kepada pasangan pengantin baru. Barangkali yang jarang didengar adalah kalimat terakhir si perempuan B. Tahu maksudnya?

Seorang ibu pernah curhat kepada saya. Ibu ini merasakan perhatian suaminya kepadanya berkurang jauh. Perhatian yang dia maksud adalah nafkah batin.

Bagi pasangan suami-istri, sudah bukan rahasia lagi kalau ada dua macam nafkah yang harus dipenuhi dalam ikatan pernikahan, yaitu nafkah lahir dan nafkah batin. Barangkali yang belum menikah juga sudah paham soal ini, hehehe...

Meskipun secara syariat hanya disebutkan 'nafkah' saja, namun dapatlah kita bagi menjadi dua. Nafkah lahir adalah kebutuhan fisik, seperti makanan, pakaian dan tempat tinggal. Sedangkan nafkah batin adalah kebutuhan kasih sayang, termasuk hubungan intim suami istri.

Ibu yang curhat kepada saya ini mengeluhkan frekuensi pemenuhan nafkah batinnya yang berkurang. Ya, nafkah lahir berkurang saja terasa ada yang kurang, apalagi nafkah batin, ya. *eh*

Saya heran juga kok ibu ini bisa cuek sekali curhat soal yang super rahasia seperti ini. Tapi mungkin karena dia merasa sudah tidak tahu harus bagaimana, atau mungkin sedang mencocokkan keadaan, siapa tahu hal ini wajar terjadi pada pasangan suami-istri.

Dalam sebuah fanpage di facebook pun saya pernah menemukan begitu banyak istri yang mengeluh soal jarangnya nafkah batin ini diberikan. Agak kaget juga, karena biasanya pihak istrilah yang lebih kerap menolak diberi nafkah batin. Ini sih ngintip dari curhatannya para suami, hehe... Eh tapi bukan berarti yang jarang terjadi itu tidak pernah terjadi lho. Pada kenyataannya memang ada dan istri memang boleh meminta nafkah batin. Boleh banget!

Kembali ke ibu tadi. Ibu yang relatif masih muda ini berkisah, dia merasakan perubahan dari suaminya beberapa minggu yang lalu. Mulanya dia cuek saja, tapi lama-lama gelisah juga. Berbagai pertanyaan muncul di benaknya. Apakah dirinya sudah tidak menarik lagi? Apakah suaminya bertemu seseorang yang menarik hati, mantan kekasih mungkin? Atau suaminya lebih suka memandang perempuan di layar komputer? Banyak prasangka buruk bermunculan dan tak satupun prasangka itu yang ingin dia percayai.



Foto: pixabay

"Apa Ibu sudah mencoba bicara sama suami?" tanya saya.

"Wah, nggak mungkin saya tanya sama suami. Malu saya. Paling-paling saya memberi isyarat 'mengajak' saja."

"Dan reaksi suami?"

"Tetap saja cuek."

Mmm...pusing juga, ya. Suami sudah dikode tapi seperti tidak paham.

Ibu tadi juga sampai bela-belain beli bedak baru, beli lipstik baru biar terlihat lebih glowing di hadapan suaminya. Bukan cuma soal make up, ibu beranak dua ini juga beli pakaian tidur yang menggoda. Namun tetap saja nafkah batin yang didapatnya tidak seperti yang dia bayangkan.

Saya jadi termenung. Dari kedua kisah tadi, di balik alasan suami untuk memberi sedikit nafkah batin, saya berpikir, apakah nafkah batin ini termasuk rezeki yang telah ditetapkan-Nya? Pada kenyataannya, pada kasus kedua, si istri sudah berupaya namun belum juga menampakkan hasil.

Sebelum lebih jauh mendengar curhatannya, sebetulnya rezeki itu apa sih? Menurut situs rumaysho.com, rezeki itu adalah:
segala sesuatu yang bermanfaat yang Allah halalkan untuk manusia, entah berupa pakaian, makanan, sampai pada istri. Itu semua termasuk rezeki. Begitu pula anak laki-laki atau anak perempuan termasuk rezeki. Termasuk pula dalam hal ini adalah kesehatan, pendengaran dan penglihatan.

Nah, berarti benar kalau nafkah batin itu termasuk rezeki.




Foto: pixabay

Pada akhir curhat, si ibu akhirnya memikirkan adanya kemungkinan bahwa suaminya sedang punya beban pikiran di tempat kerjanya yang menghalanginya menunaikan tugas.

"Apapun itu, akhirnya saya pasrah, Mbak," katanya.

"Saya tidak melihat kecenderungan atau menemukan bukti kalau suami saya tertarik sama perempuan lain. Barangkali memang bukan rezeki saya."

Eh? Betul juga mungkin yang saya pikirkan, ya? Mungkin memang nafkah batin itu termasuk bagian dari rezeki yang besarnya dan datangnya sudah diatur oleh-Nya. Seperti rezeki badaniyah, sekuat apapun seseorang berusaha tapi kalau bukan rezekinya, maka yang dia kejar itu tak kan teraih. Meski begitu, karena rezeki itu sifatnya rahasia (hanya Alloh yang tahu), maka kewajiban setiap manusia adalah berusaha dan menyerahkan urusan ini kepada-Nya.

Saya kira sikap ibu itu untuk menyerahkan hasil usahanya kepada Alloh sangat tepat. Biarlah Alloh yang membuka hati sang suami, karena hidayah adalah hak-Nya. Jika Dia berkehendak, maka terjadilah.

Fiuh...kisah yang rada njelimet tapi esensial, ya. Saya sih tak ingin bertanya kepada teman-teman adakah yang mengalami hal serupa, toh itu sesuatu yang sepatutnya dirahasiakan. Saya cuma ingin mengajak setiap insan yang sudah menikah untuk lebih memperhatikan pasangan masing-masing.

Dan satu lagi: jangan curhat sama saya, ya. Bisa puyeng saya nanti! Hahaha...

Comments

  1. Aku sendiri ngakuin, kalo kebutuhan nafkah bathin kyknya memang ga sepanas pas msh baru nikah mba hahahaha :D. Tapi aku dan suami ttp coba untuk slalu cari waktu liburan berdua, supaya ttp adalah getaran2 cintanya *huopoooh bahasaku ini ��.. Penting banget bikin pasangan slalu merasa dihargai, diperhatiin, supaya dia jg ga tertarik ama yg diluaran :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. penting banget itu mbak, liburan berdua aja. atau curi waktu walau cuma jajan mie goreng malam-malam berdua ya, hehe...

      Delete
  2. Sedih juga ya mbak ibunya itu, semoga Allah memberikan rejeki lagi kepada keluarganya nanti dan permasalahan di keluarganya segera terselesaikan, tetapi ada baiknya sih meminta baik-baik nafkah batin tersebut kepada suami kalau dirasa suami kurang peka, CMIIW :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, mbak. penting sekali pasangan suami-istri bisa terbuka. memang perlu diajarkan keterbukaan sejak kecil ya. kadang kita sering melarang anak untuk mengungkapkan perasaannya. nah, bisa jadi itu akar masalah. ketika dewasa, ia sulit mengungkapkan perasaannya.

      Delete
  3. ikut sedih mendengar cerita 2 ibu itu :(

    saya ldr-an dengan suami Mbaa, jadi memang jarang ketemu suami. Kalau kangen, biasanya suami yg dtng menemui saya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. semoga LDR-nya tetap harmonis mbak.

      Delete
  4. saran saya sih jangan pake kode2an
    cowok itu ga peka dan jangan malu2 minta dihangatkan ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. betul banget mbak. kode-kodean jadi salah persepsi nanti

      Delete
  5. Setuju sama Mbak Iska. Biar bagaimana harus tetep dikomunikasikan sama suami. Krn dlm pernikahan, nafkah batin ini juga penting dan ga bisa diabaikan begitu saja. Doa dan pasrah boleh, tapi jangan sampe kita abai untuk komunikasi sama suami. Duh maaf mbak, jd panjang 🙈

    ReplyDelete
    Replies
    1. gpp panjang mbak. bisa jadi bahan diskusi juga kan nantinya.

      Delete
  6. Bisa dijadikan pembelajaran dan ilmu buat saya kelak nih. He.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya banget mas. belajar kode-kodean juga ya. jangan juga kode html dan css hehehe

      Delete
  7. Harus lebih peka ya dengan kode2 dari istri. Wah, mesti belajar dari sekarang nih mumpung belum nikah. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyes mas, wajib atuh mah belajar bahasa perempuan. hehe...

      Delete
  8. nafkah lahir dan juga batin, setuju banget, nafkah batin kalo buat aku paling minta dipuji aja hehe

    ReplyDelete
  9. Ternyata ada jg y kasus spt ini, memang komunikasi itu penting mba ga ada yg bisa tahu bahasa batin xixixi selayaknya mendingan diungkapkan biar tdk tjd salah persepsi :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. istri kadang main perasaan, suami main fakta ya mbak. yang nggak faktual nggak direspon hehehe

      Delete
  10. komunikasi memang nomor satu ya mbak, bisa jadi pembelajaran banget ini mbak ceritanya, makasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. semoga bisa jadi bahan belajar ya mbak, termasuk para bapak

      Delete
  11. kalau kode-kode sudah tidak mempan, agak berat memang berarti perlu dicari akar permaalahannya...dan kuncinya adalah komunikasi CMIIW...

    ReplyDelete
    Replies
    1. betul banget mbak retno. komunikasi memang penting dalam hubungan pernikahan

      Delete
  12. Yaaahhh aku jadi meras tersentil nih. Karena saat ini aku dalam fase dimana aku yang kadang gak nyaman kalau terlalu sering diberi nafkah batin.

    ReplyDelete
  13. jadi sama seperti rejeki2 lainnya ya mba, harus dicari dan diusahakan juga, kalau memang belum berhasil ya ngertiin aja dulu keadaannya sambil berusaha spy bisa membaik :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. kesimpulannya begitu mbak. kalau sudah diusahakan kok belum dapat juga...ya mungkin belum rezekinya

      Delete
  14. Mudah2an ada jalan keluar untuk ibu tersebut. Memang sebaiknya apa2 dikomunikasikan sih biar jelas

    ReplyDelete
    Replies
    1. aaamiiin. betul mbak. komunikasi intinya ya

      Delete
  15. Semoga mbak yang curhat segera mndpt jalan keluar mb...

    ReplyDelete
  16. Semoga kita semua dilimpahi nafkah lahir batin dan keluarga bahagia ya Mba, aamiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. aaamiiin, harapan kita begitu ya, mbak.

      Delete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Sila berkomentar dengan baik dan sopan. Mohon maaf, segala komentar spam, yang berisi link hidup atau yang menyebabkan broken link serta komentar yang mencantumkan identitas tidak jelas akan dihapus.

Popular Posts