Hadiah Tablet Untuk Anak

Anak generasi sekarang adalah penduduk asli era digital. Kita, orang tua mereka, adalah pendatang.

Pernah dengar quote semacam itu? Saya sempat mengangguk-angguk setuju saat dalam sebuah acara parenting di sekolahnya anak-anak disinggung hal itu. Iya juga, ya? Kita, para pendatang ini, seringkali gagap saat pegang gadget baru, hadiah tablet, misalnya. Sementara anak-anak hanya dalam hitungan jam (bahkan menit) bisa menguasai gadget dengan mudah.

Sering kan kita lagi bingung utak-atik ponsel atau tablet baru, tau-tau anak kita datang dan dengan tenangnya menjelaskan ke kita, "Gini lho, Bu, caranya." Dan kita pun lalu terheran-heran, kok mereka cepat sekali menguasai si ponsel itu, ya? Lalu kita pun membatin, "Dasar anak zaman sekarang."

Hadiah Tablet Itu Untuk Anak-Anak Saya

Ya, begitulah ilustrasinya. Dan itu jugalah yang pernah saya alami. Saya kalah cerdas dari buah hati saya sendiri dalam hal utak-atik. Padahal mereka belum bisa baca. Sedangkan saya yang sudah membolak-balik tutorial tetap saja lelet. Haha...

Jadi, suatu ketika, demi melihat kecanggihan anak-anak memainkan ponsel kami, suami saya mengabarkan kalau anak-anak mau dapat hadiah tablet dari kakak sepupunya. Si kakak sepupu sudah bosan dengan tabletnya dan sudah punya lagi yang baru. Si tablet nganggur. Nah, daripada tidak diberdayakan, lebih baik dihadiahkan saja, begitu pikir si kakak sepupu. Pilihan pun jatuh kepada anak-anak saya yang memang belum punya gadget sendiri.

ponsel-untuk-anak

Sumber: Pixabay

Saya sempat tertarik. Wah, asyik juga kalau dapat hadiah tablet. Anak-anak bisa menyalurkan kegemaran mereka mengutak-atik aplikasi. Saya pun bisa agak legaan nantinya karena mereka tentu akan jarang merecoki ponsel saya. Dan...lumayan juga kan kalau pas mereka tidur, saya bisa pinjam. Hahaha...

Tapi lalu saya ingat pelajaran parenting yang sering saya ikuti lewat radio dulu. Gadget bukanlah mainan untuk anak. Dia adalah pisau bermata dua. Pakai sisi yang sini, kena; pakai sisi yang satunya, juga kena. Mendadak saya ngeri membayangkan dampak negatif tablet itu untuk anak-anak saya. Bagaimana kalau mereka berubah jadi pribadi yang antisosial? Bagaimana kalau mereka terpapar konten kekerasan dan pornografi? Belum lagi penglihatan mereka yang bisa kena masalah. Menimbang bahaya yang ditimbulkan, saya pun menolak hadiah tablet itu.

Baca juga: Mohon Izin, Buka Puasa Sebelum Waktunya!

Namun, anak-anak saya sudah kadung dengar berita hadiah tablet itu. Bahkan mereka sudah melihat dan menyentuh barangnya saat bertandang ke rumah si kakak sepupu. Seperti yang bisa ditebak, mereka menolak penolakan saya. Wah, repot ini. Bakal ada drama perseteruan panjang nih. Saya yang semula mantap menolak mulai didera dilema. Ditolak, anak tidak setuju; diterima, saya yang galau. Rasanya tak ingin melihat raut kekecewaan di wajah mereka.

Pada dasarnya saya 'menikmati' kelihaian anak-anak saya ber-gadget-ria. Orang tua mana sih yang tidak terkesan melihat anak-anaknya yang masih balita pandai main ponsel/tablet? Saya kira hampir semua orang tua bangga melihat yang demikian. Ada perasaan puas terselip di hati. "Anak gue, gitu loh. Hasil didikan gue tuh!"

Selain Hadiah Tablet Juga Ada Godaan Lain

Tidak cuma hadiah tablet yang menggilitik hati kecil saya. Suami saya malah menawari untuk beli komputer biar saya bisa lebih leluasa menulis.

"Komputer desktop aja sekarang murah-murah, Bu," katanya. "Sekalian nanti dipasangi internet."

Makin galaulah saya. Iya, saya pingin banget punya komputer atau laptop untuk menulis. Lebih nyaman dibandingkan menulis dengan ponsel tentunya. Pikiran saya sudah ke mana-mana termasuk mengintip isi celegan. Pasti asyik lah kalau punya komputer sendiri apalagi ditambah akses internet dan printer. Banyak yang bisa saya kerjakan dengan komputer itu nantinya!

komputer-desktop

Sumber: Pixabay

Tapi lagi-lagi saya menimbang baik-buruknya komputer di rumah. Saya bahagia, tapi bagaimana dengan anak-anak? Ya mereka sepertinya juga bakal bahagia sih, tapi apa manfaatnya bagi mereka selain bisa main youtube dan nge-game? Bisakah saya mengawasi dan membatasi mereka? Bagaimana dengan nasib penglihatan mereka? Pertanyaan kegalauan yang sama kembali mendera saya.

Akhirnya Hadiah Tablet Dan Komputer Itu...

Di tengah kebimbangan itu, petunjuk dari-Nya datang. Ya, saya anggap ini petunjuk walaupun hasilnya membuat kecewa anak-anak. Tiba-tiba saya menyadari bahwa anak-anak saya cukup cerdas untuk menguasai gadget. Fakta menunjukkan mereka mampu melakukan aktivitas membuka, menutup, menyimpan permainan. Baiklah. Petunjuk ini sudah cukup jelas bagi saya. Saya memutuskan untuk tidak menerima hadiah tablet dan juga tawaran komputer itu.

Saya jelaskan kepada suami saya alasannya. Bukan hanya soal bahaya yang bisa ditimbulkan akibat penggunaan gadget, tapi justru karena anak-anak menunjukkan bukti bahwa mereka belum membutuhkan gadget apapun saat itu.

Saya bertanya kepada suami, "Menurut Ayah, dalam sepuluh tahun ke depan apa ada perubahan cara membuka, menutup, menyimpan, mengcopy-paste file?"

Suami saya menjawab, "Tidak."

"Kalau begitu," lanjut saya, "Insya Alloh tidak akan terlambat bagi anak-anak untuk mulai mengenal gadget sepuluh tahun lagi."

Alhamdulillaah argumentasi saya diterima dan kami sepakat menolak hadiah tablet itu. Dan... tentunya si komputer juga tidak jadi dimasukkan dalam jadwal belanja.

Bagaimana dengan anak-anak? Apakah mereka menerima keputusan kami itu? Tidak. Tapi, ya, namanya juga anak-anak, mudah dialihkan perhatiannya. Tanpa hadiah tablet itu ataupun komputer di rumah tidak berarti mereka tidak pernah pegang gadget. Ponsel kami masih jadi sasaran mereka walau tidak terlampau intens. Setidaknya di hari Minggu mereka boleh main ponsel kami dengan agak bebas.

Baca juga: Cara Menonaktifkan Fitur Talkback Pada Samsung Galaxy Core Duo

Saya berprinsip dalam masalah gadget bahwa anak-anak tidak seyogyanya memiliki gadget sendiri. Kalaupun pegang, itu adalah milik orang tua. Status mereka cuma peminjam. Dengan demikian lebih mudah bagi orang tua untuk mengontrol perilaku ber-gadget anak.

Itulah cerita saya tentang hadiah tablet untuk anak. Adakah teman-teman punya pengalaman menghadapi pengalaman yang serupa? Atau malah punya pandangan yang berseberangan dengan saya? Boleh dong cerita. Yuk, yuk.

Comments

  1. Iyo mbak. Wis besok aja. Aku yang ngijinin Raka punya properti tablet setiap Sabtu-Minggu juga malah sering berdoa..semoga tab nya error, nggak akan tak servis in. Betapa kupingnya jadi sering ilang gara2 asyik nge game. Makanya klo libur, ia sering kami alihkan...diajak pergi ke luar biar nggak ngegame mlulu. Kadang klo di rumah...dia pamit maen t4 teman, ee..trnyata di sana ngegame bareng juga. Tapi yo nggak selalu, kadang ttp main kejar2 an/ sepedaan juga.

    Gadget kadang bagai 2 mata pisau. Dia bisa menolong...klo pas ngerjain PR...kayak tadi, ada Pr cari makna lagu papua..klo nggak nanya mr
    Google, mana ngerti aku mbak.

    Tapi klo udah asyik game, download...berasa dia hidup sendiri.

    Akupun galau juga sama keberadaan 1 tablet di rumah.

    ReplyDelete
  2. Anakku masih 11 bulan,jadi sudah dibiasakan g pegang hp milik kami ataupun sodara..

    ReplyDelete
  3. Sulis: kupingnya pergi entah ke mana. iya ituh. anakku ya gitu. kudu dijawil baru ngeh.

    iya sih kadang main ke rumah temannya tapi di sana main tablet. tabletnya si teman. tapi aku trus komunikasi sm ibunya si teman. alhamdulillaah kl tabletan di rumahnya aja, ga kayak dulu keliling cari wifi gratisan. duh...pas itu sampe naik pitam aku gara-gara anakku wifian sama temannya. lha nonton apa kita g tau kan.

    Mbak HM: bagus tu mbak. ga dibiasakan biar ga ke situ perhatiannya. asal emaknya ga lupa kontrol diri aja hehe... semoga sukses program no gadgetnya mbak.

    ReplyDelete
  4. Anakku suka banget youtuban, jagonya ngabisin kuota. Hehehehe .... Tapi udah kuatur biar cuma channel anak2 yang keluar. :) Insyaallah aman. Tapi juga tetap diawasi.

    ReplyDelete
  5. Hai mom,

    walaupun aku belum married, tapi aku udah mikir banget gadget untuk anak di umur yg belum cukup.
    sangat tidak di sarankan. saya sih merasa anak akan mempunyai waktu lebih sedikit untuk merasakan kegemribaan di umur ya.
    saya sih ada ide, mungkin ngajak bikin crafting lebih ngakalin dia kalo mau minta beliin gadget sih.
    trus seminimal mungkin di depan dia saya jgn terlalu gadget mania hihi.
    abis ya saya suka kesel, liat anak kecil main gadget trs kalo gak ngambek nangis di jalanan huhu.

    alsheilaaa.blogspot.co.id

    ReplyDelete
  6. Aku jg berpikiran sama dgmu mb...kelak klo dah ada anak aku mau membatasi gagdet pas masi bocah, trutama gadget yg bisa diakses setiap saat cem henpun, nanti pabila dah gedean dikit barulah dibolehin hihi

    ReplyDelete
  7. setuju mbak, tablet itu kaya pisau bermata dua untuk anak-anak. Ya udah mbak, tablet dari kakak sepupunya buat aku aja :D haha.

    ReplyDelete
  8. Anak saya sudah saya biasakan tidak memegang hp mulai dari umur 4 sampe 12 tahun ini, soalnya saya takut, ,,, kalaupun pegang hp meski saya dampinggi...

    ReplyDelete
  9. Bener mba, aku ada sepupu. Kalau sudah pegang namanya smart phone pasti kayak lupa dunia luar. Makan dan mandi aja susahnya minta ampun kl udah pegang gadget. Aku yang liatin aja sampe kesel sendiri. ckck

    ReplyDelete
  10. memberi gadget buat anak boleh2 aja menurut aku asal tetap didampingi dan ngga menyerahkan gadget itu 100% pada si anak. Yg bahaya itu kan kalau gegara gadget anak jadi ketergantungan dan tiap detik memakai gadget tsb :)

    ReplyDelete
  11. Sepertinya poin gadget ini harus masuk list yang wajib diobrolin dengan suami sebelum dedek lahir ni... :) makasih ya bu insightnya...

    ReplyDelete
  12. Keponakanku dikasih tablet sendiri sama orangtuanya, jadinya malah "kemedan" klo istilah orang Jawa. Gak mau disuruh berhenti soalnya berpikir kalau itu kan milikku, orangtuaku gak berhak ngelarang dong.

    ReplyDelete
  13. memang tidak mudah tapi kita harus extra disiplin dengan gadget ya mba..di sini anak-anak di sekolah juga diajarkan untuk menikmati kemudahan teknologi secara sehat :)

    ReplyDelete
  14. Saya juga sama, Mba. Anak-anak blum kami perbolehkan memiliki gawai sendiri. Kalaupun beli, tetap kami pakai bersama dengan ketentuan yang jelas. Tidak dikuasai mereka. Untunglah anak-anak bisa nerima ya. Tapi hadiahnya ga jadi dikasiin dong? Terima aja trus dijual, eh, disimpan...hehe

    ReplyDelete
  15. urusan gadget ini pernah jadi pertanyaan tetangga "mbak ayya,sayang banget mada gak boleh kenal gadget ... nanti gaptek loh" .... tetangga2ku anaknya seumuran mada, 2 tahun dan udah pada punya tab semua ... beli kredit ato cash ... aku blm tertarik ngasih gadget buat anak, wong mada baru 2 taun plissss palingan sesekali aku setelin video2 yutup lagu2 anak

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Sila berkomentar dengan baik dan sopan. Mohon maaf, segala komentar spam, yang berisi link hidup atau yang menyebabkan broken link serta komentar yang mencantumkan identitas tidak jelas akan dihapus.

Popular Posts