Tertikam Tulisan Milik Sendiri

Waw...judul yang menyeramkan: Tertikam Tulisan Milik Sendiri. Gimana ceritanya itu?

Beberapa waktu lalu beberapa teman blogger yang juga penulis mengungkapkan kegamangan mereka untuk menulis lagi. Ada yang merasa trauma, ada yang seolah jadi tak ingin menulis hal yang buruk. Apa pasalnya? Rupanya beberapa teman tadi merasa tulisan mereka menampar diri mereka sendiri. Beberapa kali terjadi, usai sebuah tulisan dipublikasikan, tiba-tiba kejadian dalam tulisan itu menjadi nyata! Apakah ini kutukan? Mitos kah? Betulan kah? Ada tulisan Mbak Virly Kumala Aluh tentang misteri ini (link ada di akhir tulisan).

Huhuhu...serem, ya, kalau tulisan jadi kenyataan. Masalahnya iya kalau tulisan itu memuat segala hal yang menyenangkan. Kalau sebaliknya?

Saya juga pernah mengalami kejadian aneh itu. Jadi begini, ketika saya sedang menyusun tulisan Pelatihan Singkat Merawat Jenazah, saya merasakan betul kesulitan menyelesaikannya. Kesulitan pertama, topiknya membuat saya merinding. Ya, siapa sih yang tak takut didatangi mati? Menulis tentang perawatan jenazah, adanya terbayang-bayang terus.

Kedua, saya kesulitan dapat gambar pendukungnya. Bukannya saya tidak punya, tapi memilih gambar yang akan dipakai, memberi nama file, itu sama saja dengan saya harus bolak-balik melihat 'jenazah' di situ. Aduh banget kan.

Ketiga, tulisan itu saya niatkan penuh detil, ibaratnya copy-paste isi kelas pelatihan waktu itu. Jangan sampai keliru sebab ini urusan super serius.

Ketiga kesulitan itulah yang menghambat dengan sangat, sampai-sampai baru 2 minggu kemudian bisa saya selesaikan.

Namun semua di dunia ini tidak ada yang kebetulan. Tertundanya tulisan saya itu terbit ternyata mengantarkan saya pada keharusan saya mempraktikkan yang saya tulis. Tepat sebelum saya memencet tombol publish, terdengar kabar seorang tetangga meninggal dunia. Dan ternyata yang meninggal itu adalah Mbah Tukinem, sosok yang pernah saya tulis di blog ini.

Baca juga: Nenek Tua yang Tidak Merendahkan Dirinya

Bergegas saya ke rumah duka. Sesampainya saya di sana, jenazah Mbah Tukinem baru akan dimandikan. Glek! Saya menahan napas, membayangkan urut-urutan merawat jenazah yang telah saya tulis itu. Dan kejutan yang lain, peserta pelatihan lain juga ada yang hadir di sana. Saya berbisik kepada salah satu dari mereka, "Saatnya praktik."

#

Bukan cuma sekali saya mengalami ini. Beberapa kali saya menulis tentang tips, misalnya Cara Mengatasi Writer's Block A La Blogger Rumahan Eh, tiba-tiba malah jadi blank tak bertepi, ide tidak muncul setetes pun. Lebay mode ON.

Seolah-olah saya diuji dengan isi tulisan saya. Seolah-olah tulisan saya menjelma dan menantang saya menbuktikan kata-kata saya, "Coba, buktikan!!!"

Tapi ada juga tulisan yang menyeret saya lebih jauh. Contohnya tulisan berjudul Masihkah Saya Menulis Nantinya?Tulisan satu ini betul-betul mengantar saya pada kesunyian alam maya. Kegamangan saya menghasilkan rendahnya kuantitas tulisan saya pada bulan Mei, Juni dan Juli 2016. Boleh dicek! Saya benar-benar terjebak pada situasi tidak mood, terbawa situasi tulisan saya tadi. Menyedihkan. Sulit untuk mengakui keadaan, tapi sadar bahwa itulah keadaan yang sesungguhnya.

Tertikam Tulisan Fiksi

Yang lebih mengerikan itu bila kejadian dalam kisah fiksi menjadi nyata. Uwh... Teman saya yang penulis ada lho yang mengalami seperti itu. Ya, ya, ini ujian. Memang semestinyalah setiap penulis dan blogger menulis dengan jujur, jika menulis fiksi pun seyogyanya yang membawa manfaat. Seorang teman saya yang seorang penulis pernah menasihati rekan-rekannya, alangkah baiknya jika karya fiksi ditinggalkan, tulis saja kisah nyata. Menurutnya toh banyak kisah nyata yang juga luar biasa istimewa untuk dituturkan.

Menurut hemat saya, setelah merujuk pada pendapat ahli agama yang saya percayai keilmuannya, tulisan fiksi boleh ditulis asalkan mengandung hikmah dan disampaikan dengan cara yang baik. Maksudnya tentu dengan dikemas dalam cerita yang baik. Janganlah hikmahnya taubat dari zina tapi dalam ceritanya dikisahkan kisah perzinaan. Ini sih namanya mencuci pakaian dengan air penuh najis. Saya pribadi jika nenulis fiksi saya usahakan berdasar kenyataan meski kenyataan itu hanya saya saksikan di layar televisi. Eh, padahal udah lama nggak nulis fiksi.

Perlukah Berhenti Menulis Setelah Tertikam Tulisan Milik Sendiri?

Jika menulis bisa disamakan dengan berbicara, para ulama di masa lampau pun, seperti Abu Hanifah, menerima tawaran berdebat dengan tujuan menyatakan kebenaran. Risikonya? Besar, tentu, tapi hal itu tak menyurutkan perjuangannya. Dan sekali lagi, hanya dilakukan kala keadaan sudah mendesak. Tentu semua keputusan ini kembali kepada masing-masing penulis.

Ada yang berpendapat bahwa demi menghindari tertikam tulisan milik sendiri, ada baiknya menulis yang 'baik-baik saja'. Interpretasinya bisa bermacam-macam dong, ya. Baik-baik saja itu bisa berarti ajakan pada kebaikan, bisa berupa menceritakan hal yang menyenangkan saja, jauh dari menggurui atau mengkritisipihak lain. Menurut hemat saya, baik-baik saja itu bisa berupa tulisan yang menceritakan hal baik dan menyenangkan saja seperti review produk atau tempat makan, namun tidak menutup kemungkinan juga tulisan baik-baik saja itu menuturkan ajakan pada kebaikan dan atau mencegah keburukan. Bisa jadi berupa kritikan atau masukan, namun dikemas dalam bahasa yang tidak menusuk. Wah, kayak apa itu, ya? Hmmm...semoga saya diberi-Nya hidayah untuk bisa menulis tentang hal ini.

#

Nah, itu cerita saya soal tertikam tulisan milik sendiri. Adakah teman-teman juga pernah mengalaminya? Cerita yuk, cerita!

Tulisan ini merupakan collaborative blogging dengan tema Trauma Dalam Menulis
Baca juga tulisan Liza P. Arjanto:
3 Langkah Menghilangkan Trauma Dalam Menulis
Virly Kumala Aluh:
Tentang Kutukan Penulis, Kebetulan dan Fiksi Belaka

Comments

  1. Karena sudah kadung jatuh cinta sama menulis, meski tertikam, nulis jalan teruuuuusss...

    ReplyDelete
  2. Wah ini, saya juga pernah kejadian. Tapi teteup aja nulis karena emang kepengen nulis hehehe.

    ReplyDelete
  3. kalau begitu nulis fiksi yg indah-indah aja Mbak, yg hepi ending ..
    hihi. Iya juga siiih, menulis sama dgn kita ngomong. terkadang dgn mudah y ngomongin sesuatu ... mencela, eh taunya kejadian ma kita. hehe. entahlah...

    ReplyDelete
  4. Iya mba, aku jg pernah takut nulis krn takut kemakan tulisan sendiri, ato kalo aku lbh takutnya kalo tidak bisa menjalankan apa yang aku gembar-gemborkan di tulisan, tentang parenting misalnya,,he he

    ReplyDelete
  5. ini karena sugesti atau gimana ya? hihi.. ngeri juga sih.. tapi aku sih nulis aja terus no matter what.. kalo kata temen saya sih jangan kebanyakan mikir negatif, banyakin aja mikir positif dan terus berkarya.. :D

    ReplyDelete
  6. berarti harus hati-hati dan ikir panjang dulu sebelum menulis ya Mbak.
    lalu bagaimana cara mendapatkan ide tulisan yang 'aman' untuk dituliskan ya?
    terima kasih dan salam kenal

    ReplyDelete
  7. judulnya mak, bikin bergidik, hehe.. apapun memang seperti pisau bermata dua ya mak, jadi emang butuh sadar dan bijak #tsah

    ReplyDelete
  8. Nulis fiksi.. Biasanya klo lagi nggak ada ide nulis non-fiksi. Soalnya bisa ngarang2 indah...kisah hidup banyak orang digabung jadi satu. Klo tertikam..nggak ngerti aku, udah pernah apa blm..☺

    ReplyDelete
  9. Saya pernah Mbak. Membuat saya segan menulis parenting karena langsung diuji. Pernahnya bukan sekali, sih. Beberapa kali. Saya takutnya pas diuji, jadinya berat.

    Pernah saya nulis, saya pikir karena baru lulus ujian eh diuji lagi, diuji lagi. Masya Allah, Allah Maha Menguji. Itu yang membuat saya berusaha berhati2 mengurangi tulisan yang bernada menasihati, lebih memilih menceritakan. Menceritakan pun saya agak menghindar dari tema parenting, makin merasa masih jauh dari mampu nge-share soal parenting ....

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Sila berkomentar dengan baik dan sopan. Mohon maaf, segala komentar spam, yang berisi link hidup atau yang menyebabkan broken link serta komentar yang mencantumkan identitas tidak jelas akan dihapus.

Popular Posts