Yang Berkesan Pada Lebaran 2016

Apa yang berkesan pada Lebaran 2016 buat saya? Jawabannya: mencari orang tua.

Lebaran tahun ini anggota keluarga kami sudah tidak komplit. Minus Bapak yang sudah mendahului kami menghadap-Nya.

H-5 Idul Fitri saya pulang ke kampung halaman di Banguntapan, Bantul of Jogja. Harus disebut Jogja-nya karena kalau tidak nanti disangka orang, tempat hati saya tertambat itu ada di Bantul bagian kidul sana. Sejatinya Banguntapan adalah kecamatan di Bantul yang letaknya di pojok Timur Laut Bantul. Ibukota Banguntapan malah dekat sekali dengan Kotagede. Bisa dibilang, posisi kami ini lebih dekat ke Kota Jogja daripada ke Kota Bantul. Jadi, ya, saya sebutkan Jogja-nya, ya.

Mengunjungi Orang Tua di Dua Tempat

Saya dan keluarga tiba di rumah Ibu pada pagi hari. Pas waktu dhuha saya menyempatkan diri ke makam Bapak sendirian. Suasana makam sepi tapi tidak singup. Saya berdoa untuk Bapak dan Paklik saya (adiknya Bapak) yang juga dimakamkan di sasono loyo itu.

Ini kunjungan pertama saya ke makam Bapak. Saat pemakaman Desember lalu saya tidak ikut masuk makam. Jadi, setelah mengucap salam, sambil mencari-cari, saya berjalan perlahan tanpa alas kaki, berhati-hati di sela-sela gundukan tanah dan nisan. Jangan sampai menginjak kuburan. Di pekuburan ini memang masih ada yang memasangkan nisan besar bagi leluhur. Makam Bapak dan Paklik hanya berhias patok kayu bertuliskan nama.

Di makam Bapak, saya mengucapkan salam lalu berjongkok menghadap kiblat dan berdoa untuk Bapak. Selesai itu saya beranjak ke makam Paklik.

Di hari Lebaran saya kembali mengunjungi Bapak bersama Ibu, langsung seusai sholat Id. Kali ini pemakaman cukup ramai oleh peziarah. Kebanyakan orang dewasa. Barangkali mereka juga sama dengan saya, mengunjungi orang tua.

Mencari Orang Tua Namun Gagal

Setelah sholat Id, seperti biasa, ada acara sungkeman di rumah. Ada suasana berbeda, sangat amat berbeda malah, tanpa Bapak. Cuma ada pangkuan Ibu yang kami tuju. Lutut bertemu Bumi, telapak tangan generasi terdahulu bertemu telapak tangan penerusnya. Ucapan maaf pun terucap dengan versinya masing-masing. Air mata serasa ingin menampakkan diri, namun akhirnya ia mundur dan kembali menjalankan tugasnya membasahi bola mata.

Sangat keliru kalau seseorang yang pendiam dianggap tidak punya peran banyak. Pada kenyataanya, Bapak yang pendiam, yang seolah 'tak ada suaranya' bisa menjadikan suasana berbeda semenjak kepergiannya. Sungguh, seorang pendiam itu banyak diam bukan karena ia tak punya bahan untuk dibicarakan, tetapi karena tugasnya memang menjadi penyeimbang di antara hiruk-pikuk pembicaraan.

Usai sungkeman, tetangga kanan-kiri berkunjung. Cuma kunjungan singkat saja sebab ada acara halal bil halal di masjid. Ke sanalah seluruh umat muslim setempat menuju.

Biasanya setelah itu ada acara kunjungan ke sesepuh. Tapi tahun ini sungguh berbeda. Kami sudah kehabisan orang tua. Eyang Utik dari pihak Ibu yang merupakan eyang terakhir di keluarga kami baru saja meninggal dunia pada April lalu. Eyang yang lain (tante dan om-nya Ibu) juga baru tahun lalu keduanya meninggal. Tinggal seorang eyang yang tersisa, masih ada hubungan dengan Ibu, yaitu orang tua mereka adalah saudara misan.

Baca juga: What Do You Want to be Remembered When You're Gone?

Namun karena ibu saya merupakan anak tertua di keluarga dan kini sudah jadi sesepuh, baik bagi adik-adik Ibu maupun saudara-saudara sepupu, maka Ibu diminta tinggal di rumah saja pada hari pertama karena Ibu akan dikunjungi. Baiklah. Akhirnya kami tidak ke mana-mana seharian. Kebetulan di hari-H Jogja belum ramai. Tumben deh. Biasanya sepanjang Jalan Wonosari padat sekali, kali itu lengang. Sepertinya karena banyak pemudik tertahan di tol Brebes a.k.a. Brexit itu. Tapi akhirnya pada waktu menjelang maghrib, kami jalan-jalan juga! Ke rumah om di wilayah Piyungan, Bantul. Acaranya? Nyicipi opor!

Begitulah kisah yang berkesan pada lebaran 2016. Semoga di lain kesempatan kami masih bisa bertemu lagi. Bagaimana dengan teman-teman? Apa yang paling berkesan saat lebaran tahun ini?

Comments

  1. Thn ini pertama kalinya kita ga mudik mbak, krn ada bayi lucu baru lahir di keluarga :D. Aku pikir sudahlah, kasian si dedek kalo dipaksa naik mobil ke solo. Dan trnyata untung Ku batalin. Kalo ga bisa2 kejebak macet parah brexit itu -_-. Ga kebayang bawa bayi.. asik juga lebaran di jkt. Sepiiii :p

    ReplyDelete
  2. hal yang paling berkesan pas lebaran tahun ini ya bisa ngasih amplop (angpao) pada ponakan :')
    Biasanya dikasih angpao, sekarang gantian ngasih angpao :D

    ReplyDelete
  3. saya nggak ngira setelah baca ini bakal menghela napas dalam2 dan ada selipan duka. Nenek saya juga sudah meninggal tahun kemaren tepat di bulan Syawal.
    Saya suka kalimat mba, orang yang pendiam itu bisa menjadi penyeimbang di antara hiruk-pikuk pembicaraan.

    ReplyDelete
  4. paling berkesan lebaran tahun ini nitipin anak -anak ke Ibu terus pacaran sama pak suami hahhaah

    ReplyDelete
  5. Sedih ya mbak..kalo yang sepuh-sepuh sudah nggak ada. Semoga silaturrahim dengan saudara nggak putus setelah mereka nggak ada ya

    ReplyDelete
  6. Sungguh, seorang pendiam itu banyak diam bukan karena ia tak punya bahan untuk dibicarakan, tetapi karena tugasnya memang menjadi penyeimbang di antara hiruk-pikuk pembicaraan.| sangat terkesan dengan kata-kata ini Mak :)

    ReplyDelete
  7. Waaah, jadi ingat saya beberapa kali saya diminta ngisi ngaji di daerah Piyungan, termasuk bukber Ramadhan kemarin.

    ReplyDelete
  8. semoga ayahanda tenang di sisiNya

    salam kenal dari malang

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Sila berkomentar dengan baik dan sopan. Mohon maaf, segala komentar spam, yang berisi link hidup atau yang menyebabkan broken link serta komentar yang mencantumkan identitas tidak jelas akan dihapus.

Popular Posts