Orang Tua Yang Susah Move On

Repot kalau ada orang tua yang susah move on. Apalagi kalau jadi orang tua yang susah move on. Haduh. Jangan deh! Inginnya dunia tidak berubah. Saat ada perubahan, merasa dunia tidak berpihak kepadanya.

Memang tidak ada sekolah untuk jadi orang tua. Setiap individu yang sudah punya anak, mau tidak mau pasti jadi orang tua, baik si anak diasuh sendiri atau tidak. Tetap jadi orang tua. Terpaksa ataupun ikhlas.

Yang namanya terjun ke kehidupan nyata tanpa bekal ilmu itu berat. Berat!! Yang sempat berbekal saja sering kewalahan apalagi yang tidak. Maka, carilah bekal selagi masih ada waktu dan tenaga. Ilmu parenting a.k.a. pengasuhan tidak sulit didapat saat ini. Di mana-mana ada seminar, grup, artikel, buku, radio/TV talkshow bertema parenting. Yang pakai mbayar ada, yang gratis gararatis juga banyak. Tinggal pilih mampunya yang mana. Cari ilmunya gampang. Praktiknya yang syulit. Betul apa benar?

Saat orang tua susah move on, bisa jadi karena ilmunya kurang. Sayangnya tak banyak dari orang tua yang susah move on yang menyadari dengan cepat. Tiba-tiba semua seperti terlambat saat anak menjadi menyulitkan. Apa saja sih ciri-ciri orang tua yang susah move on?

Membantu Hingga Hal Remeh

Si anak pulang sekolah. Orang tua melepaskan sepatunya, seragamnya. Ada yang begitu? Ya kalau anak masih usia PAUD atau TK tak masalah. Kalau sampai usia SD masih dibegitukan? Halooo...anak sudah besar lho. Sudah saatnya diajari memakai dan melepas sepatu dan pakaian sendiri.

Anak usia SMP hendaknya sudah diajari cara mencuci baju sendiri. Setidaknya pakaian dalamnya. Cuci secara manual, ya. Dikucek, gitu. Kalau pakai mesin cuci sih nggak usah ditanya. Kenapa manual? Latihan survival. Dunia tak selamanya ramah kepada mereka. Cuci piring sendiri, masak nasi, masak air, goreng telur juga sudah harus diajarkan. Anak laki juga. Tugas domestik bukan cuma untuk anak perempuan.

Masih Mendewakan Anak Dewasa

Anak kuliah di kota lain, sudah bekerja tapi masih dieman-eman (disayang-sayang dalam konteks dikasihani). Dikirimi uang berlebihan, disuruh nyucikan baju ke laundry, makan ke warung, dikirimi asisten. Halooo...anak sudah dewasa lho...sudah saatnya menghadapi kenyataan hidup. Ada yang masih begitu?

Merasa Tidak Tegaan

Subuh datang. Bocah masih tidur. Dibangunin nanti saja ah. Kasihan lagi nyenyak tidur. Padahal si anak sudah kelas empat SD.

Si anak SMP ke sekolah naik sepeda onthel, ditangisi. Terus dibelikan sepeda motor. Padahal belum saatnya. Atau anak sudah saatnya berpakaian menutup aurat tapi ditunda-tunda. Kasihan kalau kegerahan. Ada yang seperti itu?

Aduh, Ibuuu...Bapaaak...move on dooong. Anak sudah tambah besar, dewasa. Masak iya masih dikeloni terus? Ayo ah, move on. Sedikit susah buat anak tak mengapa kok. Toh dulu Ibu dan Bapak juga ngalamin masa susah kan? Justru dari susah itu nuncul kelihaian baru dalam mencari solusi.

Janganlah orang tua meninggalkan generasi yang lemah, yang tak bisa berbuat banyak tanpa dibantu, yang konsumtif. Tidak selamanya orang tua bersama anak. Bekali anak dengan ketrampilan bertahan hidup, ketrampilan berbicara dan bernegosiasi dengan orang lain. Hidup tak selamanya mulus. Dan yang menjamin hidup anak bukanlah orang tua, tetapi Sang Pemilik Hidup.

Orang tua, yuk move on. Jangan marah ya kalau diingatkan. Takut menyesal karena terlambat. Mau jadi orang tua yang susah move on atau yang sudah move on?

Comments

  1. wah aku termasuk sangat mendidik anak mandiri, bahkan aku dibilang kejam sama orang2 tapi sekarang anakku survive di luar kota, yang kerja bisa ngatur uang sendiri dan ayng kuliah bisa mengatur uang jatah bulanannya. Dan aku juga membiasakan semau turun kerja rumah tangga , begitu juga anak lelakiku, kelak dia bakal bantu istrinya kalau sudha berumah tangga

    ReplyDelete
  2. @mamah Tira: setuju, mah. lebih baik susah di waktu dididik orang tua daripada nantinya nyusahin orang tua dan orang lain.

    Teman saya juga ada yang dua anak lelakinya dididik tidak gengsi pegang kerjaan domestik. kelak akan berguna saat mereka punya istri.

    ReplyDelete
  3. Saya suka nggak tegas waktu anak anak kecil. Kamar mereka sesekali berantakan,saya yang rapihin.Alhamdulillah pas mereka merantau jauh, kamarnya pada rapih. Walau bagaimana, nasehat/contoh dr kita tetap terbawa yaa..

    ReplyDelete
  4. Temanku bilang aku terlalu keras mendidik anak bertanggung jawab. Tapi biarlah, yang tahu kondisi anak2 adalah orang tua, yang setiap hari berinteraksi dgn mereka.

    ReplyDelete
  5. Temanku bilang aku terlalu keras mendidik anak bertanggung jawab. Tapi biarlah, yang tahu kondisi anak2 adalah orang tua, yang setiap hari berinteraksi dgn mereka.

    ReplyDelete
  6. Aku termasuk anak yang memiliki orang tua "susah move on", Mbak. Mamaku masih suka aja over protektif sama aku, padahal udah mau nikah gini, hahaha. Kerasa banget mbak kalau segala aktivitasku dibatasi, besok-besok kalau dipercaya punya anak semoga bisa segera move on.

    ReplyDelete
  7. Ortunya mau move on mbak...anaknya yang kadang susah diajak.. *raka, kls 4...klo maem nggak sisuapi, bisa satu jam.terutama klo pagi. Lha keburu telat ..

    Klo nggak posisi keburu2, nembe..maemo dhewe..

    ReplyDelete
  8. Aku aku aku. Sekarang aku lagi diomelin banyak orang krn anak sudah punya KTP tapi kemana-mana tak antar jemput, belum bisa naik motor atau setir mobil sendiri. Hiks.

    ReplyDelete
  9. semoga aku ga seperti ini... kadang kepikir kok mbak, takut aku ga bisa move on mendidik anak.. tapi setelah baca ini, bnr2 hrs nguatin hati ya supaya kalo anakku ntr udh lepas masa balita, udh wktnya mulai diajarin disiplin yg lebih tinggi :)..

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Sila berkomentar dengan baik dan sopan. Mohon maaf, segala komentar spam, yang berisi link hidup atau yang menyebabkan broken link serta komentar yang mencantumkan identitas tidak jelas akan dihapus.

Popular Posts