Masihkah Saya Menulis Nantinya?

Sekian lama saya cuekin blog, saya lebih banyak hidup di dunia nyata. Sesekali menyambangi dunia maya hanya untuk lihat kabar dari teman-teman. Kenapa blognya dicuekin? Jawabnya karena suami saya jatuh sakit. Nggak sampai harus opname sih, tapi benar-benar harus nggak disambi. Ya, ngeblog kan aktivitas sambilan. Jadi ya harus ngalah.

Selama jadi silent reader media sosial inilah saya diajak merenung. Ada seorang teman blogger yang juga penulis, Mbak Novia Syahidah Rais, menulis begini di status facebooknya:

Sekarang memang zamannya brand menggunakan blogger dan penggiat media sosial sebagai partner utk branding. Maka manfaatkanlah sebaik-baiknya bagi yg berlahan disana. Karena bisa jadi besok trend akan berubah. Blogger tak lagi dilirik, penggiat media sosial tak lagi menarik. Dan blogmu tinggal jadi diary. Semua ada masanya. Dan masa itu silih berganti. Yang tak berganti hanya harapan agar pajak buku dicabut ~ Novia Syahidah Rais

Kalau Mbak Novia melihat dari 'mumpung'nya, saya malah tertegun dengan gambaran sesudahnya: masa keemasan blog berakhir. Bagaimana jika blog tak lagi dinilai memberi kekuatan persuasif? Bagaimana bila blog ditinggalkan pembacanya? Bagaimana bila blog tinggal nostalgia? Masihkah saya menulis nantinya?

Sudah menjadi ketentuan dari-Nya bahwa segala sesuatu itu berawal dari tak ada, menjadi ada, lalu kembali lagi menjadi tak ada. Bahkan manusia. Adakah sebelum ini kita ada? Bahkan dunia seisinya yang kita perebutkan setiap hari ini dulunya tak ada. Nantinya pun, kelak entah kapan, dunia ini akan sirna. Mungkinkah dunia maya juga begitu? Ya! Meski terlihat begitu kuat, dunia maya bisa hancur tak berbekas, di suatu waktu di masa depan.

Dunia maya telah mengubah begitu banyak sendi kehidupan. Gaya hidup, cara berpikir, cara mengambil keputusan, cara membangun citra diri, bahkan cara menjatuhkan lawan. Saat ini jika ada orang yang tak punya email atau akun media sosial ibarat orang zaman batu yang hidup di zaman modern. Tertinggal. Terlihat aneh.

Entah siapa yang membolehkan, namun dunia maya selalu punya tren yang seolah-olah wajib diikuti. Sampai-sampai jumlah jamaah sholat lima waktu saja kalah oleh jumah like dan amin di sebuah status religius di facebook.

Ah, terlalu jauh saya ngelantur.

Jadi...masihkah saya menulis nantinya? Mungkin masih. Mungkin.

Comments

  1. Warung yang ada wifinya jauh lebih ramai dari mushola, jamaah wifinya khusyuk2 pula. #miris

    Kalau saya tetap menulis Mbak, dulu awal saya nulis blog juga ga ada yang nglirik kok :)

    Semoga suaminya cepat pulih ya Mbak. Amin....

    ReplyDelete
  2. Insya Allah sama Mbak Tarry. Mungkin bagi yang terbiasa ngejob akan berubah haluan, tapi bagi saya yang blogger amatiran yang menulis karena suka insya Allah tetap bertahan di diary online ini

    ReplyDelete
  3. Sama mbak... akupun ga yakin apa bakal ttp nulis di blog kalo suatu hari nanti blog udh ga trend.. Memang sih selama ini aku nulis di blog ukan utk cari duit, tapi hanya untuk nyalurin hobi nulis dan cari teman sesama blogger :).. Hobi nulisnya mungkin ga akan ada masalah kalo blog mulai ditinggalin , tapi nyari temannya jd berkurang :).. Kemungkinan sih, apapun yg menjadi pengganti blog nanti, mungkin aku bakal beralih kesana :D

    ReplyDelete
  4. dulu waktu pertama kali punya blog pun, saya tak pernah berpikir akan mendapatkan sesuatu seperti uang dr blog, tapi yg penting saya menulis, menuangkan ide yg ada di kepala

    ReplyDelete
  5. Saya jadi ikutan merenung, Mba. Saya memang baru di dunia blog dan senang krn ingin menuangkan uneg2 aja. Semoga blog ga kalah ama medsos yg lain ya.

    ReplyDelete
  6. Iya ya .... bagaimana jika?

    Mudah2an kita masih terus menulis, ya Mbak. Minimal buat anak-cucu kita. Supaya mereka bisa lebih mengenal kita dan tidak membuat kesalahan yang sama dengan yang kita lakukan.

    ReplyDelete
  7. Kayaknya masih... *sambil merenung*

    ReplyDelete
  8. semoga bapak cepat sehat yahh kak.. :D tetep nuliss kak, biar saya juga semangat nemplok-nemplok disini *walopuntopiknyaperempuan* hahahaha

    ReplyDelete
  9. Ya Allah, saya kok merasa tertampar ya, dengan jumlah like dan jumlah jamaah sholat, euuuy duniaa,

    ReplyDelete
  10. Menulis aja mb...minimal meninggalkan jejak untuk anak cucu.. Klo mmng sudah tidak bisa dikomersilkan, minimal sebagai "saluran" ide... Pengobat bosan.

    ReplyDelete
  11. Dulu blog hanya sebagai tempat sharing berbagi cerita senang2




    sekarang buat sebagian orang, blog adalah ladang uang dan akhir nya banyak yg mulai sikut2an. Semoga kita bisa ikutan bersaing secara sehat

    ReplyDelete
  12. Insyaallah masih menulis Mba :)

    ReplyDelete
  13. Terus menulis, walaupun tidak harus di blog.

    ReplyDelete
  14. saya selalu mencoba mengambil hikmah dan pelajaran berharga dari setiap proses yang dilewati, termasuk ngeblog

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Sila berkomentar dengan baik dan sopan. Mohon maaf, segala komentar spam, yang berisi link hidup atau yang menyebabkan broken link serta komentar yang mencantumkan identitas tidak jelas akan dihapus.

Popular Posts