Jangan Jadi Tukang Blokir

Jangan jadi tukang blokir! Please, jangan! Tukang blokir itu bikin nggak nyaman.

Seorang teman pernah curhat di forum pengajian. Beliau ini, sebut saja Bu Fia, pernah ketemu tukang blokir sepulang umroh. Jadi ceritanya Bu Fia ini sepulang umroh serasa habis dicharge. Semangatnya tinggi! Dengan semangat menggebu-gebu Bu Fia getol menceritakan pengalamannya berumroh ke rekan-rekan kerjanya di kantor. Gayung bersambut. Teman-teman Bu Fia pun antusias. Bu Fia makin menggelora. Semangatnya menularkan ketaatan makin membahana.

Tapi, mendadak semua itu surut gara-gara komentar seorang teman.
"Umroh kan ga wajib. Sampeyan itu belum haji kok umroh."

Sebuah komentar yang kontraproduktif, ya. Dan sejak saat itu Bu Fia menutup pembicaraan mengenai umroh secara terbuka. Hanya kepada teman yang bertanya saja beliau mau berbagi cerita.

Males banget kan rasanya bertemu orang semacam itu? Bukannya mendukung malah menikam. Itu yang saya maksud sebagai tukang blokir. Entah motifnya apa, yang jelas komentar si tukang blokir tadi kurang positif. Mungkin kita bisa bilang,
"Ngapain Bu Fia mikirin omongan orang lain?"
Tiap orang punya sensitivitas berbeda, saya kira. Dan sensitivitas Bu Fia mendorongnya untuk berhenti bercerita demi rasa 'tahu diri'.

Kisah Bu Fia tadi mengingatkan saya pada kebiasaan pemblokiran di sekeliling kita. Coba diingat-ingat deh, kasus pemblokiran apa yang baru-baru ini terjadi di lingkungan kita. Kalau saya langsung ingat kebiasaan buruk sebagian orang kepada anak kecil. Misalnya percakapan seorang tante dengan keponakannya.

"Tante, Tante, tadi ada kucing kejebak di atas pohon."
"Waduh, udah diturunin?"
"Udah. Tadi aku yang nurunin."
"Masak? Kamu bisa nurunin? Yang benerrr...?"

Sekilas percakapan semacam itu tidak mengandung masalah. Tapi coba perhatikan komentar si Tante yang terakhir. Kalau saya jadi si keponakan, rasanya bakal malas untuk bagi-bagi cerita di lain waktu kepada si tante. Mungkin maksud si tante cuma bercanda, cuma agar si keponakan terus bercerita. Tapi jadinya malah kontraproduktif.

Tukang blokir itu menyebelkan. Yuk, mawas diri. Jangan-jangan kita suka begitu juga. Jangaaan...jangan jadi tukang blokir!

Comments

  1. banyak Mbak emang yg seperti ini dan biasanya saya suka menghindari orang-orang yang seperti ini. hihi takut kalau diblokade :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mending menjauh daripada kena tikam ya mbak.

      Delete
  2. adaaaa, dan biasanya sih orang yang demenan ngeblokir orang itu kalau dia sendiri yang ngomong suka gak bisa dipause, over menggebu-gebu dan enggak ada celah orang lain untuk menyela..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Barangkali batere remotenya habis mbak. Jadi dipencet-pencet pause pun ga ngefek hehe

      Delete
  3. saya sering blokir omongan suami tapi niatnya emang guyonan heheh, kadang malah saling blokir :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah kalo itu wajib mbak. Hehe...saya juga kalo dengan keluarga atau teman-teman jogja berani mblokir dalam ramgka guyon. Soalnya udah saling paham. Kalo keluarga sini,.ga berani.

      Delete
  4. hihihi...jangan jadi tukang blokir kalau saya blogger

    ReplyDelete
  5. Kadang aku mblokir mbak, klo udah nemu orang yang klo cerita panjangggg gitu. Nggak berenti kayak radio. Kadang kitanya mo ngapain, dia blm off (termasuk sales, sering aku off -in)...jahat ya..?? Hi..hi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya. Suka bingung dewe ya gimana nyetopnya. Akhirnya anak jadi senjata.

      Delete
  6. sepertinya saya kadang-kadang jadi tukang blokir Mba,
    makasih udah diingatkan..

    ReplyDelete
  7. Benerr banget! Kita jadi ilfill tiba tiba buat bagi pengalaman yang bisa jadi menganduk ibroh untu pendengarnya. Termasuk memotong pembicaraan org dengan hal yang tak perlu. Ini masalah tatakrama dalam berkomunikasi kali yaa... Nice post Mbak :)

    ReplyDelete
  8. di masyarakat ada aja ya mb yang suka komen berseberangan hihi
    harus sabar tingkat dewa kalo nemu

    ReplyDelete
  9. Hmm kalau saya mah apa atuh cuman blogger biasa, ahi hi hi.

    ReplyDelete
  10. Kirain blokir akun socmed wkwkwkkk.... Banyak sih tukang blokir di kolom komentar blogku. Yah mau gimana lagi? Kita nggak bisa ngatur orang mau ngomong apa, yg penting kita nggak begitu. Beda dikit dg bu Fia. Waktu aku mau ke KL, aku juga dikatain, mendingan duitnya utk umroh saja. Orang Islam itu kalau keluar negeri utk umroh & naik haji saja. Aku sedih bgt, kesannya kyk dianggap murtad. Duuuh. Pdhl aku sdh daftar haji tp msh antri. Aku diem saja, nggak merasa perlu menjelaskan. Tukang blokir nggak layak diberi penjelasan, anggap nggak ada saja. Waktu itu uangku dikit, cuma cukup utk liburan keluarga ke Msia, yang walaupun luar negeri jaraknya cuma 1/2 jam penerbangan dr Pekanbaru, lebih deket daripada ke Jakarta. Kalau umroh, perlu 20x lipat tabunganku. Tapi aku jg nggak menjelaskan keadaanku krn paling2 dia akan bilang "makanya ditabung biar cukup, jangan buat pergi2." Meladeni tukang blokir berarti mengorbankan perasaan kita. Jadi, nggak usah diladeni.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Capek deh ya. Gini disalahin, gitu disalahin. Bahkan nggak ngapa-ngapain juga disalahin ya mbak.

      Delete
  11. Tukang blokir ini nyaris ada dimana-mana, kadang nyesek kalo kita baper. Memang biasanya kita gak meladeni, tp kdg keinget dan kepikiran kata2nya. Sy kayanya tipe kaya bu fia gt kalo di blokir lgsg ciut nyali hehehe

    ReplyDelete
  12. Ada istilah bagus nya untuk menamai orang orang tukang blokir seperti ini.. Sama aja kayak orang yang suka ngomong : masa? Oh ya? Kok kayak gak percaya gitu.. Menyebalkan

    ReplyDelete
  13. Eh, kirain tadi tukang blokir akun sosmed. Ake sering soalnya nge-blokir akun-akun yang menebar kebencian or spamming. Wkwkwk

    ReplyDelete
  14. Setuju mba.. Seringkali ngg sadar ya kalau sikap negatif seperti ini dampaknya ngg asyik bangeeet

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Sila berkomentar dengan baik dan sopan. Mohon maaf, segala komentar spam, yang berisi link hidup atau yang menyebabkan broken link serta komentar yang mencantumkan identitas tidak jelas akan dihapus.

Popular Posts