Trembesi

Trembesi atau dikenal juga dengan nama Ki Hujan adalah pohon peneduh yang luar biasa. Tajuknya luas, pohonnya tinggi, buahnya terbungkus dalam polong yang kecil memanjang.
Di seputar tempat tinggal saya di Madiun Selatan, trembesi mudah dijumpai. Di sekitar pabrik gula ada, di Tempat Penimbunan Kayu (TPK) juga ada. Di persawahan dekat tempat tinggal saya yang dekat sawah juga ada.

Duduk-duduk di bawah pohon serindang ini sangat menghanyutkan. Maksudnya bisa bikin jatuh tertidur, gitu. Kalau tidak malu dan keadaan aman, ayo aja deh :-D .

Bawa tikar trus nyender di sini

Meskipun reputasi trembesi sebagai pohon peneduh di perkotaan cukup buruk, di pedesaan dengan lahan terbuka yang luas, trembesi menarik untuk dibiakkan. Menurut penelitian, trembesi sangat tidak cocok ditanam di dekat bangunan dan jalanan. Alasannya ada dua, pertama, akar trembesi dewasa sangat besar dan sampai ke mana-mana.
Ya maklumlah, makin lebar tajuknya makin jauh pula akarnya berkelana. Akar besar seperti ini bisa dengan mudah mencongkel beton bangunan dan aspal. Jadi, kalau di tepi jalan raya banyak trembesi bisa dipastikan bakalan sering diadakan peremajaan jalan raya. Bisa saja sih trembesi ditanam sebagai peneduh jalan raya, asalkan jalan rayanya dari tanah terus kendaraannya pakai kereta kuda. Wow, terbayang dunia tanpa mesin pemroduksi CO2 massal.


Alasan kedua, trembesi adalah tanaman yang rakus air. Ya maklum lagi ya, badannya gede begitu. Kalau trembesi ditanam di lingkungan rumah, bisa-bisa ketersediaan air terancam karena rebutan sama si trembesi ini.
Trembesi ini aslinya adalah tanaman impor. Tanaman yang punya nama latin Albizinia saman ini dibawa penjajah Belanda dari Brasil. Di Indonesia, trembesi ditanam di daerah penghasil polusi seperti pabrik gula. Pantesan aja begitu karena trembesi ini bisa memakan 28.000 kg CO2 dalam setahun. Jadi keberadaan trembesi di wilayah seperti itu pas sekali.


Di musim penghujan seperti sekarang ini kita bisa menjumpai bayi-bayi trembesi yang imut-imut. Mereka muncul dari biji-biji trembesi yang jatuh sebelumnya. Biji trembesi dibungkus polong mirip petai yang panjang. Kalau di TK anak saya, polong yang kering dan jatuh itu suka dijadikan pedang untuk main perang-perangan.
Sungguh cantik bayi-bayi mungil itu di lapangan depan sekolah. Sayangnya, biasanya tak ada yang bertahan lama karena sebelum jadi besar mereka sudah mati terinjak-injak. Ibu guru seharusnya bisa mengambil manfaat dari hadirnya bayi-bayi trembesi ini. "Ini lho, Nak, dari biji keluarlah tunas."




Kuci, kuci, kuci...
Ya, semoga ada tangan-tangan kecil yang menyentuh mereka dengan lembut dan mematrikan janji di dalam hati bahwa kelak ia akan punya kebun trembesi di halaman belakang rumahnya yang kalau malam hari dipasangi lampu temaram sehingga menghasilkan kesan romantis untuk menemani makan malam bersama pasangan hidup. Apalagi ditingkahi dengan guguran bunga trembesi yang lembut.



Gambar dari http://baltyra.com/2013/07/10/mengenal-pohon-trembesi-ki-hujan/

Wihihi...tapi hati-hati, ya, dahan trembesi dewasa cukup getas (mudah patah). Bisa-bisa acara romantisannya bubar gara-gara ada dahan segede kaki manusia yang patah dan jatuh. Jadi, jangan tanam trembesi di lahan parkir, ya.
Trembesi dicari, pun dibenci. Semoga trembesi tetap ada di muka Bumi ini dan menjalankan tugasnya dengan baik. Semoga anak keturunan kita masih dapat menikmati kesejukan bersamanya. Aaamiiin.

Comments

  1. Pertamax. Membaca tentang pohon trembesi, saya malah ingat cerpen Mbak Afifah Afra yang mengangkat tokoh si trembesi. Judulnya Attar.

    @KMubarokah LBI Grup B

    BW balik ya ke postingan bebas saya, Bu. :)

    ReplyDelete
  2. Wah ternyata pohon ini impor yah.. Saya kira tumbuhan gak ada kata impor ekspor ... :)

    @masirwindotcom

    ReplyDelete
  3. jadi dahannya mudah patah ya mba? duh padahal pohonnya rimbun banget. berarti gak bisa aku panjat nih hehehe gak gak gak kuat kalau kat 7icons mah :))

    ReplyDelete
  4. Memang kadang tanaman import kurang cocok di Indonesia, ya mbak.. Ada positif, tapi negatifnya juga nggak main-main karena masalah keamanan dan keselamatan. Sementara itu tanaman lokal yang jarang sekali tidak cocok dgn tanah asalnya, mulai hilang. :(

    ReplyDelete
  5. masih kecil sering nempel sama pohon ini, pulang sekolah kalo kehujanan sering berteduh. tapi sekarang udah nggak ada lagi pohonnya di deket sekolahan :)

    ReplyDelete
  6. Cantiknya pohonnya...

    Kalau nggak salah, di taman Samarendah, Samarinda bakal ditanamin pohon kayak gini. Trembesi yah?

    @mzaini30

    ReplyDelete
  7. Ini pohon trembesi juga ada di tempatku. Di SMA Loyola jaman masih kecil dulu kami juga suka main pedang-pedangan, kalo nggak buat main musik, suaranya krecek krecek kaaan, hihiii

    ReplyDelete
  8. Pohonnya kuat dan terlihat kokoh, saya jadi teringat pohon ini beberapa kali jadi "Cameo" di cerpen atau novel yg pernah saya baca :)

    ReplyDelete
  9. trembesi. Keren namanya tapi baru dengar.

    ReplyDelete
  10. Aku baru tahu namanya nih, Mba.

    Hihi...

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Sila berkomentar dengan baik dan sopan. Mohon maaf, segala komentar spam, yang berisi link hidup atau yang menyebabkan broken link serta komentar yang mencantumkan identitas tidak jelas akan dihapus.

Popular Posts