Jilbab Instan Yang Nyaman Dan Aman

Metamorfosis saya dalam urusan menutup aurat belum final hingga kini. Masih di tahap mana? Semoga di tahap kepompong, aaamiiin. Aneka ragam penutup aurat sudah saya alami. Mulai dari yang persegi, segi empat, segitiga sampai jilbab instan. Jilbab instannya pun macam-macam. Ada yang pendek, mini dan jilbab instan yang nyaman dan aman.

Sengaja saya pakai kata jilbab, bukan hijab, soalnya saya sudah kadung akrab dengan istilah ini. "Eh,.sekarang dia udah pake jilbab lho. Alhamdulillaah." Gitu deh yang biasa saya dengar. Tapi yang penting, jilbab yang saya maksud di sini adalah tutup kepala yang betul-betul diniatkan untuk menutup kepala, gitu. Soal penutup badannya, jilbab nggak menutup dong, berarti? Menutup juga sih. Buktinya banyak tuh yang bilang, "Dia sih jilbabannya ga beneran. Bajunya ketat gitu.". Begitu, deh. Cmiiw, ya.

Dah, balik ke soal nyaman dan aman kala berjilbab.

Dulu saya penggemar berat jilbab persegi. Yaaa...dulu adanya juga itu. Koleksi saya aneka warna. Pokoknya dicocokin sama bajunya. Oranye bajunya, ya oranye jilbabnya. Hijau bajunya, hijau pula jilbabnya.

Foto sepuluh tahun yang lalu. Saya yang hijau-hijau.

Ya, begitulah jilbab saya dulu. Kadang karena ngejar warna yang pas, jilbab tipis juga saya beli. Terus, kelihatan dong? Nggak. Biar tidak tembus cahaya, eh, tembus pandang, saya bela-belain pakai jilbab dobel. Jadi, saya biasa pakai jilbab begini: ciput, jilbab dalaman yang saya masukin ke baju, jilbab luar yang warna-warni. Ribet banget. Hehe...

Gerah? Iya juga sih. Tapi demi deh. Demi tampil kece.

Sebetulnya di masa itu jilbab instan sudah ada juga sih, tapi modelnya terbatas. Lagipula mindset saya waktu itu, kerja pakai jilbab instan tuh nggak sopan. Kok kayak pakai kaos doang, gitu.

Nah, setelah menikah dan punya anak, jilbab instan adalah sahabat terbaik saya. Praktis, tinggal sret, gitu. Tambahan lagi, sekarang jilbab instan sudah cakep-cakep model dan coraknya. Mau cari berapa gradasi warna juga ada. Sudah gitu yang jual juga banyaaak. Di mana-mana ada. Di pasar, di toko, di mal, di toko daring, bahkan tetangga juga suka nawarin jilbab instan yang bisa dibayar secara bertahap, hehe... Makin nyamanlah pakai jilbab instan.

Etapi soal nyaman bukan cuma di urusan mudah mendapatkannya. Nyaman itu juga adalah saat saya merasa aman memakainya. Jilbab instan ukuran selengan sekarang jadi pilihan saya. Aman. Selain menutup sampai ke dada juga aman dari tiupan angin. Nggak seru dong kalau pakai jilbab tapi pas ada angin agak besar dikit terpaksa megangin ujung-ujung jilbabnya? *pengalaman peribadi*

Ini pas pakai jilbab lebih panjang dari selengan.

Jilbab selengan juga sangat membantu pas habis keramas dan rambut masih terurai. Rambut setengah basah dibawa belanja juga oke aja. Dan yang pasti, jilbab selengan adalah peralatan terpenting saat menyusui di luar rumah. Hehehe...

Saya bukan anti jilbab yang tidak selengan lho. Saya juga masih punya jilbab sedada dan jilbab mini kok. Jilbab sedada saya pakai di rumah kalau pas bersih-bersih atau nyuci baju. Lah, di rumah pakai jilbab? Iya. Kebetulan anak-anak saya tipe aktif, jadi kalau di rumah pun mereka sering keluar masuk rumah. Daripada heboh buka tutup pintu melulu mending saya ngalah pakai jilbab sedada.

Jilbab mini yang cuma nutup kepala dan leher juga masih saya lestarikan. Saya pakai jilbab mini sebagai dalaman pas pakai mukena. Ceritanya biar mukena nggak lekas kotor, gitu. Sip, kan?

Pakai jilbab selengan ternyata pelan-pelan juga mengubah gaya berbusana saya. Sadar nggak sadar, baju pilihan saya ikut jadi lebih longgar. Ya rasanya lucu aja kalau saya pakai jilbab selengan tapi bawahannya ngepres, gitu.

Kesimpulannya, jilbab instan yang nyaman dan aman itu menyenangkan buat saya. Mendukung aktivitas saya, mendukung kesehatan saya. Lha, kok bisa? Ini entah berhubungan dengan usia atau bukan, saat pakai baju yang mepet badan seperti legging, badan saya terasa tidak nyaman. Yang dileggingi kaki tapi yang megap-megap paru-parunya. Barangkali berhubungan dengan sirkulasi darah dalam tubuh. Subhanalloh, kan? Jadi klop lah urusan saya menutup aurat ini dengan jilbab instan yang nyaman dan aman.

Punya cerita seputar hijab yang nyaman di hati? Yuk, bagi cerita di sini. Yuk, yuk!

Comments

  1. Saya juga masih terus berproses, Mbak. Sukses untuk GA-nya, ya ...

    ReplyDelete
  2. saya juga lebih nyaman bilang jilbab daripada hijab, udah kebiasaan kali ya... hehe
    Dan jilbab favorit saya yang segi empat, dari dulu sampai sekarang

    ReplyDelete
  3. saya paling nyaman pakai segiempat mba...lebih simple :)

    ReplyDelete
  4. aku seneng gamis instant yang syari... semoga lebih belajar lagi bisa sesuai ketentuan

    ReplyDelete
  5. Wei mb...lihat foto yang atas.....aku teringat r220 mu.....dan waktu itu aku masih dengan t-10, atau wis ganti c-35 yo....? Pokoke yang aku beli di unicom, dan sering hang!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha...kebanggaan ya, Lis. Unicom, Gemini.

      Delete
  6. yuk terus belajar ..sukses mbak :)

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Sila berkomentar dengan baik dan sopan. Mohon maaf, segala komentar spam, yang berisi link hidup atau yang menyebabkan broken link serta komentar yang mencantumkan identitas tidak jelas akan dihapus.

Popular Posts