Gegar Bahasa

Kata Ibu, waktu saya awal bersekolah di TK, saya sempat mogok sekolah. Saya sih nggak ingat. Tapi kata Ibu karena gegar bahasa. Oh ya?

Masih menurut cerita Ibu, di masa awal kehidupan saya *ciee*, Ibu mengajarkan Bahasa Jawa halus sebagai bahasa sehari-hari. Waktu itu lingkungan sangat mendukung. Kami tinggal di Kampung Mangkuyudan, Yogyakarta, yang masyarakatnya santun berbahasa. Umur 2 tahun (1979), Bapak dapat rumah dinas di Kompleks Lanud Adisutjipto Yogyakarta, maka kami pun boyongan ke sana. Di sana, bahasa resminya adalah Bahasa Indonesia.

Sebelum bersekolah, tidak terasa ada masalah. Problem muncul ketika saya masuk TK seperti yang saya kisahkan tadi. Di TK, saya mengalami kebingungan berbahasa. Bu Guru bicara apa, saya nggak paham. Ditanya, nggak bisa njawab. Ini maksudnya apa? Itu maksudnya apa? Nggak ngerti. Nggak paham. Walhasil kebijakan di rumah pun diganti: pakai Bahasa Jawa ngoko (biasa) dan Bahasa Indonesia. Sedikit-sedikit lancarlah urusan saya di sekolah.

Siklus berulang. Setelah sembilan belas tahun di lingkungan perumahan, Bapak pensiun dan kami sekeluarga boyongan ke rumah sendiri di desa. Lain ladang lain belalang. Lain lubuk lain ikannya. Di desa yang hanya berjarak beberapa kilometer saja dari tempat tinggal kami sebelumnya, terasa Jawa sekali. Tak masalah, sepertinya. Tapi ternyata saya salah. Tetap saja soal bahasa bermasalah.


Gambar dari http://m.pulsk.com/505646/Fakta-Ternyata-Bahasa-Jawa-itu-Mirip-dengan-Bahasa-Asing.html

Bahasa Jawa sudah biasa saya pakai di rumah, tapi dengan tetangga di perumahan dulu kami biasa berbahasa Indonesia. Di desa? Bahasa Jawa semua. Glek! Duh, mau ngomong serba salah. Ini harus bicara pakai bahasa yang halus atau biasa ya? Tak jarang saya salah pilih tingkatan bahasanya. Hahaha...

Beda dengan sekarang, di penghujung 1990-an itu belum banyak anak kos. Jadi kalau ke pasar nggak ada tuh yang menyapa pakai Bahasa Indonesia. Walhasil mau belanja ke pasar, mikir, ini namanya apa ya kalo pakai Bahasa Jawa? Di masjid lebih parah lagi, khotib bicara di mimbar saya cuma bengong. Tahu sih yang dikatakan, tapi nggak paham!

Yang juga sulit adalah saat ada pengumuman lewat pengeras suara di masjid, entah itu pengumuman posyandu atau berita duka. Duh, ngomong apa tadi itu, nggak tahu! Lucu, kan, padahal masih di Jogja juga.

Tak cukup cuma di situ. Pas setelah nikah dan diboyong ke ibukota oleh suami, saya gegar bahasa lagi. Sungguh, paaaling susah kalau urusan belanja. Soalnya namanya beda-beda. Saya bilang "A" si penjual nggak paham. Ih, ini masih di Indonesia, kan, ya? Tapi secara umum saat pindah ke ibukota agak mudah bagi saya beradaptasi.

Setelah tiga tahun, suami ditarik kerja di tanah tumpah darahnya. Okelah, keluarga kecil kami pindah ke Madiun. Di sini, bahasanya beda lagi. Mumet lagi saya. Bahasanya masih Jawa, tapi kok saya bingung, ya? Kebangeten pol!

Secara umum bahasanya sama Jawanya, tapi ada perbedaan istilah dan konteks. Dan yang paling bikin saya kelimpungan adalah cara bicaranya. Wis, dibilang nggak sopan ya ga papa. Awal-awal itu, tiap diajak bicara sama ipar atau tetangga saya lebih banyak senyum-senyum doang. Senyumnya sambil mikir, gitu. Ini maksudnya apa? Positif apa negatif? Bercanda atau serius, ya?

Lama-lama saya bisa adaptasi juga. Walau jujur masih suka nge-blank juga, tapi sudah cukup lumayan lah. Alhamdulillaah.

Saya jadi mikir-mikir, ini baru di pulau Jawa, budayanya juga masih Jawa lah, gimana ceritanya kalau saya harus tinggal di budaya lain? Di negara lain? Hahah...

Punya cerita juga seputar gegar bahasa nggak? Yuk, cerita di kolom komentar.

Comments

  1. Gara-gars KKn di Klaten, aku dapat bahasa baru mb: oglangan; listrik mati, Giglok; jatuh. Hidup di Sleman, ada bahasa baru pula...gesik(pasir/wedi)...duduk; gogok. ..ngentasi jemuran;mulungi....eh, ini bukan dalam rangka menyambut sumpah pemuda kan? :-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Brarti jan-jane pemulung itu awalnya tukang ambil jemuran ya, bukan barang bekas/rusak.

      Delete
  2. apalagi aku... basanya campuran -___-
    makanya kalau sama suami aja pake bahasa indonesia aja xD

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe...untung ada bahasa Indonesia ya mbak.

      Delete
  3. Aku tuh paing ngg bisa berbahasa yang tinggi dan halus mak.. Maklum soalnya lahir dan besar di Lampung ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terus terang aja mak, saya juga ga bisa. Lha ini anak saya klas 1 SD ada pelajaran basa jawa, saya yg mumet. Kl ketemu ha na ca ra ka gimanaaa coba? Haha...

      Delete
  4. AKu juga gitu, sering pindah2 kota dari kecil sering gegar bahasa meski sama2 bhs Jawa tp dialek beda. Skrg anak2ku lebih lagi krn pindah2 di luar Jawa, skrg balik lg ke Jawa. Insya Allah semua bisa dilalui dg baik.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Duh mak Lusi lbh parah lagi ya. Kyk ponakan saya, pindah2 juga. Kl ditanya aslinya mana, bingung dia. Akhirnya dijawab tanah kelahirannya aja.

      Delete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Sila berkomentar dengan baik dan sopan. Mohon maaf, segala komentar spam, yang berisi link hidup atau yang menyebabkan broken link serta komentar yang mencantumkan identitas tidak jelas akan dihapus.

Popular Posts