Buku 'Bintang Untuk Emak'

Tak ada darma yang sia-sia. Begitu tulis Pakde Abdul Cholik di halaman pertama bukunya. Ya. Segala amal perbuatan kita selalu direkam oleh Alloh SWT, dicatat oleh malaikat-Nya.
Buku 'Bintang Untuk Emak' ini sungguh menarik dibaca. Mengisahkan perjalanan hidup dan karir seorang Jenderal Bintang Satu TNI-AD. Jangan berpikir pembaca akan disuguhi kisah-kisah di medan perang karena memang sang penulis bukanlah seorang jenderal yang ngedab-edabi di medan pertempuran. Kehidupan penulis di dunia militer justru dipenuhi dengan proses belajar dan mengajar. Terbukti dengan panjangnya daftar pendidikan yang ditempuh baik di dalam maupun luar negeri (halaman 326).
Buku ini diawali dengan hari pelantikan seorang Abdul Cholik sebagai perwira dengan pangkat Letnan Dua yang masih disangoni ibunya (halaman 5). Karir beliau di Corps Polisi Militer pun mulai diceritakan berkembang dari satu langkah ke langkah-langkah berikutnya, termasuk saat beliau menjabat sebagai Danpomdam II/Sriwijaya dan Danpomdam V/Brawijaya hingga di Dephan. Bertugas di berbagai kota di Jawa dan luar Jawa selama bertahun-tahun yang menghasilkan LDR dengan istri pun beliau jalani dengan ikhlas.
Berbagai pengalaman unik pun dikisahkan dengan apik. Penggunaan bahasa yang ringan dan mengalir khas Pakde Abdul Cholik membawa pembaca mengimajinasikan kejadian-kejadian tersebut. Seperti kisah telur dadar asin yang istimewa gara-gara salah memahami (halaman 31 ). Dari buku ini saya baru tahu kalau Pakde ternyata bergelar Doktor tanpa melalui sekolah lagi. Tentu saja 'Doktor'nya bukan Doktor sungguhan :-D (halaman 247).



Bintang Untuk Emak. Eh, ada buku yang ngintip di belakangnya. Insya Alloh coming soon ya kupasannya.

Ada juga cerita lucu-lucu menyebalkan saat koper Pakde digonggongi anjing pelacak ketika mau naik pesawat menuju Honolulu (halaman 230-232). Ternyata anjing itu menggonggong karena naksir salah satu bawaan Pakde. LOL lagi.
Ada juga kisah unik saat Pakde bertugas sebagai anggota pasukan perdamaian UNTAG di Namibia yang kena tilang gara-gara parkir (halaman 112-113). Sungguh menggelitik bagaimana hukum bekerja di seluruh lapisan. Semoga nular ke sini juga.
Yang paling 'dalam' saya rasakan dari pengalaman hidup Pakde ini menurut saya adalah saat Pakde berpikir untuk pensiun dini dan menemukan makna sesungguhnya dari kepasrahan seorang hamba terhadap ketetapan-Nya (halaman 235), yang dilanjutkan dengan saat Pakde menerima bintang emas yang dirayakan Emak dengan bikin tumpengan di mushala (halaman 243).
Ada lagi bab yang menarik ketika Pakde sebagai seorang atasan menghadapi seorang tentara bermental lemah di Bab 64: Java Mindedness (halaman 196).

"Saya pandang Bapak dan si sersan bergantian. Bintara yang masih muda itu tak berkata barang sekalimat pun. Ucapan Bapak itu saya nilai sebagai bentuk gertak sambal. Terus terang, saya tidak suka dengan kecengengan seperti ini."


#

Membaca buku setebal 327 halaman ini sungguh mengasyikkan. Tampilan buku yang menarik dengan ukuran font yang cukup membuat mata saya betah membaca lembar demi lembarnya. Barangkali satu-satunya kesulitan saya ketika membaca buku ini adalah banyaknya akronim. Duh, mana akronim di dunia militer itu susah-susah pulak! Haha... Coba saja Sussarcabpapom atau Kabag Banprimen Biro Hubanlem Setjen Dephankam .



Susyee...deh.

Di balik semua itu, bagian yang paling menyentuh ada di bagian balik betulan, yakni di sampul belakang. Pakde membuat puisi yang sangat bagus. Saya kutipkan dua paragraf saja, ya, sisanya sila baca sendiri di bukunya:

Emak, aku sudah punya cucu
Jangan lagi kau marahi aku
Walau kau punya cucu
Kau tetap anakku


Emak, aku ini purnawirawan jenderal bintang satu
Jangan kau atur-atur aku
Aku panglima besarmu
Masih punya hak mengaturmu


#

Tidak rugi membaca buku ini. Bagi yang muda, kisah hidup Pakde Abdul Cholik ini bisa menginspirasi agar tak pilih-pilih dalam bekerja. Bagi yang sudah merasa tak muda lagi, buku ini juga bisa menginspirasi agar tetap berkarya dan terus produktif.
Penasaran sama buku ini? Bisa pesan langsung ke Penerbit Sixmidad atau lewat email sixmidad@gmail.com . Selanjutnya, selamat membaca!

Comments

  1. Replies
    1. Monggo mak, bisa pesen ke penerbitnya langsung.

      Delete
  2. Gaya khas pakdhe ini ya, menggelitik :D
    Ulasannya bikin penasaran dengan keseluruhan isi buku ini.

    ReplyDelete
  3. Sebagai penulis saya masih meneteskan airmata setiap membaca puisi itu.
    Saya memang benar-benar Emak's Boy.
    Terima kasih reviewnya yang jujur dan ciamik
    Salam sayang dari Jombang

    ReplyDelete
  4. mau nangis mba... :( saya melihat kecintaan dan kasih sayang antara seorang ibu dan anak pada pakde dgn ibunda tercintanya. Emak yg sangat sayang pada anak semata wayangnya dan pakde yang sangat berbakti dan mencintai emak, sungguh menginspirasi.

    ReplyDelete
  5. Sang panglima besar ini sudah tiada. Semoga beliau mendapat tempat terbaik di sisiNya *jadi ikut sedih.

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Sila berkomentar dengan baik dan sopan. Mohon maaf, segala komentar spam, yang berisi link hidup atau yang menyebabkan broken link serta komentar yang mencantumkan identitas tidak jelas akan dihapus.

Popular Posts