Mendoakan Keburukan Bagi Diri Sendiri

Bulan lalu ada kabar tak mengenakkan di tempat suami saya bekerja: ada karyawan lapangan yang menggelapkan uang perusahaan plus menggadaikan kendaraan dinasnya. Ketika diselidiki ternyata karyawan yang ini punya utang banyak di luar selain uang yang digelapkan. Astaghfirulloh. Bukannya saya mau ngrasani a lias ngegosip ya, ini untuk pelajaran saja.

Uang segitu banyaknya di kemanakan saja? Bangun rumah tidak, judi tidak, istri baru pun tidak. Sungguh sesuatu yang tak patut ditiru. Naudzubillaahi min dzaalik. Di akhir cerita, saat dipanggil ke kantor, karyawan itu berkata akan bekerja ke luar negeri dan seluruh utangnya akan dia bayar. Hmmm...sebuah solusi yang membingungkan, bukan?

Lepas dari entah bagaimana nanti dia melunasi, saya mengamati satu hal: doa keburukan bagi diri sendiri. Si karyawan ini, sebut saja namanya Aldi, di akun WA-nya menyebut dirinya sebagai "Aldi Jelek". Entah kenapa begitu. Secara tak sadar dia sudah mendoakan keburukan bagi diri sendiri. Kenapa harus "Aldi Jelek"? Apakah jelek itu keren?

Saya kerap menemukan orang yang mendoakan keburukan diri sendiri di medsos. "Fafa yang Clalu Gagal", "Sita Tak Laku-laku", "Cici yang Diduakan" dst, dsb, dll. Kenapa sih kok kamu gitu? Bahkan seorang teman saya yang pakai nama jelek itu isi statusnya jelek melulu, sial melulu. Ya gimana nggak sial, dia sendiri berharap dapat sial. Orang tua saja nggak kasih nama begitu, kenapa kita jadi merasa ingin sial? Memangnya sial itu asyik?

Mbok yao kalau pakai nama itu yang baik-baik. Bukankah nama itu adalah doa? Jelek itu buruk. Sial itu celaka. Masih mau mendoakan keburukan bagi diri sendiri? Gimana kalau Tuhan kabulkan? Siapa yang jelek? Siapa yang sial?

Comments

  1. astaghfirullah, tentang julukan itu ya mba. ada list teman di FB yg cukup bikin gerah kalo bikin status. dia menyebut anaknya kunyuk dan menyebut dirinya istri nakal. kadang yg begitu jd pelajaran buat diri sendiri. mau di block kayanya saya juga jarang2 baca status..nanti kalo udah makin gerah kali...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Inna lillaahi...wah naudzubillaahi min dzaalik. Kl gerah didelete saja mak. Ato kl ga enak mau ngedelete diklik berhenti mengikuti saja. Semoga teman mak Kania itu dapat hidayah. Aaamiiin.

      Delete
  2. wah sungguh menginspiratif sekali mbak postingannya. Alhamdulillah teman di medsos saya sudah jarang yang melakukan itu, tapi sempat juga terjadi.. Tugas kita mengingatkan saja, selain untuk dia, untuk diri kita juga.

    Karena Allah maha membolak-balikkan hati (HR Muslim)

    Saya follow blognya ya mbak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul mas. Salah satunya lewat tulisan.

      Makasih, mas. Sudah saya folbek ya blognya.

      Delete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Sila berkomentar dengan baik dan sopan. Mohon maaf, segala komentar spam, yang berisi link hidup atau yang menyebabkan broken link serta komentar yang mencantumkan identitas tidak jelas akan dihapus.

Popular Posts