Kisah Lansia (Bagian 2)

Bapak Jatuh!

Suatu pagi saya dibangunkan oleh Kiki, cucu paklik saya yang tinggal dengan bapak dan ibu.
"Eyang Kakung jatuh di musholla, mbak!"
Spontan saya lari ke arah musholla. Betul. Bapak sedang duduk di bawah! Kiki dan saya pun menarik bapak ke atas. Alhamdulillaah bisa berdiri dengan selamat.

"Kenapa, Pak?" tanya saya.
"Bapak mau sujud syukur karena kakinya sudah enakan," jawab bapak.
Bapak memang terlihat lebih lincah saat itu sampai bisa pergi ke masjid untuk sholat jumat. Rupanya itu sangat menggembirakan hati bapak. Jadi, bapak itu sujud dari posisi berdiri. Karena penglihatannya sudah agak terganggu, bapak salah memperkirakan jarak dengan lantai. Akibatnya bapak jatuh. Sempat menabrak pembatas dari tripleks tapi alhamdulillaah tidak ada luka. Lagipula bapak sudah lama tidak sujud karena sholatnya duduk di kursi.

Baca juga: Kisah Lansia Bagian 1

Jatuh Lagi!

Bukan cuma sekali bapak jatuh. Yang kedua terjadi saat menanti ibu pulang dari Palembang. Waktu itu bapak duduk di kursi depan TV, lalu merasa lelah dan ingin ke kamar. Di rumah cuma ada saya, kedua anak saya dan keponakan saya yang masih kelas 1 SD. Sedangkan kakak dan sepupu saya menjemput ibu di bandara. Kiki belum pulang dari sekolah.

Saya angkat bapak seperti biasa. Tapi karena bapak beberapa saat lalu barusan minum obat, bapak jadi sempoyongan. Saya pegangi dengan dua tangan. Pas itu tiba-tiba anak sulung saya main kabel TV. Refleks saya berteriak ke anak saya, menyuruhnya berhenti main kabel (sulung saya memang suka banget dengan perlistrikan).

Gara-gara itu konsentrasi saya pecah. Bapak oleng, saya juga. Alhamdulillaah jatuhnya pelan. Duh, saya, saya. :-(

Sesudah jatuh, bapak malah minta diambilkan bantal. Bapak tidak mau saya angkat. Karena tak ada orang lain, apa boleh buat. Saya biarkan bapak tergeletak di lantai. :'(

Segera setelah itu, Kiki pulang. Dia pun kaget, dikiranya ada yang serius. Lalu saya dan Kiki, sekali lagi, mengangkat bapak. Tapi kali ini cuma sampai bapak bisa duduk di lantai, bersandar ke kursi.

Tak lama setelah itu datanglah rombongan dari bandara, termasuk ibu. Kagetlah mereka semua.
"Ada apa??"
Karena sudah ada bala bantuan, saya mengangkat bapak bersama sepupu saya hingga bisa duduk di kursi. Alhamdulillaah.

Ada untungnya juga punya badan kecil. Bapak saya mulai mengurus sejak akhir 2006. Sekarang masih kurus dan lebih kurus lagi. Coba kalau bapak badannya gemuk? Kuat nggak ya? Disyukuri saja.

Comments

  1. Apapun keadaan memang harus disyukuri ya Mbak Diah. Semoga Bapak diberi kesembuhan seperti sedia kala, aamiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. aamiin ya rabbal 'alamin..

      Btw, saya baru tau nama pemilik blog ini. Salam kenal ya mbak Diah.. Saya baru ngeh ini blog pake nama anak mbak, damar dan rojat, beberapa waktu lalu. Jadi bingung manggil mbak gimana... :D
      *tercerahkan* makasih mbak Vhoy, atas komennya, walaupun saya masih bingung nih, mbak Diah siapa ya? :v

      Delete
    2. Mbak Vhoy: aaamiiin. Kalo nggak tau mau gimana senjatanya cuma bersyukur ya.

      Mbak Yanet: hehe...iya mbak. Saya Diah Emaknya Damar n Rojat. Eh, ada kok di 'tentang saya' :-)

      Delete
  2. Untung ibu dah pensiun mb...jadi bisa full ngurus bapak......anak2 jauh semua ya mb...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ada mbakku kok sebenarnya. Cuma rumahnya di krikilan dekat AAU. Jadi ya kl ke rumah pun ga bisa tiap saat.

      Delete
  3. Semoga bapak sehat terus ya.

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Sila berkomentar dengan baik dan sopan. Mohon maaf, segala komentar spam, yang berisi link hidup atau yang menyebabkan broken link serta komentar yang mencantumkan identitas tidak jelas akan dihapus.

Popular Posts