Kisah Lansia (Bagian 1)

Seminggu penuh saya tidak menulis apa pun di blog ini. Di sosmed pun saya yang jarang bercerita di sana juga makin tak banyak bercerita. Ke mana saja saya, ya? Lagi pulkam. Ke Jogja. Mumpung ada hari kejepit, ya? Iya dan tidak.

Ceritanya anak-anak sudah ngabani ke Jogja jauh-jauh hari. Si sulung malah sudah pamitan ke bu gurunya kalau mau ke Jogja. Pas tanggal muda ada libur, ada famili yang mantu. Ya sudah diundur pas hari kejepit saja. Eh, ternyata Alloh memberi jalan lain: mendadak ada pengumuman kalau hari Senin bu guru ada lomba, jadi sekolah libur. Waw...alhamdulillaah. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Jadilah saya dan anak-anak pulkam diantar ayahnya anak-anak. Mumpung masih pada TK, bolos pun tak apalah.

Eh, bukan cuma karena itu. Sebetulnya saya ada misi: menggantikan ibu saya yang mau pergi ke Palembang menjenguk cucu barunya. Bapak saya yang sudah lansia (72 tahun), sudah kesulitan berjalan, jadi mau ke mana-mana harus dibantu. Alhamdulillaah meski bangun dari tidur atau dari duduk harus dibantu, tapi urusan mandi dan buang air masih bisa sendiri, walau kadang juga ngompol karena saya terlambat datang saat dipanggil-panggil. Dhaharnya (makannya) pun masih biasa, tidak ada acara sirik-sirikan.

Kisah saya ini cuma setitik debu, wong baru juga berapa hari saya di sini. Jauh deh dari kisah baktinya Mbak Susan kepada bapaknya. Lah, terus buat apa diceritakan? Sekedar berbagi agar kita bersyukur.

Merepotkan
Itu yang tak boleh terucap atau tersirat di wajah dan bahasa tubuh kita saat nerawat orang tua yang telah renta. Bapak saya termasuk yang perasa. Bapak itu orangnya pendiam tapi banyak mikir. Mirip saya lah. Kalau ada yang kurang berkenan biasanya cuma diam saja dan baru mau terbuka kepada orang yang dipercaya. Makanya bapak saya sempat drop pasca pensiun dan jadi tukang adzan di kampung gara-gara itu.

Mirip dengan saat ibu-ibu merawat bayinya, saya jadi bersyukur saya sudah pernah punya bayi. Tiap kali bapak saya mengeluhkan keadaannya, saya bilang "Nggak apa-apa. Udah biasa. Anak-anak juga masih suka ngompol. Tiap hari juga nyuci sprei. Nggak apa-apa, toh yang nyuci juga mesin."

Sholat
Nah, ini yang jadi pikiran utama. Bapak sudah sholat dengan cara duduk karena tak lagi mampu berdiri. Karena kadang pakaiannya terkena najis, tiap mendekati waktu sholat, alhamdulillaah, bapak saya biasanya minta diantar ke kamar mandi untuk buang air kecil sekaligus ganti baju dan sarung lalu wudhu. Bapak memang OOTD-nya kini selalu sarung.

Sholat pun kini sudah sering lupa. Tiba-tiba di tengah sholat berhenti. Saya kan nggak bisa ngimami bapak karena saya perempuan. Alhamdulillaah di rumah ada adik sepupu saya yang laki-laki, jadi tiap mau masuk waktu sholat dia selalu dikaryakan jadi imam.

Sholat Jumat
Nah, ini yang sulit. Soalnya sepupu saya tadi masih SMA (baru aja lulus kemarin 15/5). Kalau pas dia nggak ada di rumah di waktu sholat jumat, ya terpaksa diskip. Bapak saya sempat resah, sudah 3 kali tidak jumatan. Tapi lalu bapak berkata, "Bapak ini sudah masuk kategori uzur." Sepertinya begitu. Terakhir, sholat jumat saat kakak ipar saya pas ada di Jogja dan bawa mobil. Sebab kalau naik sepeda motor bapak kesulitan naik dan turunnya. Urusan ambil pensiun bulanan saja naik becak. Pokoknya sepeda motor udah dicoret dari daftar lah.

#

Hari keenam saya di sini. Semoga saya masih diizinkan Alloh untuk merawat bapak dan semoga saya diberi kesabaran. Semoga juga bapak ridho dengan saya yang ala kadarnya ini. Semoga doa-doa saya dikabulkan Alloh. Aaamiiin.

Baca juga: Kisah Lansia (Bagian2)

Comments

  1. Iyo mbak...lansia=kembali ke anak-anak. Alhamdulillah ortuku mobilitasnya masih lancar...cuma telinga yang fungsinya berkurang jauh. Kadang ditanya A jawabnya B...30 tahun ke depan, seperti itukah kita ya mbak?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillaah yo lis bapak ibu masih sehat. Kayaknya karena aktivitas fisik di masa muda yang aktif ya? Soalnya ortu tetangga juga gitu, aktif di kala muda, sehat di kala sepuh.

      Delete
  2. Dan termasuk uzur salat Jumat (lagi) adalah mendampingi atau merawat orang sakit.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oh itu juga termasuk ya mas. Seperti dokter yang sedang ngoperasi pasien gitu ya. Makasih ya mas infonya.

      Delete
  3. Mudah2an Bapak diberi umur panjang ya Mak.
    Semoga tanda bakti Mak Diah ini menjadi salah satu pengantar Mak Diah ke Surga-Nya nanti, aamiin.

    ReplyDelete
  4. Tidak mudah merawat orang tua yg sudah sepuh, Tp jd tabungan amal kita. Semoga cepat sembuh, yang dirawat dan merawat tetap dalam kesabaran. Kagum dengan semangat ibadah beliau...

    ReplyDelete
  5. Semoga selalu diberi kesabaran ya, mak. Lahan pahala bagi anak yang mau mengurus orang tuanya di kala usia senja.

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Sila berkomentar dengan baik dan sopan. Mohon maaf, segala komentar spam, yang berisi link hidup atau yang menyebabkan broken link serta komentar yang mencantumkan identitas tidak jelas akan dihapus.

Popular Posts