Dawet Kendil Nglandung

Yeah...hari Minggu paling enak jalan-jalan sekeluarga. Seperti biasa, naik sepeda motor berempat keliling desa. Kali ini kami berkelana ke daerah yang belum pernah dijelajahi: Desa Putat, Kecamatan Geger.
Meski pernah ke Putat, tapi rute kali ini benar-benar baru. Sayang, jalannya rusak. Padahal Putat ini luas. Jadilah kami berteman goncangan sepanjang perjalanan. Lepas dari Putat, kami ngadem dulu minum dawet solo di Desa Nglandung, masih di Kecamatan Geger. Lokasinya dari SMPN 2 Geger (SMP Nglandung) ke Utara melewati barisan persawahan. Desa Nglandung sendiri merupakan jalur alternatif dari Kota Madiun ke arah Ponorogo.
Jalannya bagus dan mulus. Jalur utama yang melewati Pagottan mulai kurang nyaman dilalui saat lalu-lintas padat. Jalur alternatif Nglandung diprediksi bakal ramai di masa beberapa tahun ke depan. Ada kekhawatiran juga kalau Desa Nglandung yang kaya dengan persawahannya ini akan jadi kota. Semoga tidak. Semoga penduduknya tetap cinta bertanam tanaman pangan, bukan gedung.
Kembali ke warung. Yang menyenangkan, warung dawet ini ada di bawah pohon trembesi yang rindang dan besar. Jadi, sampai siang pun tetap adem.

Ini warungnya. Sambil menikmati suasana persawahan. Seger.
Yang juga unik, bahan-bahan dawetnya diwadahi kendil. Makin klop dengan suasana santainya, kan?

Kendilnya

Dawetnya. Mmm ...
Dawetnya berisi dawet tipis-tipis, janggelan (semacam cincau), gula merah dan santan. Boleh pakai es batu, boleh tidak. Harganya dua ribu rupiah saja. Gorengan pun ada. Harga gorengan lima ratus rupiah.
Kalau pas melintas di daerah Nglandung, sila mampir ke sini. Menurut si bapak pemilik warung yang aslinya dari Boyolali, Jateng, warung ini buka dari pagi sampai sore. "Sehabisnya," kata Bapak itu.
Semoga kesejukan warung dawet itu tetap ada meski nanti jalur Nglandung ini ramai dilalui kendaraan.

Comments

  1. duh,siang2 gini baca ini jadi pingin dawet hehehe....justru yang enak warung kayak gini ya mak,masih alami,silir silirrr

    ReplyDelete
  2. Waah...ngiler jadinya mbak, hehehe
    Iya ya, tempat seadem gitu jangan sampai berubah, sayang banget ntar bakal ilang tuh pepohonan yang menghijau :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kadang resiko kemajuan itu gitu mbak. Semoga tidak terjadi.

      Delete
  3. es dawet itu minuman favoritku lho... kalau di kotaku banyak penjual es dawet bertajuk "Es cendol Bojonegoro"...

    ReplyDelete
  4. Hawanya pas lagi panas gini. Segeeeer

    ReplyDelete
  5. Aku pecinta dawet juga mbak...tapi yen nemu di daerah sini pasti tulisannya dawet ayubanjarnegara....eh, dawet dicampur tape enak lho mb. Dah pernah mampir dawet yang Kalasan? Baratnya Prambanan. Seger mbak...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ho oh kl di jogja dawet ayu. Tape ketan yo? Enak sih tapi gigiku dah ada yg bolong jd nyangkut.
      Dawet bogem itu ya dekst prambanan?

      Delete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Sila berkomentar dengan baik dan sopan. Mohon maaf, segala komentar spam, yang berisi link hidup atau yang menyebabkan broken link serta komentar yang mencantumkan identitas tidak jelas akan dihapus.

Popular Posts