Suami Mandiri

Suatu hari sekelompok teman mengucapkan selamat kepada seorang teman. Ada apa? batin saya. Ulang tahunkah? Ternyata jawabannya sungguh mencengangkan: suami teman tadi sedang bertugas ke luar kota selama tiga hari.
"Merdeka, ya, cyin."
"Kibar bendera, cyin."

Eh?? Segitunya??

Cerita punya cerita, suami si teman tadi cukup 'merepotkan'. Konon selain sering melarang ini-itu kepada sang istri, si suami tadi juga selalu minta diladeni. Sampai ke urusan makan pun harus diambilkan di piring oleh si istri. Kalau tidak begitu si suami tidak mau makan. Romantis? Mungkin iya, tapi pada kenyataannya teman saya tadi sampai sakit berhari-hari dengan badan panas dingin tapi tak terdeteksi sakit apa, ya gara-gara kemanjaan suaminya tadi. Jadi, ketika ia merasa bebas merdeka selama suaminya tak di rumah, bisa jadi sebuah ekspresi yang wajar.

Gambar dari http://klikuk.com/adab-makan-dan-minum/

#

Sebetulnya jadi suami yang tak selalu minta diladeni itu menyenangkan. Betul, nggak, ibu-ibu?? Suami mandiri, gitu. Makan ya ambil sendiri, toh istri sudah menyediakan makanan dan peralatan makan. Mandi ya ambil handuk sendiri, toh sudah disediakan perlengkapan mandi dan pakaian ganti oleh istri. Minum obat bagi yang punya kewajiban minum obat rutin ya tinggal minum saja, toh gelas dan air sudah disediakan istri.

Bahkan seorang lelaki mulia, terhormat dan punya banyak urusan penting, Rosululloh Muhammad sholallohu alaihi wa sallam, pun menjahit sendiri sandalnya yang putus. Padahal beliau adalah contoh terbaik bagi kita. Masak yang tidak punya kedudukan semulia beliau enggan meniru?

Istri bukan properti pribadi suami. Istri juga punya kesibukan lain yang menjadi tanggung jawabnya. Menjadi suami bukan berarti menandatangani kontrak punya pelayan seumur hidup. Kalau jadi suami cuma ingin diladeni dalam segala hal, duh ... jadi bayi lagi aja deh.

Comments

  1. Setuju mbak.........! Klo semua minta dilayani...mmg nya kami terlahir untuk jadi pelayan. Berbeda jenis, tapi setara

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya. Beda tapi jangan dianggap ga sekelas ya.

      Delete
  2. Setujuuu...Hidup rumah tangga nggak bikin seseorang pria jadi invalid,kan?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul mbak. Pria melebur separuh dirinya saat sudah menikah, memang betul. Tapi melebur tidak untuk membebani justru agar makin sempurna kan ya.

      Delete
  3. Dan, sejak saya menjadi suami alhamdulilah saya 'merasa' tak pernah menyusahkan istri. Buktinya ketika sya harus bermalam dikantor dia sering telpn dan bilang kangen. :)

    ReplyDelete
  4. Sebenarnya boleh sih Mbak, kalok suami sesekali minta diambilin makanan.. Tapi ya kalok harus setiap saat, kayaknya gimana gitu. Hihihi.. :P

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Sila berkomentar dengan baik dan sopan. Mohon maaf, segala komentar spam, yang berisi link hidup atau yang menyebabkan broken link serta komentar yang mencantumkan identitas tidak jelas akan dihapus.

Popular Posts