Kalau Sayang Jangan Maksa

"Sayaaang, sini dong, cium Bude..." Pernah dengar yang seperti itu? Kalau pernah, tos dulu. Kalau belum, bayangin aja. Adegan selanjutnya adalah "mmuah...mmuah..." di pipi. Eh, jangan ngeres dulu, ya, ini adegan antara seorang anak kecil dengan orang dewasa. Si anak ogah-ogahan, si orang dewasa ngejar-ngejar.

Peluk cium untuk anak apalagi bayi itu penting. Mengeratkan hubungan dan membangun rasa saling percaya. Anak yang sering dipeluk dan dicium akan tumbuh jadi sosok yang percaya diri dan penuh kasih sayang.

Cium dulu...

Eh, tapi, dipeluk dan dicium siapa dulu? Orang tuanya atau orang terdekat yang mengasuhnya. Nha kalau oleh orang di luar itu?

Anak pun punya sensitivitas. Orang di luar lingkungannya, meskipun keluarga sendiri, bisa dianggap orang luar alias stranger. Mendekati anak dengan posisi kita sebagai orang luar berpotensi menghadapi penolakan. "Lha saya ini tantenya." Iya. Tapi kalau jarang ketemu, ya tetap saja dianggap orang luar. Jadi, acara peluk-cium pun bakalan dianggap tidak masuk daftar oleh anak.

Dengan menolak, sebetulnya itu pertanda bagus. Berarti anak sudah paham siapa saja yang boleh mendekatinya dan siapa saja yang tidak boleh. Bersyukur saja kalau niat kita peluk-cium ditolak karena kita sebagai stranger. Dan tak perlu lah memaksa apalagi mengatai anak "Oh, kau nggak sayang sama Bude ya." Oh, please, pasti orang tua si anak pun akan merasa tidak nyaman.

Bagaimana kalau penasaran pingiiin banget cium-cium? Ya pedekate-nya jangan ekstrim. Ajak ngobrol dulu, beri hadiah, ajak bernyanyi, pelan-pelan gandeng tangannya. Nah, kalau sudah ada tanda-tanda welcome, baru deh kita cium. Itu pun jangan langsung membabi buta, ya. Sewajarnya saja. Kecup sayang, tak perlu nguyel-uyel pipi si anak segala.

Pun kita harus lihat kondisi. Anak balita dengan yang lebih besar tentu beda. Apalagi anak umur 10 tahun. Pasti banyak nolaknya. Taruh posisi kita di posisi anak, nyaman nggal kalau kita dibegitukan. Yang jelas kalau sayang jangan maksa. Masih banyak cara lain untuk mengekspresikan rasa sayang. Setuju?

Comments

  1. Betul Mak, kebanyakan dari kita menunjukkan kegemasan pada anak malah pada akhirnya menyakiti karena terlalu keras or semangat nguyel2 si anak :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bikin trauma mak. Pernah juga ya digituin waktu kecil?

      Delete
  2. aku malah gak pernah minta cium atau nyium ponakan, rasanya ehem gimana ya, gak terbiasa sih di keluarga aku mah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihi...saya juga gak terlalu amat mak. Kalo saya gemeesss betul baru deh cium.

      Delete
    2. Hihi...saya juga gak terlalu amat mak. Kalo saya gemeesss betul baru deh cium.

      Delete
  3. Pernah kejadian ada anak yang malah nangis bila dicium bude-nya...seperti anakku mbak, karena badannya gemuk maka bnyak orang yang gemes liatnya, ada yang tiba2 nyium ada yang tiba2 nyubit padahal sih niatnya guyon tapi namanya anak2 kan...tentunya marahlah ia. btw klo sm saya dimanapun dia selalu cium saya...sudah terbiasa hehehe

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Sila berkomentar dengan baik dan sopan. Mohon maaf, segala komentar spam, yang berisi link hidup atau yang menyebabkan broken link serta komentar yang mencantumkan identitas tidak jelas akan dihapus.

Popular Posts