'Katanya'

Betapa rumitnya hidup ketika berjumpa dengan 'katanya'.

Katanya, kalau menikah tidak boleh di bulan anu. Katanya, kalau di malam anu harus melakukan anu. Katanya, kalau mendengar suara burung anu berarti akan terjadi anu. Katanya...katanya... Duh, malah jadi ingat lagunya Trio Kwek-kwek deh.

Katanya, semua 'katanya' itu wejangan orang tua. Katanya, yang melanggar tahu sendiri akibatnya. Katanya ingin tak percaya, tapi kok ya terjadi.

Seribu 'katanya' konon terbukti kebenarannya. Tapi jika ditelusuri agak jauh sedikit saja, 'katanya' itu akan menjumpai percabangan dan akhirnya tidak jelas asal muasalnya. Bahkan ada yang makin menyesatkan. Tapi seribu 'katanya' itu pun tak tergoyahkan. Kalimat pamungkas 'kata orang tua' sungguh sulit dibantah. Padahal, tahukah bahwa 'kata orang tua' ini juga diucapkan orang-orang di masa dulu?

Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang diturunkan Allah." Mereka menjawab: "(Tidak), tapi kami (hanya) mengikuti apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya." Dan apakah mereka (akan mengikuti bapak-bapak mereka) walaupun syaitan itu menyeru mereka ke dalam siksa api yang menyala-nyala (neraka)? (QS. Luqman [31] ayat 21)

Orang yang hidup di zaman serba digital ini pun banyak yang tersandera 'katanya'. Mau melawan arus, takut dianggap tak berbakti, padahal hati sungguh tak ingin. Apalah daya, iman hanya berwujud dalam lantunan doa, sebagai bukti keberadaannya masih tersisa.

Gambar dari http://www.okeygan.com/2012/10/informasi-banyuwangi-tumpeng-seribu.html

Siapa yang masih percaya 'katanya', konon katanya ia menjunjung nama para pendahulu.

Comments

  1. Aku sih ngga percaya "katanya", percaya Allah aja deh biar selamet ;)

    ReplyDelete
  2. konon "katanya" itu menyesatkan ya mbak...kata ibu ini,kata ornag ini...pasti jebule panjang..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Menyesatkan ketika nggak ada sumbernya yang jelas, Mbak. Mirip sama hoax deh gitu.

      Delete
  3. Australia negeri wol... katanya-katanya :D
    *nyanyi lagu Trio Kwek-Kwek :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Di sini Jogjakarta...Sri Sultanlah rajanya..waw...waw... :-)

      Delete
  4. katanya itu sama dengan mitos ya Mbak ?

    ReplyDelete
  5. Hiheihei susah juga kalau gitu pembuktian dari "katanya"

    ReplyDelete
    Replies
    1. Meski susah tapi tetap dipercaya, Pak. Tuh, susah, kan? :-)

      Delete
  6. Kalau nurutin "katanya" akan panjang and ribet mak urusannya. mentok sana-sini. Jadi bener "SAY NO TO SYIRIK" :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul, Mak. Cuma kalau dibilang syirik nggak terima. Ditanya sumbernya, nggak jelas. Duhai...

      Delete
  7. Katanya itu 'jarene' Mak hehehe.

    Memang agak susah menyadarkan kalo sudah ketemu yg namanya 'katanya'

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jarene ngono, Mak. Nah, yang penting adalah cara menghentikan informasi salah itu ke generasi berikutnya.

      Delete
  8. Nanti klo yang tua tua dah ga ada...."kata" nya masih ada ga ya....yang penting sumber bisa dilacak, dan ada penjelasan yang bisa masuk logika menurutku mbak....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya itu. Kalau ada sumbernya dan nggak bertentangan dengan agama. Kadang ada juga 'katanya' yang jadi salah jalan karena pakai bahasa tersirat. Nah!

      Delete
  9. Ahahaaiii... benerr banget mak... Sebaiknya kita percaya apa yang difirmankan Allah dalam Al-Qur'an yaaa...

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Sila berkomentar dengan baik dan sopan. Mohon maaf, segala komentar spam, yang berisi link hidup atau yang menyebabkan broken link serta komentar yang mencantumkan identitas tidak jelas akan dihapus.

Popular Posts