"Kyaaa ..."

Pulang dari menjemput anak, saya kaget. Nyaris panik. Benda segede ini nongkrong persis di depan rumah.

"Kyaaa..."

Kalau saya tukang pasang sound system, pebisnis sound system atau empunya hajat mungkin tidak masalah. Tapi ... saya ini cuma tetangga yang tetangganya sedang punya gawe menikahkan anaknya. Duh, kebayang sudah bagaimana hebohnya nanti para pengeras suara itu membahanakan energi listrik yang ditangkapnya menjadi energi suara.

Dan betul, sesi berikutnya adalah sesi kebrebegan. Bahkan sampai jendela kaca dan pintu gulung (rolling door) berjoget-joget seirama dentuman ketipung. Terbayang pula berhari-hari bakalan kebrebegan mengingat acara berlangsung selama tiga hari. "Kyaaa ..."

Saya tidak ingin tidak maklum. Ya namanya juga orang punya hajat, wajar kalau nyetel musik lebih keras dari biasanya. Masalahnya kadar sensitivitas tiap orang terhadap kebisingan berbeda. Tukang pasang sound system mungkin pada awalnya juga tidak nyaman, lama-lama terbiasa. Jadi dengar suara musik menggelegar pun mungkin bisa santai. Lha saya ini sensitif banget. Suara berisik anak-anak plus TV saja sudah bisa menyeret saya ke dalam jurang amarah, apalagi ini.

Terus, gunanya nulis beginian buat apa? Pertama, untuk mbuang uneg-uneg. Kedua, menghimbau kepada siapa pun yang mungkin punya hajat agar mengukur suara musik yang dipersembahkan kepada lingkungannya. Ketiga, ya siapa tahu ada aparat berwenang yang baca tulisan saya lalu berkenan menerbitkan atau menertibkan aturan yang beginian. Setidaknya ada Perdes atau PerRW atau PerRT lah.

Akhir kata, saya berharap banyak keluhan ini mendapat perhatian. Saya sarankan untuk meminta pendapat tetangga kanan-kiri, musik apa yang ingin didengarkan. Kemudian optimalkan undangan dengan denah, jadi si empunya hajat tak perlu mengumumkan besar-besaran lewat sound system mengenai lokasi dan waktu acara. Sekian.

Comments

  1. whaa sound system segede gaban masuk ke dalam gang seperti itu, apa gak goyang tuh rumah tetangga. Kayak mau konser metallica saja.
    Ini harus melalui kesepakatan warga, mau komplen atau mau pasang, tidak bisa seenaknya sendiri ambil keputusan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, kalo pengalaman saya Bang Mandor .... karena saya tinggal dalam gang. Orang2 dalam gang pada merasa akan memiliki "kebersamaan" dengan tetangganya jadi gak perlulah izin2an karena tetangga bakal ngerti. Jarang itu yang minta izin sama tetangganya utk urusan yang bisa mengganggu kenyamanan orang lain. Selain masalah musik itu, contoh lain misalnya masalah jemuran, seenaknya saja menjemur di pagar tetangga atau malah memasang paku di tembok tetangga tanpa izin lalu memasang jemuran di situ (seperti di pagar tenbok rumah kami ini dan di pagar besi tetangga sebelah)

      Delete
  2. seharusnya begitu, ya. ini speakernya sudah diambil sebagian, tinggal dua speaker segaban-gaban. itu aja jendela dan pintu masih kayak digedor-gedor.

    ReplyDelete
  3. Duh Mak .... ada jurang amarah :D

    3 hari 3 malam itu mengerikan ya ...

    Saya pernah juga merasakan ketempatan sound system tetangga tanpa permisi, persis di sisi kanan rumah yang nota bene persis di dekat kamar saya. Untungnya cuma semalaman. Pernah juga dengan izin, pas depan rumah (di teras) tapi untungnya cuma semalam. Kalo 3 hari? Waduhhhh :(

    Yang sabar ya Mak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mau ngecek captcha-nya, ada gak ya ... tadi lupa ... ada atau tidak *mulai pikun kayaknya duh*

      Delete
  4. 3 hari 3 malam???haisyah..g kebayang deh,semalam aja udah bikin emosi,apalagi kalo ada karaoke mpe jam 12 lebih,beneran bikin telinga aduhai...yang sabar ya mak

    ReplyDelete
  5. mak Niar:.makasih mak udah ikut ngecek captcha-nya

    mak HM: huhuhu...ini baru hari kedua mak. dadaku bergetar-getar...

    ReplyDelete
  6. Ceritanya....tetangga sedang show of force ya mbak. Klo aku di posisi mbak....klo mmg dah bnr bnr mengganggu......bilang aja ke yang ngurusi sound..."mas, volumenya dikecilin bisa, anak saya rewel gak bisa tidur"

    ReplyDelete
  7. udah. tp krn petugasnya udah terbiasa dg hingar-bingar jd ngecilinnya cm sak iprit. malah mereka tuh pd duduk2 tenang di atas speaker.

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Sila berkomentar dengan baik dan sopan. Mohon maaf, segala komentar spam, yang berisi link hidup atau yang menyebabkan broken link serta komentar yang mencantumkan identitas tidak jelas akan dihapus.

Popular Posts