Nenek yang Tak Bersedia Momong Cucu-cucunya

Ibu. Sudah beberapa kali saya menulis tentang beliau. Sosok penting
dalam hidup saya. Bukan cuma bagi saya, tapi ibu penting bagi semua orang. Sebab
sepanjang yang saya tahu, semua manusia memiliki ibu, kecuali Nabi
Adam dan istrinya. Oleh karena itu, kali ini saya ingin berbagi kisah tentang ibu saya
yang satu lagi yang belum pernah saya ceritakan di sini: Ibu mertua.

Ibu mertua saya seorang pekerja keras. Beliau terlahir dengan darah
pedagang.
Beliau juga seorang yang kuat. Betapa tidak? Sebelas
putra-putri lahir dari rahim beliau. Bisa dikatakan, ibu mertua saya
ini hampir tiap tahun hamil atau melahirkan. Bahkan jarak kelahiran
suami saya dengan kakaknya hanya sebelas bulan saja. Subhanalloh.

Ibu mertua saya di masa hidupnya adalah pedagang sukses. Bersama Bapak
mertua saya, beliau memiliki toko kelontong terbesar dan terlengkap di
zamannya, di tahun 1980an-1990an. Kesibukan beliau mengelola bisnis
tidak membuat beliau lupa mendidik putra-putrinya. Setidaknya terbukti
dari pendidikan tinggi yang diraih putra-putrinya dan jiwa ulet yang
berhasil beliau tanamkan kepada mereka.

Memiliki banyak putra bukan urusan mudah. Banyak anak, beragam watak,
beragam pula cara mendidik dan menyayanginya. Yang namanya keluarga
besar, pasti ada saja ceritanya, adaaa saja konfliknya. Maka, untuk
menghindari kecemburuan, Ibu mertua saya tidak bersedia momong satu
pun cucu beliau. Bukan kenapa-kenapa, tapi terbayang kan kalau cucu
yang satu 'dipegang' sementara yang lain tidak? Tidak dipegang bisa
jadi karena tak sempat, bukan karena tak sayang. Kalau dua-tiga cucu
mungkin masih tak mengapa. Kalau belasan? Belum lagi potensi
kecemburuan yang mungkin timbul di antara putra-putri beliau. Bisa-bisa nanti ada yang berpikir, "Anaknya
digendong, disuapi kok anakku tidak?"
Jadi, saya kira prinsip ibu
mertua saya itu masuk akal.

Banyak kisah dan kegigihan Ibu mertua yang saya dengar. Namun semuanya
hanya saya dengar dari suami saya dan ipar-ipar saya. Saya cuma satu
kali berkesempatan bertemu beliau. Beliau meninggal sebelas bulan
sebelum saya menikah, menyusul Bapak mertua yang sudah lebih dulu
kembali ke hadirat Alloh. Semoga Alloh menganugerahi pahala jariyah
bagi Ibu dan Bapak mertua saya di alam barzakh sana, mengampuni
dosa-dosa mereka dan memberi tempat yang baik di surga kelak.
Aaamiiin.

Comments

  1. Ooo....begitu to ceritanya mbak. Tak pikir knp nggak mau momong..... Tp bener juga prinsipnya

    ReplyDelete
  2. Eyang Putriku super baik... bersedia momong 3 cucu dari 3 anaknya saat kecil (termasuk saya, sempat juga dimomong eyang). Dulu anak-anak eyang semuanya bekerja, jadi di pagi hari saya dan dua sepupu saya dititipkan ke eyang uti. Eyang Uti sendiri berdagang di rumah, nge-warung dan bikin es mambo. Itu dulu, awal 90-an...

    Sekarang giliran ibuku yang (akan) menjadi eyang. Semoga ibundaku panjang umur, sehat selalu, bisa main dengan cucu-cucunya nanti :)

    ReplyDelete
  3. Bunda Raka-Alya: ho oh gitu asal muasalnya bun.

    mak Widy: aaamiiin. semoga ibu mak Widy bisa momong cucu dan semoga nanti kl giliran kita tiba kita jg sehat dan bisa momong cucu kita.

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Sila berkomentar dengan baik dan sopan. Mohon maaf, segala komentar spam, yang berisi link hidup atau yang menyebabkan broken link serta komentar yang mencantumkan identitas tidak jelas akan dihapus.

Popular Posts