Ego Ibu

Pagi ini saya beradu argumen dengan kedua jagoan saya. Persoalannya ada pada ketidaksepakatan kami tentang waktu sikat gigi. Saya menyuruh anak-anak mandi tanpa sikat gigi karena mereka belum sarapan. "Sikat giginya sesudah maem saja," kata saya. Si Sulung dan Si Kecil merengut tapi tetap menurut.

Gambar dari rumahgigiku.blogspot.com

Kira-kira setengah jam kemudian saat hampir waktunya berangkat sekolah, saya meminta mereka menyikat gigi. Protes pun bertebaran. Kata Si Kecil, "Gigiku itu kalau sikatan maunya sebelum makan." Si Sulung tidak mau beranjak untuk sikat gigi sampai saya tersulut kemarahan. *ego ibu*

Suasana jadi tidak enak gara-gara masalah kapan mau sikat gigi. Bagi saya, sikat gigi itu ya sesudah makan, bukan sebelumnya. Sementara anak-anak beranggapan tak mengapa sikat gigi sebelum makan karena sambil mandi. Kalau ke kamar mamdi lagi kan tidak asyik.

Anak-anak salah, kan? Ya, salah, kalau dilihat dari sisi waktu yang pas untuk menyikat gigi. Saya? Juga salah jika ditilik dari pendekatan kepraktisan ke kamar mandi. Kami memang tidak punya wastafel, jadi kalau sikat gigi ya di kamar mandi atau di tempat wudhu yang juga dekat kamar mandi.

Akhirnya setelah anak-anak berangkat ke sekolah diantar bapak mereka, saya termenung sendiri. Saya salah dua kali. Tidak memahami keinginan anak dan memaksa anak menuruti keinginan saya. Pantas saja Si Sulung sering memaksa-maksa, lha wong contohnya juga begitu.

Ah, ya. Lain kali saya akan kendorkan sedikit idealisme saya. Sikat gigi sambil mandi, lalu sarapan dan berangkat sekolah, tak apalah. Keliru sedikit tak mengapa, nanti kalau sudah paham anak-anak insya Alloh pasti menurut. Toh mereka juga masih sikat gigi juga di sore hari. Yang penting sekarang adalah cara agar saya diterima di hati mereka kembali karena di sanalah saya tinggal.

Comments

Popular Posts