Saat Perempuan Bekerja di Luar Rumah

Pagi ini saya berjumpa dengannya. Seorang ibu yang bersemangat. Senyum mengembang di wajahnya yang tak lagi muda. Bintik-bintuk di pipinya tak mengurangi keindahan senyumnya.

"Badhe tindak pundi, Bu?", tanya saya. Mau pergi ke mana, Bu? Beliau mendekati saya. Sambil terus melangkah kami ngobrol sebentar.

"Mau buka warung," katanya.
"Di mana, Bu?" tanya saya. Beliau tersenyum lagi. Ternyata beliau bekerja di warung makan lesehan milik tetangga. "Saya bagian masak," katanya lagi.

Gambar dari http://gicdepok.wordpress.com/lembaga/"

Saya turut senang melihatnya bersemangat. Seingat saya, beberapa bulan lalu suaminya meninggal dunia. Beliau tinggal sendirian dan terlihat murung. Kini beliau terlihat penuh harapan hidup lagi. Siapa yang tak ikut bahagia melihatnya?

Bekerja dan mendapatkan penghasilan sendiri bagi sebagian perempuan adalah kebahagiaan. Sebagian lagi bahagia bekerja di luar rumah karena alasan lain. Seperti ibu saya. Ibu saya pernah berkata "Kerja di luar rumah itu bisa untuk mbuwang sebel." Membuang kebosanan di rumah. Bukan berarti ibu saya sebel terus di rumah, tapi punya kegiatan di luar rumah itu juga penting bagi beliau.

Saya tak hendak masuk dalam pro dan kontra perempuan bekerja di luar rumah. Saya hanya ingin membagi hal yang saya lihat di sekeliling. Ada ibu yang bekerja di luar rumah, kemudian berhenti bekerja untuk mengurus keluarganya, lalu kini bekerja di luar rumah kembali ketika anaknya sudah beranjak dewasa. Ada ibu yang full mengurus rumah tangga kemudian kini menekuni hobi memasak dan merajutnya hingga menghasilkan uang sendiri. Itu dilakukan ketika anak-anaknya sudah besar dan mandiri.

Seorang teman saya pernah berkata "Eman-eman, sekolah sampai sarjana trus cuma di rumah saja ngurus anak." Saya jawab "Sekarang mungkin iya, mbak. Tapi nanti kalau anak-anak sudah besar, insya Alloh ada kesempatan untuk bekerja." Optimis banget, ya. Ya harus. Sebab sudah banyak contoh yang saya lihat. Perempuan bekerja setelah ada kesempatan datang. Tak perlu takut dan malu, ah. Rejeki orang siapa yang tahu. Setuju?

Comments

  1. dengan berjalan selalu pada relnya sangat bagus jika kemudian perempuan bekerja di luar rumah, jamannya menuntut hal itu harus di lakukan perempuan sih.

    ReplyDelete
  2. every mom has own battle ya mak, jadi pilihannya kembali ke kondisi si ibu

    ReplyDelete
  3. kuliah sarjana kan buat ngurus anak... hehe :))

    ReplyDelete
  4. Mang Lembu: yg jelas jangan terpengaruh zaman. semuanya tergantung kondisi masing2.

    Mak Rina: betul mak. setiap org punya masalah masing2, jd tak bisa dipukul rata. yg paling tahu ya diri kita sendiri.

    Mbak Lucky: waduh...kl niatnya spt itu ya keliru mbak. ngasuh anak itu sekolah keluarga. kl kuliah itu ya harus diniatkn utk mencari ilmu dan upgrade diri. yg didpt dr pendidikn di sekolah itu kan yg utama (mnrt saya) adl membentuk pola berpikir dan mengatasi masalah.

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Sila berkomentar dengan baik dan sopan. Mohon maaf, segala komentar spam, yang berisi link hidup atau yang menyebabkan broken link serta komentar yang mencantumkan identitas tidak jelas akan dihapus.

Popular Posts