Istri Lemah

"Aku mangkel sama yang jualan perabot di pasar."
"Kenapa?"
"Jualan kok nggak ramah."
"Lho, ya salahmu, kenapa beli di sana?"

Itulah percakapan saya dengan suami saya sepulang saya beli timbangan kue di sebuah kios di pasar. Bukannya dapat dukungan, saya malah dikritik.

"Kamu itu," kata suami saya, "Kayaknya suka diperlakukan begitu."

Hah?? Masak, sih??

Suami saya meminta saya mengingat-ingat kejadian apa saja yang mirip seperti kejadian di pasar tadi yang sering saya ulangi. Saya pun diam-diam mengiyakan. Diam-diam, lho, ya. Gengsi juga kalau bilang iya di depan suami. Hahaha...

Saya ingat saya pernah beli di warung X dan diperlakukan kurang ramah oleh si penjual, tapi saya kembali beli ke sana lagi seolah-olah tak ada warung lain lagi di dunia. Hmm...ada apa dengan saya?

Suami saya berkata bahwa saya harus berani keluar dari perasaan rendah diri saya. Semakin rendah saya menilai diri, semakin orang lain menginjak saya. Tentu tak semua orang, namun orang yang berpotensi menekan orang lain akan dengan senang hati menundukkan saya.

"Belajarlah untuk tidak menerima perasaan tak nyamanmu," demikian pesan suami saya. "Jangan berusaha menyamankan diri kalau kamu tidak merasa nyaman."

Betul. Saya sering merasa lemah karena tak ingin menyakiti perasaan orang lain. Saya terlalu berhati-hati, terlalu banyak perhitungan.

Ternyata saya tidak sendirian. Suatu kali seorang teman di sekolah anak saya curhat tentang usahanya. Teman saya itu merasa dicurangi rekan kerjanya. Ceritanya ia berjualan air mineral dalam galon. Si pemasok galon rupanya kurang jujur. Beberapa kali teman saya tidak dikirimi barang padahal sudah dibayar lunas. Teman saya ini punya sifat sama dengan saya: tak mau menyakiti perasaan orang lain. Sayangnya saat teman saya ini ingin putus hubungan dengan si pemasok, suaminya melarangnya dengan alasan tak enak hati. Woh, ternyata mereka punya sifat yang sama! Bisa rugi terus dong bisnisnya kalau begini.

Beruntungnya saya punya suami yang tak seperti saya. Sangat berbahaya kalau istri lemah. Bisa-bisa visi keluarga tak bisa dibumikan. Bisa-bisa keluarga tumbuh menjadi keluarga lemah dan suami jadi repot. Saya tak mau jadi istri lemah.

Saat ini saya mulai merasa tak harus selalu membuat orang lain senang. Jika dalam pergaulan ada kata atau tindakan orang lain yang membuat saya tak nyaman, saya sudah berani mengambil tindakan. Entah itu pergi menjauh, mengganti topik pembicaraan atau tak menemuinya selama beberapa saat. Saya merasa diri saya harus dihargai, setidaknya oleh diri sendiri.

Satu hal yang saya pelajari dari kejadian ini adalah: dengarkan nasihat atau pendapat suami. Mungkin kita tak ingin mendengarnya, tapi tahanlah. Tak perlu bicara, cukup dengarkan, endapkan dalam hati. Insya Alloh ada banyak yang bisa kita raih dari nasihat suami, sebab bagaimanapun, suami adalah pemimpin istri.

Tulisan ini diikutkan Giveaway Istri yang Baik

Comments

  1. oh GA toh. mau kutan tapi belom pernah ngerasain jadi istri :p good luck ya GAnya

    ReplyDelete
  2. ahaha...mas Yandhi. para suami boleh ikut jg kok mas. istri yg baik dr sudut pandang suami.

    ReplyDelete
  3. setiap hari selalu belajar dan berusaha menjadi istri yang baik Mbak.... :)

    ReplyDelete
  4. Iya mbak, belajarlah untuk keluar dari zona nyaman :)
    Mbak sangat beruntung mendapatkan suami yang mau mendukung utk jadi lebih baik & mengajarkan pada mbak untuk menghargai diri sendiri sebagaimana ingin dihargai orang lain.

    ReplyDelete
  5. Terima kasih ya Mbak sudah ikutan GA kami. Mohon bersabar menunggu pengumumannya :)

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Sila berkomentar dengan baik dan sopan. Mohon maaf, segala komentar spam, yang berisi link hidup atau yang menyebabkan broken link serta komentar yang mencantumkan identitas tidak jelas akan dihapus.

Popular Posts