Perjuangan Mencetak Generasi Cinta Al-Quran

Siapa yang tak ingin mempunyai generasi penerus yang cinta Al-Quran? Rasanya hampir semua muslim menginginkannya, sebab generasi yang cinta Al-Quran bukan saja pandai dan fasih membaca Al-Quran, tapi juga mampu menghafal dan mengamalkannya.

Demi mewujudkan hal itu, seorang pensiunan guru kini mengabdikan diri mengajar di Taman Pendidikan Al-Quran (TPA) di tempat beliau tinggal. Namanya Ibu Sudjono, akrab disapa dengan nama Bu Jono.

Pendirian TPA

Pada 2005 Bu Jono bersama beberapa orang mengusulkan pendirian TPA di kampungnya, di Desa Baturetno, Kecamatan Banguntapan, Bantul, DIY. Saat itu sudah ada TPA yang besar dan bagus, santrinya banyak. Tapi TPA itu berada di kampung sebelah. Alangkah baiknya bila ada TPA di kampung sendiri. "Agar anak-anak punya kegiatan sore yang bermanfaat daripada sekedar bersepeda dan berlarian ke sana ke mari", demikian pemikiran Bu Jono saat itu.

Berperan Ganda

Pendirian TPA pun terlaksana dengan dukungan takmir masjid. Berdirilah TPA Al-Fattah, disesuaikan dengan nama masjid tempatnya bernaung. TPA Al-Fattah saat itu dikelola seorang Direktur (sebutan pimpinannya memang direktur) yang merupakan warga setempat yang kebetulan juga bekerja di Departemen Agama. Ustadz dan ustadzahnya tak lain dan tak bukan adalah pemuda-pemudi setempat. Bu Jono turut serta sebagai ustadz merangkap pengurus.

Peran ustadz dan ustadzah bukan pekerjaan gampang. Satu per satu ustadz dan ustadzah mengundurkan diri karena merasa tak mampu mengajar, baik secara keilmuan maupun pembagian waktu. Akhirnya tinggal beberapa ustadz yang tersisa, termasuk Bu Jono.

Memang sudah digariskan Alloh, Direktur TPA ikut mengundurkan diri sebab tak bisa mengalokasikan waktu untuk TPA mengingat kesibukannya yang padat. Bu Jono pun ditunjuk untuk menjadi pejabat sementara.

Beberapa waktu kemudian TPA Al-Fattah mendapat bantuan tiga orang ustadz lulusan pesantren. Salah satu dari ketiga ustadz itu diserahi tugas sebagai Direktur. Suasana TPA pun membaik dan sempat mengikuti Festival Anak Sholeh dan menorehkan prestasi. Namun, sekali lagi, TPA terpaksa ditinggalkan sang direktur, yang juga seorang guru, karena pindah tugas mengajar di Pati, Jawa Tengah. Sekali lagi pula, Bu Jono mengambil tanggung jawab sebagai pejabat sementara.

Beberapa waktu kemudian kembali lagi TPA Al- Fattah memiliki seorang direktur. Kali ini seorang ustadzah. Direktris yang ini tak bertahan lama. Beliau mengundurkan diri karena kesibukan pekerjaannya. TPA Al-Fattah pun tak memiliki direktur. Lagi.

Strategi Mengajar

Bukan hanya masalah direktur. Ustadz dan ustadzah TPA Al-Fattah pun semangatnya pasang surut. Kadang hadir semua, kadang tidak. Padahal jumlah santri semakin meningkat. Tak jarang hanya ada dua guru yang datang mengajar. Salah satunya Bu Jono.

Walaupun demikian kegiatan belajar mengajar di TPA yang berlangsung tiga kali sepekan usai asar di Masjid Al-Fattah tak berhenti. Bu Jono senantiasa berusaha hadir sebelum kegiatan dimulai. "Tidak tega melihat santri sudah datang tapi gurunya belum ada", begitu kata beliau. Meski tak selalu bisa datang lebih awal, tapi Bu Jono sering menjadi guru pertama yang hadir.

Tentu repot sekali menangani santri yang banyak dan rata-rata berumur 5-12 tahun seorang diri. Untuk mengatasinya, Bu Jono biasanya mendata siapa saja yang belum sholat asar, lalu dibimbingnya untuk wudhu dan sholat. Biasanya suasana bisa lebih terkendali sebelum ustadz dan ustadzah lain hadir. Kegiatan belajar Iqro dan baca Al-Quran baru dimulai saat ustadz dan ustadzah yang lain sudah hadir.

Bu Jono bersama santri saat HUT pertama TPA, sebulan usai gempa Jogja 2006 (foto milik TPA Al-Fattah)

Menantang Santri

Bu Jono memiliki cita-cita mencetak generasi penerus yang hafal dan cinta Al-Quran. Cara yang ditempuh selain melalui kegiatan rutin TPA, Bu Jono meluncurkan program hafalan surat-surat Juz Amma. Santri-santri ditantang untuk menghafal beberapa surat pendek. Yang berhasil menghafal diberi hadiah.

Tahap pertama para santri ditantang menghafal lima surat terakhir (An-Naas sampai An-Nashr). Berhubung pesertanya masih anak-anak, hadiahnya sederhana saja: makan ayam goreng gratis di kedai ayam goreng terdekat. Tantangan lima surat ini sudah berlangsung tiga putaran.

Tahap kedua tantangan tujuh surat berhadiah tiket masuk ke kebun binatang. Pemenang tahap kedua ini baru ada satu orang.

Tahap berikutnya Bu Jono berencana menggelar tantangan hafalan surat lebih banyak lagi dengan hadiah tiket kereta api pulang-pergi Jogja-Solo.

Bahkan Bu Jono menantang santri untuk bisa hafal seluruh surat di Juz Amma. Hadiahnya? Tiket pesawat terbang pulang-pergi Jogja-Jakarta. Semua hadiah itu diambilkan sendiri dari kocek Bu Jono. Apa tidak rugi? Saat ditanya begitu beliau menjawab "Tidak apa-apa. Hanya santri pilihan yang bisa menjawab tantangan saya". Bu Jono pun terbuka pada keniscayaan adanya sponsor atau donatur lain.

Impian Luhur

Mengapa Bu Jono begitu bersemangat memakmurkan TPA Al-Fattah? Beliau mempunyai impian bahwa masjid di kampungnya bisa memiliki muadzin yang baik, imam yang hafizh dan baik bacaannya, khotib yang mumpuni dan masyarakat yang cinta Al-Quran. Hasil jerih payah Bu Jono mungkin masih belum tampak dalam satu-dua tahun, tapi sepuluh tahun lagi insya Alloh.

Di bulan Ramadhan ini kegiatan TPA diliburkan. Anak-anak ikut kegiatan buka puasa bersama di masjid yang dikelola remaja masjid. Otomatis Bu Jono tidak mengajar, namun beliau tetap ikut hadir beberapa kali di masjid pada acara buka puasa bersama. Selebihnya Bu Jono sibuk dengan urusan rumahnya, mengurus suami, keponakan, cucu dan adik iparnya yang tinggal serumah dengan beliau.

Inilah beliau (yang memegang Al-Quran) bersama saya.
Mirip, ya? Iya. Soalnya Bu Jono itu ibu saya.

Catatan: Tulisan ini bukanlah pamer amal, namun sekedar berbagi agar dapat memberi inspirasi.

Bersama Kita Sebarkan Kebaikan dengan #SemangatBerbagi. Ikuti acara puncak Smarfren #SemangatBerbagi tanggal 19 Juli 2014 di Cilandak Town Square Jakarta.

Comments

  1. Inspiratif sekali....baarokalloh untuk bu jono :)

    ReplyDelete
  2. aaaaamiiiiin. makasih mbak HM

    ReplyDelete
  3. Wah sama, ibu saya juga seorang guru ngaji. Hampir 20taun mengajar anak-anak kecil ngaji di rumah. Bukan TPA. Sempat ada orang yang tanya,
    "ngaji tempatmu bayar berapa?"
    Saya jawab, "ibu saya gak pernah minta bayaran."
    Trus dibilang lagi "masa ngajar ngaji gak dibayar" saya diamkan saja.
    Sayangnya yang ngaji sama ibu saya itu kalau udah masuk SMP pada udahan, gak ngaji lagi. Katanya malu, udah gede. Memang butuh usaha keras untuk menciptakan generasi qurani.

    ReplyDelete
  4. wah subhanalloh mbak. ibunya hebat bgt. iya, biasanya kl sdh SMP atau sdh lulus iqro trus gak ngaji lg. sayang y. pdhl yg sdh besar2 itu bs bantu jd ustadz jg.

    ReplyDelete
  5. Assalamu'alaikum...
    Terima kasih sudah berbagi cerita inspiratif ini, ya!
    Good luck! ^_^
    Emak Gaoel

    ReplyDelete
  6. wa alaikumussalaam. makasih sdh dikunjungi mak.

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Sila berkomentar dengan baik dan sopan. Mohon maaf, segala komentar spam, yang berisi link hidup atau yang menyebabkan broken link serta komentar yang mencantumkan identitas tidak jelas akan dihapus.

Popular Posts