Jayalah Bahasa Indonesia

Pelajaran apa yang mudah tapi sulit di sekolah? Secara subjektif saya menjawab: Bahasa Indonesia! Mudah karena ya itu bahasa kita sehari-hari. Sulit karena pada kenyataannya nilai Bahasa Indonesia saya tak pernah bisa melampaui nilai Bahasa Inggris!

Tidak nasionaliskah? Tidak juga. Bahasa Indonesia menjadi sulit karena bab yang dipelajari sangat luas. Ada tata bahasa, kosa kata dan sastra. Ada pelajaran menulis, ada juga pelajaran berbicara. Ada resensi drama, ada penafsiran puisi, ada juga mengarang bebas. Jauh lebih rumit daripada bab yang diajarkan dalam pelajaran Bahasa Inggris yang baru berkutat pada tata bahasa dan kosa kata. Jadi, wajar saja, menurut saya, kalau nilai Bahasa Indonesia saya hanya berada di tataran rata-rata.

Kalau sudah begini, baru bisa menyadari ketinggian ilmu para guru Bahasa Indonesia dan para pakar Bahasa Indonesia, bukan? Sungguh, kita semua yang pernah bersekolah harus merasa berhutang budi kepada mereka.

Ibu saya sendiri adalah seorang guru Bahasa Indonesia di SMK yang baru empat tahun yang lalu memasuki masa pensiun. Sedikit banyak saya menemukan fakta bahwa Bahasa Indonesia ini penting namun sering terlupakan. Saya sering diminta Ibu membantu memeriksa lembar jawaban ulangan semester atau ujian kenaikan kelas. Saya memperhatikan bahwa para murid kurang menjiwai bahasa mereka sendiri yang terlihat dari jawaban atas soal esai yang diberikan. Jawaban yang kurang logis, kurang runtut dan juga tampil dengan tulisan tangan yang kurang sedap dipandang mata.

Dalam penggunaan sehari-hari, Bahasa Indonesia seringkali dinomorduakan. Bahasa asing, khususnya Bahasa Inggris, mendapat kedudukan yang lebih bergengsi. Sebagai contoh nama-nama acara di televisi, nama-nama pertokoan dan nama-nama perkumpulan.

Jual makanan dan minuman, bukan? (Lokasi: SPBU di Kabupaten Madiun)

Padahal Bahasa Indonesia itu mudah. Tak mengenal perubahan kata kerja berdasarkan perubahan waktu seperti tenses dalam Bahasa Inggris; tak mengenal 'jenis kelamin' kata sebagaimana dalam bahasa Arab misalnya; tak mengenal derajat kebahasaan seperti yang terdapat dalam Bahasa Jawa atau Sunda yang memiliki tingkatan bahasa halus, menengah dan kasar; tak ada perubahan kata dari bentuk tunggal ke jamak. Bahkan tulisannya pun menggunakan huruf latin (Roman) yang bunyinya sesuai dengan tulisannya.

Sayangnya, kita sebagai pengguna dan pemilik bahasa kurang sigap menangkap gejala penyakit pada Bahasa Indonesia. Beberapa kali Bahasa Indonesia 'kalah set' dengan bahasa asing. Terlebih lagi dalam bidang teknologi. Saya ingat betul, dulu pernah ada yang mengusulkan kata 'cakram padat' sebagai pengganti 'compact disc' dan ' tetikus' sebagai pengganti 'mouse' (pada komputer), tapi kurang populer. Sepertinya kita sering terlambat mengenalkan padanan kata dari bahasa asing yang masuk sehingga wajah Bahasa Indonesia menjadi belang-belang.

Tak jarang pula Bahasa Indonesia dianggap kurang dapat menjelaskan sesuatu. Misalnya dalam acara debat calon presiden yang baru lalu. Ketika acara hampir berakhir, sang moderator mempersilakan setiap calon presiden untuk menyampaikan pernyataan penutup. Sudah jelas, bukan? Tapi rupanya menurut sang moderator belum cukup jelas, sehingga beliau 'terpaksa' menyusulinya dengan istilah dalam Bahasa Inggrisnya, yaitu 'closing statement'. Bahkan bukan hanya sekali sang moderator melakukan hal itu, tapi sebanyak dua kali dalam dua kesempatan berbeda.

Jika ada yang mengatakan Bahasa Indonesia memang sangat kaya dan dinamis, itu benar. Bahasa Indonesia yang berasal dari Bahasa Melayu memang diramaikan oleh kata serapan yang berasal dari berbagai bahasa. Ada yang dari bahasa daerah, Belanda, Arab, Portugis, Inggris dan lain- lain, namun menurut saya itu bukan alasan bagi kita untuk menyerap kosa kata asing begitu saja atau membuat kreasi baru secara serampangan.

Benar bahwa bahasa itu mencerminkan bangsa. Sudah selayaknyalah bahasa yang kita miliki bahkan sejak sebelum Indonesia merdeka ini mendapat tempat terhormat di hati bangsa Indonesia.

Lalu, apa wujud cinta kita kepada Bahasa Indonesia? Sederhana saja. Gunakan kata yang terdaftar dalam kamus Bahasa Indonesia dan hindari membuat modifikasi kata dan mempopulerkannya, sebab sudah bukan menjadi rahasia lagi bahwa masyarakat cenderung meniru kata-kata populer, terlebih yang tampil di media massa dan media sosial. Janganlah kita sebagai blogger menjadi nila setitik dalam susu sebelanga.

Mencintai Bahasa Indonesia berarti mencintai Indonesia. Menjaganya berarti mempertahankan keberlangsungan identitas bangsa ini, identitas kita sendiri.

Artikel ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan: Aku dan Indonesia

Comments

  1. Terima kasih atas partisipasi sahabat dalam Kontes Unggulan :Aku Dan Indonesia di BlogCamp
    Dicatat sebagai peserta
    Salam hangat dari Surabaya

    ReplyDelete
  2. Mak Damar, ternyata kita sehati, ya. Semoga menang. :)

    ReplyDelete
  3. makasih Pakde

    mak Rohyati: hihihi...iya. kita cinta bahasa kita nih mak. semoga sukses jg mak.

    ReplyDelete
  4. Wah pembahasan tentang bahasa Indonesianya sungguh komplit mba :)

    ReplyDelete
  5. mbak Putri: sekalian buang uneg2 ini mbak. hihihi...

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Sila berkomentar dengan baik dan sopan. Mohon maaf, segala komentar spam, yang berisi link hidup atau yang menyebabkan broken link serta komentar yang mencantumkan identitas tidak jelas akan dihapus.

Popular Posts