Siapapun Presidennya, Insya Alloh Saya Ikhlas

Pemilihan Presiden RI periode 2014-2019 sudah di depan mata. Kurang lebih 40 hari lagi hajatan besar se-Indonesia ini akan digelar. Pasangan calon presiden dan wakil presiden pun sudah memanas-manasi calon pemilih. Tim sukses juga tak kalah panasnya mencoba meraih perhatian rakyat Indonesia. Media massa sibuk mengabarkan perkembangan terkini pergerakan para capres dan cawapres, menyiarkan acara debat, hingga dialog tim sukses kedua kubu.

Masyarakat pun turut sibuk urun pendapat membincangkan siapa yang bakal jadi dan siapa yang bakal tak jadi. Ruang perbincangan tak melulu didominasi bahasa politik, gosip pun beredar di mana-mana mengungkit 'dosa-dosa' capres dan cawapres.

Di balik semua keriuhan itu, saya yakin tak sedikit calon pemilih yang bingung harus memilih pasangan yang mana. Yang dulu merasa simpati kepada seorang tokoh, kini berbalik benci, dan sebaliknya, akibat bombardir berita. Watak politik yang tak punya kawan maupun lawan abadi makin menjerumuskan calon pemilih model ini ke dalam arus kebimbangan. Kekhawatiran salah pilih pun menyeruak. Pilihan untuk golput pun ikut dilirik.

Tak adanya 'jaminan' sang pasangan calon akan terus mewujudkan visi dan misi yang dikampanyekan pun mendorong rasa tak percaya diri calon pemilih. Bagaimana nanti kalau saya pilih mereka tapi kemudian mereka ingkar janji? Begitu barangkali yang terlintas di pikiran. Termasuk saya.

Namun di ujung segala kebimbangan, sesungguhnya hanya ada satu hal yang pasti: kehendak Tuhan. Jika Ia berkehendak, maka jadilah. Seperti yang telah disaksikan banyak orang di Pemilu 1955. Saat itu ada kekhawatiran bahwa Partai Komunis Indonesia akan menang, tapi ternyata tidak. Masyumi menang. Lalu ke mana semua prediksi sebelumnya? Apa yang terjadi?

Pemilu legislatif yang baru lalu pun menunjukkan, setidaknya kepada saya, bahwa hati manusia itu berada dalam genggaman-Nya. Beberapa yang mengaku ingin golput ternyata berubah pikiran ketika berada dalam bilik suara seperti yang pernah saya tulis di sini. Sungguh, hati manusia itu mudah berbolak-balik.

Kelemahankah ini? Mungkin ya. Namun ada juga manfaatnya. Hati yang mudah berubah hanya bisa tetap manakala sudah mantap dengan pilihannya. Bagi yang belum mantap, satu-satunya cara adalah memasrahkan hatinya kepada Tuhan.

Ya Tuhan, condongkanlah hati hamba-Mu ini kepada pilihan yang Engkau ridloi. Sungguh, hamba tak memiliki pengetahuan kecuali hanya sedikit saja. Hadiahilah bangsa Indonesia dengan pemimpin yang amanah dan takut kepada-Mu. Aaaaamiiiiin.

Comments

Popular Posts