Mlipir Biar Tidak Mubazir

Ini adalah masalah yang dihadapi warga perumahan tempat saya tinggal dan warga yang tinggal di desa seberang jalan.

Perumahan kami ini terletak di Kecamatan Geger, Kabupaten Madiun. Kami memiliki akses langsung ke Jalan Raya Ponorogo. Jalan raya ini sangat ramai. Kendaraan besar pun melintas di sini. Ya, namanya juga jalan raya antarkota. Akibatnya, kami kesulitan untuk menyeberang jalan. Terutama di jam sibuk, yakni pagi saat jam berangkat sekolah dan kerja, serta sore menjelang maghrib. Sangat sering sekali saya harus menunggu lama untuk menyeberang sewaktu mengantar anak ke sekolah. Memang sih, ada polisi yang membantu proses penyeberangan, tapi itu hanya ada di pagi hari sampai kurang lebih pukul 7.00, sedangkan saya berangkat sekitar pukul 7.30.

Jalur luar kota ini dikenal juga sebagai 'Jalur Gaza'. Pengendara di jalur ini jarang yang melaju pelan. Hampir semua menggeber kendaraan secepat-cepatnya. Ya motor bebek, motor matic, mobil, bis kecil, bis besar, truk, bahkan truk tangki.

Sumber gambar

Sudah begitu, etika berkendaraan pun kurang. Kebanyakan sepeda motor tidak mau memberi jalan kepada penyeberang meski sudah diberi kode. Hajar ajah!

Nah, dengan alasan itulah banyak pengendara sepeda dan sepeda motor yang ambil jalan pintas: mlipir alias melawan arus lewat pinggir jalan.  Bahkan, ssst... kadang saya pun mlipir hampir sepanjang 1 km sampai lampu lalu lintas terdekat. Lumayan kan biar bensinnya tak mubazir karena menunggu terlalu lama.

Awalnya ketika baru jadi penduduk di sini saya sempat protes saat diajak mlipir oleh suami. Tapi setelah pegang sepeda motor sendiri plus memboncengkan dua anak kecil, saya pun maklum dan ikut-ikutan.

Sumber gambar

Acara mlipir-melipir ini pun sudah jadi semacam konsensus bersama. Asal pelan-pelan, sah-sah saja. Tahu sama tahu lah antara pemlipir dengan pengendara yang datang dari arah berlawanan. Tapi kendaraan roda empat tidak boleh mlipir, lho, ya.

Dan 'anehnya', sepertinya kebiasaan mlipir ini sudah 'direstui' dari sononya, sebab sepanjang jalan raya ini disisakan ruang untuk mlipir. Yaitu lapisan aspal lama yang kalau ada proyek pengaspalan ulang tak pernah ikut diaspal. Jadilah jalan rayanya makin tebal sementara bagian tepinya makin 'kemripik' saja. Surga bagi para pemlipir.

Walaupun enak, mlipir tetap mengandung resiko, seperti kecelakaan karena bertabrakan dengan kendaraan yang datang dari depan. Menurut saya agar kegiatan mlipir-melipir ini berakhir, ada baiknya ditambah lampu pengatur lalu lintas sehingga laju kendaraan dapat terkendali.

Comments

  1. loh tggl di madiun to mbk....saya suka mlipirrr aplgi kl macet.fiuhhh...

    ReplyDelete
  2. iya mbak HM. kl macet 'wajar' ya, hehehe...

    ReplyDelete
  3. Wajar kenceng...jalan sepi ga macet...coba kalau macet seperti jakarta...yo ra iso...

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Sila berkomentar dengan baik dan sopan. Mohon maaf, segala komentar spam, yang berisi link hidup atau yang menyebabkan broken link serta komentar yang mencantumkan identitas tidak jelas akan dihapus.

Popular Posts