Mereka yang Menawan

Sudah lama rupanya saya tidak menghiasi dinding Facebook saya dengan sapaan kepada teman dan diri sendiri. Akhir-akhir ini isi status saya adalah share tulisan yang menginspirasi. Menginspirasi saya tentunya. Kalau teman-teman turut terinspirasi ya alhamdulillaah.

Ada dua 'status asli' buatan saya yang mejeng di dinding Facebook di bulan Februari lalu. Keduanya mengisahkan kekaguman saya kepada orang-orang yang menawan hati. Dua status itu memiliki wujud yang berbeda. Yang satu pendek, serius, retoris dan menghasilkan sedikit komentar. Yang kedua panjang, boros kata-kata, apa adanya dan memancing banyak komentar. Persamaan keduanya adalah berusaha mengajak diri sendiri dan teman-teman untuk merenung dan mengambil pelajaran serta kalau bisa mengambil tindakan.

Ini status pertama yang akan saya bahas.

Usman 22, Harun 18. Apa yg kulakukan saat aku seusia mereka?

Salah satu komentar teman saya, Tri Sulistiyowati, adalah:

Kuliah mb.. Menikmati hidup..

Status ini saya buat ketika sedang ramai pemberitaan tentang KRI Usman Harun. Saya sungguh tercengang saat mengetahui bahwa usia kedua pahlawan ini masih sangat muda ketika mereka mengambil tanggung jawab setara orang dewasa. Barangkali bagi sebagian orang usia itu dianggap sudah cukup dewasa, namun sungguh, di usia itu saya sedang bersenang-senang di bangku kuliah sebagaimana komentar teman saya tadi.

Saya jadi ingat, dalam Islam hanya ada dua masa hidup manusia: kanak-kanak dan baligh. Ketika seseorang sudah mencapai usia baligh, maka ia langsung mengemban hak dan kewajiban sebagai orang dewasa. Tidak ada istilah masa remaja, masa pencarian identitas, masa labil, masa kritis, masa galau dan sebagainya. Sebab pembentukan karakter sudah dilaksanakan di masa kanak-kanak. Ini jugalah yang barangkali terjadi kepada Usman dan Harun. Mereka telah menjadi dewasa di saat yang tepat.

#

Status kedua saya adalah mengenai ibu saya.

tadi siang ditelpon ibuku. manggut2 aku dengar rencana2 & agenda2 'sangar' ibuku. baru2 ini ibuku bikin acara lomba hafalan surat2 pendek dr an-naas sampai an-nashr utk bocah2 TPA. 3 pemenang dpt voucher makangratis di kedai FC terdekat. berikutnya ancang2 ibuku adl bikin acara hafalan lagi. kali ini suratnya lbh banyak tp mshjuz amma. hadiahnya tiket PP kereta jogja-solo. yg lebih jauhlg, ibuku pingin bikin acara hafalan juz amma dr an-naas sampe an-naba'. hadiahnya tiket naik pesawat terbang jogja-jkt plus tiket kereta jkt-jogja. memanfaatkan rute baru jogja-halim.manggut2ku beralasan kan?sisan tak komporin "gmn kl hadiahnya tiket PP jogja-singgapur?"horeee

Dan ini salah satu komentar teman saya, Tsalis Maghfiroh, yang hebat:

dukung 100% kegiatan ibumu Di!!!! Seandainya aku jg bisa seperti ibumu ya...

Ibu saya, pensiun dari pengabdiannya sebagai guru pada tahun 2010. Ibu yang enerjik harus menemukan aktivitas baru ketika pensiun. Ibu pun terjun habis-habisan mengurusi Tanan Pendidikan Al-Quran (TPA) di kampung. Sejatinya Ibu sudah mengajar di TPA sejak tahun 2005, bahkan beliau pula yang menjadi pelopor lahirnya TPA di kampung.

Kegiatan TPA, seperti halnya keimanan manusia, senantiasa naik dan turun. Terkadang santri bersemangat, terkadang pula malas. Pun demikian dengan ustadz dan ustadzahnya. Ibu saya berobsesi menjadikan TPA yang tak sekedar tempat belajar membaca Al-Quran, namun juga sebagai tempat mencetak calon pemimpin yang Qurani. Setidaknya mencetak muadzin yang menjiwai tugasnya. Mimpi Ibu terkini adalah mendorong lahirnya penghafal Quran, setidaknya penghafal Juz 'Amma. Semakin dini hafal, semakin baik tentunya. Untuk itu Ibu mengiming-imingi santri-santrinya seperti yang saya ceritakan pada status saya tadi.

Seorang kawan saya yang hebat, sahabat saya di masa kuliah, adalah juga seorang guru. Guru SD di wilayah bergunung, Kulonprogo, yang menjadi pendidik karena mencari nikmatnya hidup setelah puas berkeliling Nusantara sebelumnya. Kawan saya ini bukannya mencari pelarian, namun baginya dunia ini sudah kurang menarik setelah hampir semua yang diimpikannya teraih.

Kawan saya ini menikmati dunia barunya dengan penuh semangat. Segenap ilmu yang dimilikinya dipersembahkan bagi anak didiknya. Begitulah dia dulu juga senantiasa mendorong saya ketika kuliah. Kini ia memiliki rumah belajar dan mengaji dengan santri kurang lebih enam puluh orang, terdiri dari anak kecil hingga remaja. Saya pun bisa membayangkan dirinya yang penuh semangat itu begitu menikmati hidupnya bersama seluruh kegiatan sehari-harinya sebagai istri, ibu dan guru.

Demikianlah kisah mereka yang menawan hati saya yang sempat terekam dalam status Facebook saya. Semoga inspirasi tak sekedar inspirasi, namun juga menjadi aksi.

Artikel ini diikutkan dalamGiveaway Blogger Dengan Dua Status di BlogCamp.

Comments

  1. Terima kasih atas partisipasi sahabat
    Segera didaftar
    Keep blogging
    Salam hangat dari Surabaya

    ReplyDelete
  2. luar biasa ibunya mbak. Kepikiran bikin acara yang seperti itu. Sekarang saya malah dapat sedikit ide...

    ReplyDelete
  3. begitulah ibu saya mas. wah, siap2 dengar acara baru dr mas Sabda Awal nih.

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Sila berkomentar dengan baik dan sopan. Mohon maaf, segala komentar spam, yang berisi link hidup atau yang menyebabkan broken link serta komentar yang mencantumkan identitas tidak jelas akan dihapus.

Popular Posts