Hidup dalam Bayangan Kegelapan

Hidup dalam bayangan kegelapan. Pernahkah Anda mengalaminya? Membayangkannya saja saya merasa ngeri. Setiap hari merasa takut, ingin lari namun tak berdaya, ingin berontak namun tak sanggup, berharap datangnya cahaya penerang yang menuntun pada jalan keluar.

Ini adalah kisah hidup ibu saya yang pernah mengalami hidup dalam bayangan kegelapan hingga akhirnya menemukan cahaya terang.

Ibu saya lahir pada tahun 1950 di Yogyakarta. Kakek saya seorang tentara Angkatan Darat dengan pangkat terakhir kapten. Nenek saya seorang mantan perawat di era perang kemerdekaan yang kemudian mengabdikan diri pada keluarga untuk mendidik dan membesarkan kesepuluh buah hatinya. Ibu saya melewati masa remajanya tatkala keadaan keuangan negara sedang morat-marit ditambah guncangan politik yang keras menghantam negeri ini di tahun 1960-an.

Kegelapan

Di masa itu kegelapan benar-benar melanda. Kakek saya, yang terlahir dari keluarga muslim abangan, adalah penganut sebuah aliran kebatinan. Perkumpulan aliran kebatinan yang diikuti kakek saya ini sering mengadakan pertemuan dari rumah ke rumah. Anggotanya laki-laki dan perempuan. Salah seorang kerabat kakek saya pun terlibat dalam perkumpulan ini secara aktif.

Perkumpulan itu memiliki satu sosok panutan gaib yang mereka sebut sebagai 'Eyang'. Kakek saya mahir melukis wajah. Beliau pun melukis wajah sang Eyang berdasarkan wangsit yang diterimanya, lalu menggantung lukisan tersebut di dinding dan memujanya.

Ilustrasi dari Republika

Memujanya? Ya. Bahkan kakek saya rutin menyediakan sesajen untuk sang Eyang. Ada jajanan, buah dan kembang. Kakek saya juga menyiapkan sebuah ranjang khusus untuk dipakai sang Eyang beristirahat. Ranjang itu beralas kain putih dengan kelambu dan harus senantiasa dijaga kebersihannya.

Nenek saya, meski mungkin tak tampak dari luar, adalah seorang muslimah yang menjalankan sholat lima waktu. Beliau sangat keberatan dengan kegiatan perkumpulan ini. Bagaimana tidak? Di saat ekonomi sedang sulit dan harus membiayai sepuluh orang anak, kakek saya malah berboros-boros menyediakan makanan khusus bagi sesembahannya. Belum lagi jika acara pertemuan dari rumah ke rumah. Mau tak mau harus diramaikan dengan acara makan, setidaknya teh manis dan camilan. Namun nenek saya seorang yang pendiam. Beliau tak mampu menolaknya secara lisan, hanya mampu curhat kepada anak pertamanya, ibu saya.  Semoga Alloh SWT mengampuni kelemahan nenek saya ini.

Ajaran dan Kerasukan

Dalam pertemuan rutin, ada ritual khusus 'kerasukan'. Kerabat kakek saya ada yang berperan sebagai perantara. Ia merelakan tubuhnya untuk dirasuki ruh Eyang dan sosok gaib lainnya, yang kemudian menyampaikan 'ajarannya'. Peserta lain duduk diam di hadapan si perantara dan menerima ajaran.

Biasanya setelah merasuki, sang Eyang menyapa murid-muridnya, kemudian membuka diri untuk sesi tanya jawab dan curhat.

Siapa saja sosok gaib yang merasuk selain Eyang? Sepengetahuan ibu saya ada Nyi Roro Kidul dan seorang Raja Majapahit yang saya lupa namanya. Jika sedang kerasukan sosok gaib perempuan, maka suara dan gerak tubuh sang perantara berubah menjadi perempuan. Nasihat yang disampaikan seolah terdengar baik, seperti, "Setiap orang memakai pakaiannya sendiri-sendiri". Maknanya adalah hendaknya setiap orang berpegang pada agamanya masing-masing. Sepintas terdengar bagus, namun beracun. Pernyataan itu berarti menganggap semua agama baik.

Bubar Jalan

G30S pecah. Aliran kebatinan ini pun bubar seiring dengan diberantasnya paham komunis di Indonesia. Orang-orang yang 'tak beragama' menyembunyikan identitas mereka. Bahkan, kata ibu saya, di halaman masjid yang dulunya hanya ada satu dua sepeda, kemudian menjadi ramai dengan kendaraan bermotor. Masjid menjadi tempat pelarian agar tak dicurigai pemerintah. Demikian juga dengan perkumpulan kebatinan kakek saya. Tak ada lagi pertemuan rutin. Setiap anggotanya menyaru ke dalam aktivitas keagamaan yang tercantum di KTP masing-masing.

Terang Benderang

Lepas dari kegiatan perkumpulan kebatinan, ibu saya sangat bahagia. Islam bagi ibu saya adalah cahaya penyelamat. Islam itu begitu sederhana dan mudah. Tak ada lagi rasa takut kepada penunggu keris dan tombak. Tak ada lagi takut pada hari naas, nomor sial dan yang sejenisnya. Islam sangat mudah dimengerti dan dilaksanakan. Tuhan itu hanya satu dan Maha Pengasih dan Penyayang. Tuhan itu mengabulkan permintaan tanpa perlu dihadiahi sesajen, serta tanpa perlu perantara.

Sumber gambar dari theblogdualim

Selama bertahun-tahun setelah itu, ibu saya gigih mengajak kakek saya kembali ke jalan yang benar. Mereka kerap berdiskusi tentang banyak hal, mulai dari sholat, jilbab hingga haji. Namun memang hidayah hanyalah milik Alloh, manusia hanya mampu berusaha. Bahkan Rosululloh sholallaahu alaihi wasalam saja tak mampu mengislamkan pamannya, Abi Tholib. Demikian pula yang terjadi dengan kakek saya. Kakek saya tetap dalam kesyirikan hingga meninggal dunia. Naudzubillaahi min dzaalik.

Kini, Islam telah tersebar di seluruh penjuru Bumi. Beribadah pun makin mudah. Ibu saya pun makin cinta dengan Islam. Beliau telah berjilbab dan telah pula menunaikan ibadah haji bersama Bapak saya di tahun 2006.

Tulisan ini diikutsertakan pada Giveaway I Love Islam.

Comments

  1. Islam memang cahaya penyelamat dari kegelapan, sy nggak tahu bagaimana hidup sy tanpa Islam, pas lg 'dapet' aja rasanya sudah suram bgt hidup hiks *malah curhat

    Alhamdulillah, makasih atas tulisannya ya mbak... Salam kenal :)

    ReplyDelete
  2. terima kasih sdh berkunjung mbak. senang rasanya dikunjungi sohibul hajat GA.

    ReplyDelete
  3. islam adalah cahayaa :)


    salam kenal mbak :)

    ReplyDelete
  4. betul mbak Rahma. salam kenal kembali. terima kasih sdh berkunjung.

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Sila berkomentar dengan baik dan sopan. Mohon maaf, segala komentar spam, yang berisi link hidup atau yang menyebabkan broken link serta komentar yang mencantumkan identitas tidak jelas akan dihapus.

Popular Posts