Tukang yang Profesional

Pasca erupsi Gunung Kelud 13 Februari 2014, rumah kami kebanjiran. Banjir melanda ruang di bagian belakang yang berbatasan dengan tembok rumah tetangga. Rupanya guyuran pasir dari Gunung Kelud menyumbat talang air dan menyebabkan air hujan yang turun di sore harinya (14/2) menbludak. Air keruh pun merangsek masuk melalui celah-celah di eternit, meluncur ke bawah membasahi  lantai. Alhamdulillaah, untungnya ruang yang kebanjiran tersebut hanya berisi sebuah meja dan perlengkapan sholat, sehingga tak banyak perabotan yang basah. Ruang itu pun berubah menjadi kolam dangkal penuh dengan ember penampung tetesan air dan lap-lap pemblokir aliran air keluar.

Selepas maghrib kami mencari tukang yang bisa memperbaiki rumah kami. Kami sadar sesadar-sadarnya bahwa hampir seluruh rumah mengalami masalah serupa dan hampir semua orang membutuhkan jasa tukang perbaikan. Bahkan sang tukang pun mungkin sedang sibuk memperbaiki rumahnya. Namun berbekal harapan dan didorong rasa kepepet, kami mendatangi rumah seorang tukang yang baru empat hari yang lalu selesai mengerjakan perbaikan di rumah kami. Alhamdulillaah, yang dicari bersedia membantu.

Selepas dhuhur (15/2), datanglah pak tukang bersama asistennya yang ternyata tidak lain adalah anaknya yang masih remaja. Setelah berkoordinasi dengan kami, beliau dengan sigap bekerja membersihkan timbunan pasir di talang dan kanopi depan. Kurang lebih tiga jam bekerja, selesai sudah perbaikan itu. Hari itu kami menambah 'koleksi' pasir halus kami menjadi dua karung dari total empat karung. Menjelang maghrib hujan turun cukup deras. Perasaan kami antara khouf dan roja', antara takut dan berharap tidak terjadi banjir lagi. Alhamdulillaah, hingga hujan reda yang dikhawatirkan tidak terjadi.

Kami bersyukur dapat bertemu dengan seorang tukang yang profesional. Dari beberapa tukang, kami mendapati dua orang tukang yang betul-betul ahli dalam bidangnya dan memiliki kemampuan mendengar yang baik, termasuk tukang yang terakhir ini. Menjadi tukang yang profesional itu ternyata tidak mudah juga. Seorang tukang yang profesional harus memiliki kemampuan pertukangan yang baik, misalnya mengetahui perhitungan kemiringan atap yang baik, pencampuran semen tepat, titik tengah eternit dalam satu ruangan.

Seorang tukang yang profesional juga harus bisa menerjemahkan permintaan si empunya rumah. Di sini ilmu, wawasan dan kejujuran si tukang diuji. Ilmu yang dimilikinya bisa membantu sang tukang untuk mengetahui apakah permintaan si empunya rumah bisa diwujudkan atau tidak. Jika tidak bisa diwujudkan, ia harus bisa bernegosiasi dengan si empunya rumah. Untuk itulah wawasan yang luas sangat penting bagi seorang tukang. Jika betul-betul tak bisa dikerjakannya karena keterbatasan yang dimilikinya, sang tukang harus berani berkata jujur bahwa ia tak mampu. Jika ia tak jujur, bisa-bisa hasil kerjanya hancur.

Satu lagi yang harus dimiliki seorang tukang yang profesional, yaitu tidak korupsi. Beberapa tukang ada yang menghabiskan banyak waktu kerjanya untuk beristirahat, minum kopi lalu merokok. Biasanya pelaku korupsi seperti ini adalah tukang yang dibayar harian. Datangnya terlambat, banyak beristirahat, pulangnya cepat. Jika boleh dibandingkan, kerja tukang yang seperti ini bertolak belakang dengan para asisten rumah tangga yang datang pagi, bekerja tanpa henti dan pulangnya tertunda.

Pada akhirnya, seorang tukang yang profesional akan mendapat penghargaan yang layak, baik dari sisi pembayaran maupun sisi keberlangsungan. Saya kira orang yang puas dengan hasil kerja seorang tukang yang profesional tidak akan ragu untuk memanggilnya kembali saat dibutuhkan atau merekomendasikannya kepada orang lain.

Gambar diambil darijasa.pelapak.com

Comments

Popular Posts