Mengenangmu Nanti

Di awal tahun 2014 ini saya dengan suami dan anak-anak mengunjungi seorang bibi. Beliau adalah adik dari Bapak Mertua saya. Beliau kini berusia 70 tahun lebih. Berhubung saya tak sempat punya mertua karena saat saya menikah kedua mertua sudah tiada, maka saya sambung tali silaturahmi dengan beliau sebagai pengganti mertua. Sebenarnya yang 'berperan' sebagai mertua saat saya menikah adalah bibi termuda, namun karena Bibi saya ini jauh dari sanak saudara, maka saya dan suami justru lebih sering mengunjungi Bibi yang ini. Beliau sudah cukup lama menjanda sejak suaminya meninggal dunia, sedangkan putranya tinggal jauh darinya.

Pada kunjungan yang baru lalu itu, Bibi saya bercerita tentang kenangan dengan suaminya. Meski hidup berdua hingga usia pensiun, namun yang diingat oleh Bibi saya tentang suaminya yang semasa hidupnya adalah seorang polisi adalah saat-saat muda. Sering Bibi saya bermimpi diajak berjalan-jalan oleh suaminya dengan mobil dinas. Dalam mimpinya, sang suami tampil dengan seragam lengkapnya. Mereka berkeliling dengan mobil untuk kemudian berhenti di persimpangan jalan dan Bibi saya diminta turun dari mobil. Setelah itu sang suami pergi bersama kawan-kawannya. Selalu begitu.

Seorang kakak ipar saya yang belum setahun ini menjanda karena kematian suaminya bercerita bahwa segala kenangan yang tertinggal adalah kenangan indah. Meski indah tetap memaksa air mata mengalir. Cintanya terasa makin kuat justru ketika suaminya tak lagi ada di sisinya.

Seorang teman saya yang menjadi janda di usia 33 tahun pun berkali-kali dalam status di facebooknya masih merindukan sang suami. Hingga kini hatinya belum sanggup memberi ruang bagi lelaki lain. Ia memilih membesarkan dua anak lelakinya sendirian.

Mendengar kisah-kisah itu, saya pun tertegun. Kenangan apa yang akan terngiang jika nanti suami saya yang dipanggil Alloh terlebih dulu?

Comments

Popular Posts