Kenangan Irit yang Menggigit

Tahun baru, cerita baru. Serial drama panjang mencapai salah satu klimaksnya di awal tahun 2014 ini. Harga gas elpiji kemasan 12 kg yang sudah berkali-kali digosipkan banyak pihak akhirnya dinaikkan juga. Secara otomatis jumlah pemeran antagonis pun meningkat. Termasuk saya yang rajin bertanya-tanya mengapa negeri yang kaya minyak dan gas bumi ini tak bisa memperoleh untung, malah banyak buntungnya. Apa yang salah, ya? Kekayaannya, atau pengelolanya, atau konsumennya? Entahlah. Yang jelas, acara pengiritan pun harus segera dimulai sebab dampak dari kenaikan harga ini bisa menerjang segala bidang. Berikut beberapa kenangan irit yang menggigit:
Irit Saat Harga Melambung
Saya masih harus merasa sangat bersyukur meski harga mengalami kenaikan. Setidaknya, meski mahal tapi masih terbeli. Tidak seperti di akhir 1990-an  ketika negeri ini bergolak dan terjadi perpindahan tampuk kekuasaan. Saat itu nilai tukar Rupiah melorot sangat cepat dan sangat jauh hingga mencapai angka, seingat saya, 17.000 per Dolar AS. Di saat itulah terasa benar nikmatnya hidup yang pernah dikecap. Yang dulu bisa dibeli menjadi tak lagi terbeli. Pendapatan tak beranjak, harga-harga merangkak, pengeluaran membengkak.

Gambar dari www.waspada.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=311393:rupiah-melemah-12200-per-usd&catid=18:bisnis&Itemid=95

Saat itu adalah masa yang cukup sulit bagi keluarga kami. Semua harus serba diirit. Sampai-sampai untuk membeli sabun mandi merk G*v saja yang sebelumnya tergolong paling murah pun kami tak mampu.
Demikian juga urusan dapur. Untuk menyiasati keadaan, ibu saya mengurangi penggunaan minyak goreng dengan cara menyajikan masakan rebusan. Bukan telur rebus, tapi tempe dan tahu rebus, alias tempe dan tahu yang dibumbu bacem tapi tidak digoreng. Sayuran pun serba rebus.
Mungkin orang lain mengalami hal yang jauh lebih pahit, tetapi bagi saya kenangan itu adalah kenangan pahit yang berkesan. Ada pelajaran yang bisa dipetik dari kegiatan pengiritan itu, walaupun iritnya karena kepepet.
Irit Saat Sumber Daya Terbatas
Kenangan berkesan lain adalah di tahun 2006 saat gempa besar mengguncang Bantul dan sekitarnya. Kami yang tinggal di wilayah selatan Yogyakarta itu turut merasakan dampaknya.
Meski rumah kami tidak rusak parah namun kami pun menjadi pengungsi di rumah sendiri. Di hari-hari pertama pasca gempa, listrik dipadamkan. Keadaan mencekam dan kami kekurangan sumber daya, terutama air, sebab kami memanfaatkan pompa listrik untuk mengambil air sumur. Meskipun kami juga berlangganan air PDAM namun pasokannya belum lancar mengingat banyaknya kerusakan bangunan dan jalan.
Alhamdulillaah, hujan diturunkan Alloh di saat-saat itu, sehingga kami pun menampung air hujan sekedar sebagai untuk MCK. Urusan mandi pun airnya diirit-irit. Air bilasan mandi ditampung dengan ember untuk digunakan di kakus. Entah ini bisa disebut irit atau tidak, yang jelas karena kepepet.
Kenangan lain yang juga tak terlupakan di hari-hari pertama mengungsi adalah ibu memasak sayur oseng-oseng pepaya muda. Mengapa berkesan? Sewaktu gempa, pohon-pohon bertumbangan. Di belakang rumah kami ada sebuah pohon pepaya yang ambruk tertimpa pagar yang roboh. Jadilah ibu memanfaatkan pepaya muda untuk dimasak. Saat itu sulit mencari bahan makanan. Pasar kosong, toko tak ada yang buka. Akhirnya sayur pepaya muda menjadi andalan.

Irit Di Dapur
Saat ini, ketika harga gas elpiji merangkak naik, urusan di dapur juga harus diirit. Yang paling mudah untuk mengirit penggunaan gas elpiji sehari-hari adalah dengan membatasi besarnya api kompor. Gunakan api seperlunya. Jika memasak dengan panci atau ceret, saya setel api tidak melebihi batas luar panci atau ceret.
Saat masih anak-anak masih menyusu dengan botol, saya biasa memanfaatkan air rebusan botol untuk memandikan anak-anak. Dengan begitu sekali merengkuh dayung dua tiga pulau terlampaui.
Irit Penggunaan Air
Sejumput cerita lain saya pelajari dari orang tua. Bapak saya punya rumus unik untuk mengirit penggunaan air PDAM, yaitu dengan membuka keran di meteran air separuh saja. Ini sama sekali bukan praktik curang, ya. Bukan. Sama dengan kita membuka kran air separuh saja, air tetap mengalir tetapi tidak deras. Menurut Bapak saya, hal ini menyebabkan meteran tidak berputar cepat. Aliran air yang sedang pun memaksa pengguna untuk berhati-hati dengan asumsi akan timbul perasaan khawatir 'jangan-jangan airnya mau mati'. Pun dengan air yang tak terlalu deras umur kran air di dapur dan kamar mandi menjadi lebih panjang sebab tidak terkena tekanan besar terus-menerus.
Untuk urusan irit air lain, saya juga membiasakan diri untuk menyediakan ember berbeda saat mengepel. Ember pertama berisi air saja, ember kedua berisi air yang dicampur pembersih lantai. Setiap kali membilas saya gunakan air di ember pertama, kemudian celupkan lap pel di ember kedua. Selanjutnya air di ember pertama dibuang dan diganti dengan air baru. Tujuannya selain irit air dan irit pembersih lantai sekaligus juga mengurangi polusi air yang disebabkan penggunaan pembersih lantai yang berlebihan.
Irit Saat Internetan
Berhubung kegiatan internetan sudah menjadi 'makanan pokok' saya dan suami selain nasi, maka kegiatan ini harus diperhatikan agar tidak menjadi bumerang bagi keuangan keluarga. Solusinya, kami memilih paket internetan yang paling murah dengan kualitas sebanding. Dijamin irit.
Untuk lebih irit lagi, saya biasa memanfaatkan jaringan wi-fi untuk internetan saat menunggu anak di sekolah. Kebetulan ada jaringan wi-fi yang terbuka di lingkungan perumahan dekat TK anak saya. Jadilah di malam hari buat draft tulisan, paginya posting di sekolah. Urusan download dan instal aplikasi pun saya lakukan di sana. Gratis, sih. Siapa yang bisa menolak?
Irit memang perlu, bahkan kadang harus. Kita hanya perlu melihat situasi dan belajar dari pengalaman. Sebagai penutup, saya kira hanya satu di dunia ini yang tak boleh diirit, yaitu kasih sayang.
Tulisan ini diikutsertakan pada Giveaway Irit tapi Bukan Pelit yang diadakan oleh Kakaakin.

Comments

  1. Wah wah... trik iritnya boleh banget nih. Terlebih lagi cara ngenetnya yang super irit. Sayangnya di kantor saya gak ada wifi gratis :(

    Terima kasih sudah ikutan GA Irit tapi Bukan Pelit. Sudah tercatat sebagai peserta.

    ReplyDelete
  2. Hehe...gratisan mmg enak mak. Makasih mak sdh berkunjung.

    ReplyDelete
  3. Terima kasih sudah berbagi di giveaway irit tapi bukan pelit :)

    Salam,
    @apikecil

    ReplyDelete
  4. terima kasih atas kunjungannya.

    ReplyDelete
  5. Mbak, IMHO, waktu memasak air akan lebih cepat mendidih kalau ditutup bukan di buka tutupnya. karena dengan di tutup, tekanan nya lebih besar jadi lebih cepat mendidih dibanding dengan tidak ditutup. Air mendidih bukan karena cepat menguap. karena penguapan baru terjadi di suhu 100 dercel dimana pada suhu itu air sudah mendidih.

    Salam,...

    ReplyDelete
  6. irit dan hemat memang harus kita lakukan... tak harus menunggu saat terjepit dan sebagainya. Sip banget tipsnya.

    ReplyDelete
  7. @mbak Indah: bgitu ya mbak? kl gt saya salah dong. siap2 direvisi tulisan ini kl gt. makasih masukannya.

    @mak Reni: iya mak. tp seringnya yg kejepit2 itu jd melahirkan inovasi. halah...

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Sila berkomentar dengan baik dan sopan. Mohon maaf, segala komentar spam, yang berisi link hidup atau yang menyebabkan broken link serta komentar yang mencantumkan identitas tidak jelas akan dihapus.

Popular Posts