Mumpung Masih Lajang

Sebuah lelucon pernah beredar di zaman awal saya kuliah dulu. Konon, di tahun pertama seseorang akan mencari tahu jati dirinya dalam hal perjodohan. Siapa aku?, tanyanya. Di tahun kedua, seseorang akan bertanya tentang orang-orang yang mendekatinya. Siapa kamu? Di tahun ketiga seseorang mulai penasaran dengan pujaan hati. Ia akan bertanya, siapa dia? Di tahun keempat, saat telah gagal dalam tiga tahun pertama, seseorang yang resah akan berkata, siapa saja! duniaselebardaunkelor.com
Lain lagi dengan seorang teman yang berkata menjelang kelulusan S1nya belasan tahun silam, "Kenapa sih, menikah itu harus melibatkan dua orang? Andai boleh satu orang saja, aku akan berangkat sendiri ke KUA". Yang mendengarnya langsung tertawa.
Mengapa ada perkataan seperti itu? Konteksnya saat itu adalah hati yang gelisah karena dikejar pertanyaan mau apa sesudah lulus? Mau kerja atau nikah dulu? Kerja belum tentu cepat dapat. Jodoh, belum tentu juga. Yang paling gampang, kalau butuh status, ya nikah sendiri saja. Andai boleh begitu kan enak, sudah punya status. Kalau ditanya orang juga enak menjawabnya. Kerja atau nikah? Saya nikah saja deh. Dengan diri sendiri. #sodorinKTP
Ada lagi yang bertanya-tanya dengan nada penuh keresahan tetapi dibungkus rasa iri. Enak ya jadi laki-laki. Kalau naksir tinggal bilang. Lha perempuan? Kalau naksir...?
Faktanya, itu bukan masalah besar. Jodoh itu kalau sudah dipertemukan oleh Alloh, lancar saja. Tidak perlu gimana-gimana lagi.
Bersyukur
Beberapa teman perempuan saya masih melajang di usia 35+. Ada yang resah, ada pula yang pasrah. Saya sendiri menikah di usia 31 tahun dan suami 32 tahun. Memang sudah takdir, begitulah saya menyikapinya. Lajang di usia matang memang menggelisahkan, namun ada untungnya juga.
Setelah menikah dan punya anak, dunia saya berubah banyak. Dulu saya seorang perempuan yang bekerja kantoran, semenjak menikah tidak lagi. Yang mungkin kurang disyukuri para lajang adalah kebebasan. Saya bukan mendukung para lajang matang untuk menjomblo selamanya lho, ya. Maksud saya, mumpung masih lajang, ambil kesempatan sebanyak-banyaknya.
Contoh paling mudah adalah dalam urusan mencari ilmu. Ketika masih lajang dan punya uang, ada kesempatan ikut pengajian dai kondang, bisa langsung plencing saja. Saat sudah menikah, bisa jadi tidak diizinkan suami. Apalagi acaranya setelah sholat isya, bisa gigit kuku sendiri, ngampet gara-gara tidak dibolehkan berangkat oleh suami.

Selain suami, anak pun bisa menyetop kesukaan kita. Seorang teman mengeluh di dinding facebooknya. Ia rindu ikut sholat tarawih di masjid. Apa daya anaknya masih terlalu kecil untuk ditinggal di rumah atau dibawa ke masjid. Akhirnya teman saya itu bergiliran dengan suaminya. Seandainya teman saya itu punya suami yang tidak pengertian atau suaminya dinas di luar kota, bisakah teman saya itu dapat jatah sholat tarawih berjamaah di masjid sebagaimana kebiasaannya saat gadis dulu?
Saya tidak bermaksud memprovokasi, hanya mengajak untuk mensyukuri keadaan. Bukankah syukur itu jauh lebih baik daripada mengeluh?
Berupaya
Lantas, apa usaha si lajang agar segera bertemu jodohnya?
Pertama, lunasi 'hutang' kepada Alloh. Masih punya hutang puasa? Sholat kita masih belum tertib? Al-Quran belum khatam dibaca juga? Selesaikan PR ini dulu. Ini juga yang saya lakukan dulu saat mendamba jodoh. Dalam buku harian saya tulis 'hutang-hutang' saya kepada Alloh, lalu satu per satu saya lunasi. Dalam daftar itu saya tulis LUNAS, lalu di bawahnya lagi saya tulisi 'saatnya meminta'.
Kedua, bekerja sama dengan orang tua atau yang menjadi wali kita. Mohon doa mereka dan sampaikan dari hati ke hati kriteria jodoh idaman kita. Itu juga saya lakukan. Ketika orang tua saya hendak pergi haji, Ibu saya menawarkan saya untuk didoakan memperoleh jodoh. Saya iyakan. Sepulang naik haji Bapak saya bercerita bahwa saat berdoa di Raudhoh yang selalu penuh sesak, beliau mendapat pertolongan sehingga dapat leluasa di sana. Di saat itulah Bapak mendoakan jodoh untuk saya. Kurang dari dua bulan sepulang orang tua saya dari naik haji saya mendapatkan penawaran jodoh sejumlah dua orang. Salah satunya akhirnya menjadi suami saya.
Ketiga, bersikap terbuka dan rendah hati. Hormatilah setiap tawaran jodoh yang diajukan kepada kita meski kurang sreg di hati. Jika perlu menolak, tolaklah dengan cara yang baik. Siapa tahu jodoh kita bukan dengan yang ditawarkan tetapi saudaranya atau temannya. Dengan demikian hubungan baik tetap terjaga.
Keempat, pasrah kepada pilihan Alloh. Saat dihadapkan pada dua pilihan sepulang orang tua naik haji tadi, saya menyambung komunikasi dengan keduanya lewat ponsel dan internet. Maklum, keduanya tinggal di kota yang jauh dari saya. Lalu saya pun memohon petunjuk kepada Alloh. Ternyata dari dua pilihan tadi hati saya dimantapkan kepada pilihan yang 'tidak masuk akal'. Bagaimana tidak, saya malah condong kepada calon yang saat itu masih pengangguran. Petunjuk Alloh begitu jelas. Saat saya minta keduanya untuk bertemu saya, hanya satu yang bersedia datang dari jauh untuk menemui saya. Rupanya inilah jodoh saya, yang bersungguh-sungguh.
Jodoh memang misteri. Tak terduga, tak terbayangkan, namun itulah takdir Alloh. Tugas kita adalah meminta jodoh yang baik bagi kita dunia-akhirat. Insya Alloh terkabul. Setuju?

Comments

  1. Tips-tipsny boleh juga nih, makasih sudah ikut GA saya ya :-)

    ReplyDelete
  2. terima kasih kembali mbak. senang bisa ikut GAnya mbak.

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Sila berkomentar dengan baik dan sopan. Mohon maaf, segala komentar spam, yang berisi link hidup atau yang menyebabkan broken link serta komentar yang mencantumkan identitas tidak jelas akan dihapus.

Popular Posts