Menjadi Diri Sendiri: Mencari Kenyamanan

Menjadi diri sendiri. Be yourself. Apa itu? Mudahnya adalah mengerjakan segala sesuatu dengan gaya kita sendiri. Bukan berarti lepas dari aturan, namun lebih pada kenyamanan urutan melaksanakan sesuatu. Contoh paling mudah adalah jumlah guyuran gayung saat mandi. Ada yang memulai mandi dengan dua kali guyuran, ada yang lebih. Tak ada benar dan salah dalam hal ini, yang salah hanyalah jika boros menggunakan air saat mandi.

Perilaku menjadi diri sendiri yang juga sangat mudah diamati adalah pada tingkah polah anak-anak. Kemurnian mereka melahirkan perilaku yang khas. Jika perilaku khas ini dipaksa untuk diubah, muncullah ketidaknyamanan yang berujung pada hidup yang kurang produktif.

Seiring pertambahan usia, mulailah terjadi perjumpaan dengan perilaku khas orang lain. Di saat ini, jika seseorang kuat konsep dirinya, maka perilakunya cenderung tetap, tidak banyak berubah oleh pengaruh luar. Pengaruh luar itu belum tentu buruk, hanya saja berpotensi menghilangkan kekhasan seseorang. Jika kekhasan hilang, maka hilang pula jati diri seseorang.

Saya pribadi pernah mengalami masa-masa kehilangan kekhasan itu. Rasanya saat itu baik-baik saja karena masih remaja. Namun, ketika usia mulai menginjak dewasa, timbul pertanyaan dalam diri: siapa aku? Apa keinginanku? Mau ke mana aku?


Pernah suatu ketika saat berjumpa dengan serombongan teman adik, saya menyapa mereka dengan bahasa remaja awal 2000-an. Reaksi teman-teman adik saya adalah terkejut. Lalu seseorang dari mereka berkata kepada adik saya, "Mbakmu gaul juga ya". Ada perasaan bangga bisa 'dianggap' dan diterima bergaul dengan remaja yang berusia di bawah saya. Namun di saat yang bersamaan saya pun merasa tidak enak hati. Inikah diriku? Sepertinya aneh. Ini jelas bukan diriku.

Kejadian serupa terulang saat muncul jejaring sosial di dunia maya. Banyak istilah 'gaul' yang beredar di sana, yang kalau digunakan, terasa makin 'gaul'lah kita. Pernah suatu ketika saya ingin ikut-ikutan ceriwis berbalas komentar di facebook. Tertawa ngakak pun ingin saya cicipi. Sepertinya asyik bisa ngakak di facebook, batin saya. Saya pun mulai memberi komentar pada status teman dengan mengetik "wkwkwkwkwk...". Nyaris saja ketawa ngakak itu saya pamerkan ke seluruh jagad dunia maya, tiba-tiba hati kecil saya menolaknya. Malu. Masak ngakak di depan umum? Kalau di dunia nyata, will you do the same thing?, kata hati kecil saya.

Hingga detik ini saya belum pernah ngakak model "wkwkwk" tadi, baik di facebook, twitter, whatsapp dan lain-lain. Jika 'terpaksa' ngakak pun saya lebih nyaman menuliskan "hahaha..." Memang menjadi diri sendiri sama dengan mencari kenyamanan.
Bagaimana dengan teman-teman?

Comments

  1. Kenyamanan diri sendiri memang hanya kita yg tahu, dan jika ingin nyaman, maka gunakanlah kenyamanan tsb, iya ga mba... hehe

    ReplyDelete
  2. betul mbak. walau kdg aneh dilihat org lain tp krn sdh kadung nyaman ya jadinya jalan terus. pokoknya slm ga melanggar aturan ga apa2.

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Sila berkomentar dengan baik dan sopan. Mohon maaf, segala komentar spam, yang berisi link hidup atau yang menyebabkan broken link serta komentar yang mencantumkan identitas tidak jelas akan dihapus.

Popular Posts