Sadis! Uang Pun Dimutilasi

Kasus beredarnya uang palsu makin meresahkan masyarakat. Setelah pernah menjadi korban peredaran uang palsu, meski tak banyak, baru-baru ini suami saya menemui uang setengah palsu. Uang pecahan 50.000 ini sekilas tampak seperti uang asli, namun pihak bank tempat suami saya bertransaksi menyatakan bahwa uang tersebut palsu.

Pihak bank tidak bersedia menerima uang tersebut. Di bawah lampu ultra violet, teller menyatakan bahwa uang tersebut palsu di satu sisi. Kemudian sang teller meminta suami saya untuk mencoret uang tersebut sebagai tanda bahwa uang itu tidak berlaku.

Selesai kejadian itu kami bertanya-tanya, benarkah pernyataan teller tadi? Keraguan langsung terlintas, sebab tak terpikir bagaimana caranya memalsukan uang hanya di satu sisi. Jangan-jangan karena kualitas tintanya yang berbeda? Keraguan terjawab ketika keesokan harinya tanpa sengaja uang tersebut yang disimpan suami di saku tercuci. Usai pencucian saya menemukan bekas-bekas rontokan kertas yang lembek di dasar mesin cuci. Lalu berikutnya saya menemukan lembaran uang yang utuh. Ternyata betul. Sisi yang palsu rontok terkena air. Usut punya usut, ternyata kasus uang setengah palsu ini sudah ada sejak 2011. Istilah yang digunakan pihak berwenang adalah 'uang mutilasi'. Sadis! Uang pun Dimutilasi. Oleh para pelaku, lembaran uang asli dibelah menjadi dua sisi, kemudian ditempeli dengan sisi uang palsu. 'Keunggulan' uang setengah palsu ini adalah kemungkinannya terdeteksi sebagai uang palsu lebih kecil, yakni 50%. Bila sisi aslinya yang dipindai mesin pengecek, uang setengah palsu ini bisa bebas melenggang. Lalu, bagaimana cara mencegah kita menjadi korban selanjutnya? Pertama, senantiasa memohon kepada Alloh agar dihindarkan dari bencana ini. Kedua, usahakan bertransaksi secara nontunai seperti transfer antarrekening untuk pembayaran tagihan, cicilan dan lain-lain. Ketiga, bila bertransaksi secara tunai khususnya dengan pecahan uang yang bernominal tinggi, cek dengan 3D: dilihat, diraba, diterawang. Saya pribadi berharap dan berdoa semoga para pelaku insyaf sehingga tak ada lagi korban selanjutnya.

Comments

  1. Saya malah baru tahu tentang modus palsu sebagian ini.
    Pemanfaatan teknologi yang tidak pas, tidak wajar ya, Mba.

    Harus lebih berhati2. . .

    ReplyDelete
  2. betul mak. waktu diberi tahu sang teller pun kaget bgt. ga salah nih? ternyat betul2 ada.

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Sila berkomentar dengan baik dan sopan. Mohon maaf, segala komentar spam, yang berisi link hidup atau yang menyebabkan broken link serta komentar yang mencantumkan identitas tidak jelas akan dihapus.

Popular Posts