Si Tipis Manis yang Membuat Curiga

Menulis adalah kegiatan baru saya yang lama tak saya kerjakan. Setelah bertahun-tahun meninggalkan kesukaan menulis, baru-baru ini saya kembali menyambangi kembali dunia lama itu. Memang, saya bukan penulis profesional. Saya hanya penulis yang menuliskan yang ingin saya ungkapkan di buku harian (sewaktu masih belajar di SD), surat (waktu masih zaman belum ramainya internet) dan blog. Yang terakhir ini pun saya masih harus banyak belajar. Selain belajar hal-hal teknis, juga belajar mengunggah ide secara wajar, cantik dan natural.

Sebagaimana kesulitan saya saat mulai menggali ide, demikian juga kesulitan yang serupa muncul saat harus memilah ide mana yang pas untuk dikemukakan kepada publik. Baru-baru ini pula saya belajar untuk menghargai diri sendiri dengan cara menunda pencurahan ide dalam blog saya. Mengapa? Sebab, ternyata dengan menunda, saya dapat memikirkan lebih dalam mengenai dampak tulisan saya. Bermanfaatkah untuk orang lain yang membaca? Atau justru menjadi bumerang bagi saya karena tulisan saya tidak bermutu. Sulit memang untuk menunda, namun barangkali ini salah satu cara untuk menghasilkan tulisan yang bisa membuat saya bangga.
Ide yang muncul terkadang tak pandang waktu dan tempat. Saat sedang memasak, menjemur pakaian atau bahkan di kamar mandi, ide bisa muncul. Yang paling susah adalah ide sering juga muncul saat sedang sholat. Duh, ini sih namanya godaan setan. Saya rupanya juga harus belajar mengendalikan momentum munculnya ide.

Ketika ide muncul mendadak, yang biasa saya lakukan adalah mengingat-ingat dengan menyebutnya berulang-ulang. Secara lisan supaya terdengar telinga. Setelah ingat betul barulah saya pindah ide tersebut dalam smartphone saya secepat mungkin, sesingkat mungkin. Ide itu saya endapkan dulu, hingga saya yakin betul untuk menelurkannya.

Kesulitan saya adalah, fasilitas pencatat di smartphone terbatas. Baik aplikasinya maupun dukungan fisiknya. Jujur, saya lebih suka mengetik dengan keyboard fisik daripada layar sentuh. Keyboard layar sentuh memang praktis, namun juga menyebabkan lebih banyak error akibat salah pencet. Belum lagi tombol angka dan simbol yang hanya bisa muncul bergantian dengan tombol huruf. Nikmatnya jika punya perangkat dengan keyboard yang lega seperti keyboard chiclet-nya Acer Aspire E1-432. Keyboard chiclet di notebook yang tipisnya hingga 30% lebih tipis dari notebook slim di kelasnya ini menghadirkan kelegaan yang benar-benar nyaman. Sebab masing-masing tombol memiliki jarak yang cukup sehingga meminimalkan salah pencet yang, tentu saja, tidak membuat kita jadi cepat lelah.

Selain itu, kelegaan ruang antartombol memudahkan proses pembersihan. Tak lagi khawatir ada selipan kotoran di antara tombol. Kenyamanan juga bertambah sebab untuk pergelangan tangan saat mengetik pun ada ruang yang cukup. Dukungan track pad sebagai pengganti mouse juga penting. Pemerhati teknologi bahkan ada yang berani menyebut bahwa era mouse telah berakhir dengan hadirnya track pad.

Benarkah demikian? Rasanya iya, melihat evolusi (atau revolusi) notebook yang kian pasti. Notebook tanpa track pad? Aneh sekali jika ada. Track pad milik Acer Aspire E1-432 yang slim ini memiliki tekstur guna mendukung kenyamanan gerak jari-jari di atasnya. Sensitivitas jelas menjadi tujuan utama sebuah track pad. Kurangnya sensitivitas membuat pemakai frustasi dan segera meninggalkannya.

Teknologi memang berpacu untuk memberikan kemudahan, kepraktisan dan kenyamanan. Kadangkala akibat itu, keindahan menjadi agak terabaikan. Bagi yang mementingkan performa, mungkin tak menjadi masalah. Bagi yang peduli dengan penampilan, keunggulan performa saja tak cukup. Selalu ada kerinduan manusia akan keindahan. Untunglah, si tipis Acer Aspire E1-432 dirancang dengan memperhatikan faktor keindahan juga. Selain warnanya yang menarik, yakni Silky Silver dan Piano Black, Acer Aspire E1-432 pun hadir dengan starry swirls di casing dan keyboardnya.
Jika Acer Aspire E1-432 ini hadir dalam warna-warni yang lebih genit, saya "curiga" notebook ini dirancang untuk kaum hawa. Apalagi bodynya tebalnya (atau tipisnya) hanya 25,3 mm (bacalah dalam centimeter: 2,53 cm!) dan bobotnya hanya 2,2 kg. Dengan dimensi setipis dan seringan itu, bukankah jadi begitu mudah untuk dibawa ke mana-mana? Tinggal dimasukkan tas saja. Tak peduli tas punggung ataupun tas cangklong.  Kecurigaan saya cukup beralasan bukan?

Jika kurang cukup alasannya, cobalah diperhatikan lagi. Body slim, tampilan manis, ada perangkat pendukung DVD-RW untuk memanjakan buah hati menonton video atau film kegemaran, port usb (salah satu dari tiga port adalah versi 3.0!) untuk transfer data, card reader untuk memindah foto-foto liburan dari kamera, wi-fi untuk berselancar di dunia maya sambil makan siang dengan keluarga di restoran atau saat menemani suami mencucikan mobil,  layar 14" yang lega untuk bermain games edukatif dengan si kecil, baterai yang tahan hingga enam jam hingga tak perlu khawatir repot dengan charger saat meminjamkan notebook kepada buah hati sembari memasak, media penyimpanan harddisk SATA berukuran 500GB yang bisa dipakai untuk menyimpan apa pun, harga yang masuk akal ... apalagi?

Masih kurang juga alasannya? Baiklah, saya sebutkan yang paling mendasar, yaitu prosesor Intel 4th Gen
terbaru, atau yang lebih dikenal
dengan kode nama Haswell. Hanya satu yang harus dilakukan dengan notebook yang bersenjatakan prosesor Haswell ini: dicoba. Dijamin ketagihan.

Saya makin curiga saat tahu bahwa Acer Aspire E1-432 ini juga dibekali dengan RAM DDR3 sebesar 2GB yang
dapat ditingkatkan hingga
8GB yang berarti unggul untuk kegiatan multi-tasking. Bukankah hampir semua perempuan di muka Bumi ini bekerja dengan cara multi-tasking

Jangan-jangan benar kecurigaan saya ini bahwa Acer Aspire E1-432 sangat cocok untuk perempuan? Ada yang bisa bantu membuat saya ragu?

NB: foto diambil dari situs resmi Acer Indonesia

Tulisan ini
diikutsertakan dalam
event “30 Hari Blog
Challenge, Bikin
Notebook 30% Lebih
Tipis” yang
diselenggarakan oleh
Kumpulan Emak Blogger (KEB) dan Acer Indonesia.

Comments

  1. jangan curiga makm tapi fakta hihihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihi...iya mak, dosa ya main curiga2an

      Delete
  2. Judulnya benar-benar membuat curiga :D
    Semoga sukses ya, Mak ^_^

    ReplyDelete
  3. Wah... gaya penulisan yg unik. saya sampai harus membacanya dengan hati-hati. :)

    ReplyDelete
  4. Kalau masih curiga segera beli aja :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya nungguin yg gratisan dulu mak...hihihi

      Delete
  5. Jury visit. Terima kasih sudah berpartisipasi.

    ReplyDelete
  6. Juri mampir. Terima kasih sudah berpartisipasi. Salam hangat :)

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Sila berkomentar dengan baik dan sopan. Mohon maaf, segala komentar spam, yang berisi link hidup atau yang menyebabkan broken link serta komentar yang mencantumkan identitas tidak jelas akan dihapus.

Popular Posts