Bahagianya Menulis dengan Notebook Tipis

Belakangan ini hujan sudah mulai turun di Madiun dan sekitarnya. Hawa yang panas kini alhamdulillaah berubah menjadi sejuk. Bahkan terasa cukup dingin di malam hari. Kalau sudah begini, baju hangat nan panjang serta selimut adalah teman tidur terbaik. Yang tipis-tipis untuk sementara ditinggalkan.

Bicara soal tipis, saya jadi ingat dengan mukena terpraktis yang sempat menjadi hit di tahun 2007. Mengapa disebut sebagai mukena terpraktis? Sebab mukena ini dirancang sedemikian rupa agar mudah dilipat. Bahkan hasil lipatannya lebih kecil daripada handphone. Kuncinya ada di bahannya yang tipis.

Waktu mukena itu diluncurkan, saya dengan penuh rasa penasaran ikut juga melihat-lihat di toko. Wow, menarik memang. Terbayang oleh saya betapa enaknya punya mukena ini. Tapi niat saya untuk melihat-lihat tidak berlanjut menjadi niat untuk membeli, sebab ternyata harganya mahal. Bisa dibilang hampir tiga kali lipat harga mukena yang saya punya. Ow, ow.. Begitu mahalnya kah harga sebuah produk yang lebih tipis?

Sebagai ibu, waktu untuk diri sendiri alias me time saya memang terbatas. Harus curi-curi malah. Yang paling sering saya curi adalah waktu tidur malam. Terus terang itu adalah saat terideal untuk mencurahkan isi pikiran tanpa ada gangguan. Strateginya adalah mencuri start waktu tidur. Dua anak balita saya biasa tidur setelah waktu maghrib lewat. Saya pun ikut tidur dan baru terbangun beberapa jam kemudian atau tengah malam. Dua atau tiga jam setelah itu saya pergunakan untuk menulis, buat draft, posting atau sekedar blog walking dan surfing  internet.

Sebagai seorang blogger pemula yang bermodal smartphone, saya biasa memanfaatkan aplikasi memo untuk mencatat apa saja. Mulai dari draft tulisan, informasi menarik, resep sampai catatan hutang puasa. Fasilitas copy paste sungguh membantu.

Hanya saja, kenyamanannya tetap kurang. Terutama jika saya harus menulis berpanjang-panjang, menyertakan foto, menghitung jumlah kata dan lain-lain. Kadang-kadang saya meminjam notebook suami. Namun, meminjam pun beresiko. Bagaimana kalau kemudian terjadi sesuatu yang tak diinginkan lalu data yang digunakan suami saya bekerja rusak atau hilang. Bisa gawat jadinya.

Melihat keribetan saya tatkala harus memindah-mindah data dari notebook ke smartphone dan sebaliknya, suami menyarankan saya untuk membeli notebook sendiri. Saya pun melirik notebook yang canggih, berpenampilan cantik sekaligus berharga terjangkau, seperti Acer Aspire E1-432 yang 30% lebih tipis dibandingkan notebook lain. Meski lebih tipis, harganya masih masuk akal.

Berhubung kebutuhan saya kebanyakan untuk menulis, kadang-kadang sampai berjam-jam (maklum, sambil nerawang menelusuri ide), maka saya butuh notebook dengan ukuran monitor yang cukup dengan resolusi yang memadai agar mata tidak makin 'keriting'. Acer Aspire E1-432 memiliki layar berukuran 14" dengan teknologi LED yang beresolusi 1366×768 piksel menjanjikan tampilan yang mengagumkan untuk kegiatan mengetik, nonton film, bermain games hingga kegiatan mendesain. Teknologi layar LED terbukti lebih hemat energi, lebih tipis serta lebih nyaman di mata. Rasanya, monitor seperti ini yang saya cari.

Sebagai pendukung kegiatan menulis, saya juga sering menangkap moment tertentu dengan kamera smartphone. Untuk memindah hasil jepretan itu ke notebook, Acer Aspire E1-432 menyediakan beberapa cara, yaitu melalui sambungan kabel USB dan card reader. Yang menarik, satu dari tiga port USB mengusung versi terbaru 3.0, yang kata seorang teman yang pernah mencobanya, port 3.0 ini akan membuat kita lupa kalau pernah ada versi 2.0-nya. Saking cepatnya transfer datanya. Wow, patut dicoba.

Meskipun kebanyakan kegiatan saya adalah office basic (basic sekali malah), namun saya tak suka dengan kinerja yang lambat, terutama jika harus melompat-lompat dengan menggunakan beberapa program bersamaan alias multitasking. Acer Aspire E1-432 menggunakan prosesor Intel generasi keempat
terbaru (dikenal juga
dengan kode nama Haswell) dan disertai
RAM DDR3 sebesar 2GB yang
dapat ditingkatkan hingga
8GB. Aduh...terbayang sudah lancarnya menggunakan notebook yang satu ini. Ketik, ketik, klik, copy, klik, paste, save, post. Yummy!

Soal daya tahan baterai, tak perlu ragu lagi. Enam jam nonstop! Saya yang paling-paling menghabiskan waktu 2-3 jam langsung lega karenanya.

Sudahlah, acara melirik-lirik Acer Aspire E1-432 yang slim ini cukup sampai di sini. Apa lagi sih yang mau diragukan tentang performanya? Hmmm...sepertinya sekarang waktunya memilih, yang Piano Black atau Silky Silver ya? Ada yang bisa memberi saran?

NB: gambar diambil dari situs resmi Acer Indonesia

Tulisan ini
diikutsertakan dalam
event “30 Hari Blog
Challenge, Bikin
Notebook 30% Lebih
Tipis” yang
diselenggarakan oleh
Kumpulan Emak Blogger (KEB) dan Acer Indonesia.

Comments

  1. Aku juga lagi melirik2 Acer ini nih... :D

    ReplyDelete
  2. ayo mak, kita lirik terus biar lama2 acernya jatuh hati sama kita...-)

    ReplyDelete
  3. Jury visit. Terima kasih sudah berpartisipasi. :)

    ReplyDelete
  4. Hai, Mak! Terima kasih sudah berpartisipasi. Good luck, ya! :)

    ReplyDelete
  5. Halu mak, Terima kasih sudah berpartisipasi ya.

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Sila berkomentar dengan baik dan sopan. Mohon maaf, segala komentar spam, yang berisi link hidup atau yang menyebabkan broken link serta komentar yang mencantumkan identitas tidak jelas akan dihapus.

Popular Posts