Tak Harus TV Nasional

Hampir tak pernah menduga, akhirnya permasalahan menonton TV menjadi nyata bagi kami, khususnya saya. Sejak hadirnya televisi swasta di Indonesia, saya hampir nyaris tak pernah kecanduan menontonnya. Hampir nyaris, berarti pernah juga. Saya tergolong pemilih. Ada memang dua atau tiga judul drama Korea dan Jepang yang pernah menjadi kesukaan saya.

Masalah timbul saat saya dan suami memutuskan untuk membeli sebuah pesawat televisi. Saat itu kami tinggal di wilayah Ciledug, kota Tangerang, Banten. Sungguh tak diduga, sinyal televisi di daerah tersebut lemah. Berbagai model antena luar telah kami coba namun tetap saja penerimaannya buruk. Hanya satu atau dua stasiun televisi yang siarannya cukup lumayan dapat ditangkap jelas.

Sisanya harus rela ditonton dengan gambar berbintik dan suara mendesis plus antena yang digeser-geser. Saking inginnya melihat tayangan yang bagus sampai-sampai saran seorang teman untuk menancapkan peniti di colokan antena pun kami coba.

Konon berhasil di perangkat teman tadi, tapi gagal total di pesawat televisi kami.
Kemudian kami pindah ke kabupaten Madiun, Jawa Timur. Setali tiga uang dengan sebelumnya, penerimaan di sini pun buruk. Diakali dengan antena luar yang besar pun tidak berhasil. Akhirnya setelah menimbang banyak hal kami memutuskan untuk berlangganan televisi berbayar.

Niat semula hendak menonton acara TV nasional menjadi berubah. Saluran televisi nasional yang dijejali beragam iklan menjadi tak menarik lagi bagi kami. Ditambah pula sebagian besar tayangan TV nasional kurang bermutu dan kurang bermanfaat bagi kami. Nampaknya fokus TV nasional masih berkutat pada faktor hiburan alias entertainment. Sisi kemanusiaan, pencerahan apalagi pendidikan dan penghiburan belum tampak. Industrialisasi di dunia pertelevisian rasanya terlalu kental. Konsep rating mencerminkan itu. Jadilah blunder yang parah, mana yang betul, pemirsa menginginkannya atau pemirsa diinginkan? Ya sudah, karena tak mampu menjawab pertanyaan itu maka kami tinggalkan sebagian besar tayangannya. Baiklah, menonton TV tak harus TV Nasional

Dari sekian banyak saluran dalam dan luar negeri yang dapat kami saksikan melalui layanan TV berbayar, tayangan baru kesukaan kami adalah History dan National Geographic. Dua saluran tersebutlah yang banyak kami tonton. Keduanya menyajikan informasi yang enak untuk disaksikan. Saya terpesona dengan cara mereka menyuguhkan hasil penemuan atau kerja ilmiah akademisi Barat secara sederhana, mudah diikuti pemirsa awam seperti saya. Yang masih saya ingat salah satunya adalah serial Test Your Brain di National Geographic serta paparan sejarah dalam Mankind: the History of All of Us di Histroty Channel. Meski demikian tetap saja ada informasi tak penting yang muncul, misalnya Ancient Aliens di History Channel.
Kami biasanya menonton TV di malam hari, sebab pagi hingga sore biasanya tak pernah lepas dari saluran kesukaan anak-anak kami, yaitu Disney Junior dan sesekali Baby TV. Dua saluran ini saya pandang cukup aman untuk disaksikan anak-anak, namun tetap perlu pendampingan.

Selain kesenangan yang didapat dari tayangan-tayangan tadi, tentu saja ada kekurangannya, yaitu biaya tambahan yang harus dikeluarkan setiap bulan. Relatif murah memang, Rp 90.000,00, untuk empat puluhan saluran termasuk saluran radio, yang biasa kami bayar melalui ATM setiap awal bulan.

Sebagian orang berpendapat bahwa posisi tawar konsumen TV berbayar lebih tinggi sebab mereka dapat "memutuskan kontrak" menonton suatu saluran jika ternyata acara-acara yang ditayangkan kurang sesuai dengan harapan konsumen. Namun dalam pandangan saya tidak semudah itu. Pada kenyataannya saya tak bisa menghapus suatu saluran yang saya anggap tidak memberikan manfaat. Pernah hal ini saya sampaikan kepada pihak pengelola namun tidak dapat dilakukan karena saya berlangganan dengan sistem paket. Apakah di luar itu ada sistem satuan atau tidak, saya pun belum tahu. Alangkah menyenangkannya jika ada dan hadir dengan harga terjangkau!

Comments

  1. Ternyata peniti banyak fungsinya ya mbak.
    Kalo wanita hamil katanya suruh kasih peniti di bajunya. Biar ga diganggu setan. hehe
    #salah-fokus :D v(^^

    ReplyDelete
  2. Halo salam kenal

    Saya juga memutuskan memakai TV berbayar karena melihat kualitas tontonan TV nasional sekarang yang menurut saya sangat tidak mengedukasi dan hasilnya saya tidak kecewa karena dengan budget yang dikeluarkan saya mendapatkan manfaat yang setimpal... :)

    ReplyDelete
  3. @bu anita: hahaha...iya tuh bu. orang hamil kok bawaannya yg serem2 ya? bahaya... terima kasih sudah mampir bu.

    @mamanya leon: salam kenal jg bu. iya betul, saya jg merasa begitu. walau akhirnya jd ketinggalan informasi yg sedang hangat di dlm negeri. bukan berarti ga cinta Indonesia ya, tp boleh dong kita cari tontonan yg bergizi utk diri n anak2 kita. terima kasih ya bu sudah mampir.

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Sila berkomentar dengan baik dan sopan. Mohon maaf, segala komentar spam, yang berisi link hidup atau yang menyebabkan broken link serta komentar yang mencantumkan identitas tidak jelas akan dihapus.

Popular Posts