Mengajar Memang Harus Menunggu


guru-mengajar
sumber gambar: Pixabay (dengan penambahan teks)

Mengajar memang harus menunggu. Menunggu apa? Menunggu muridnya datang? Hehehe...bukan cuma itu, kadang sang guru pun harus menunggu agar muridnya bis apaham betul. Ini adalah cerita bertahun-tahun lalu yang masih saya ingat. Kisah saat saya harus menjadi guru. Kisah yang saya kira harus saya camkan dalam hati, sebab sekarang saya menjadi 'guru' dari anak-anak saya.

Mengajar Mengaji Anak Cedal


Saya bukan seorang guru, tetapi saya pernah merasakan pengalaman mengajar. Salah satunya adalah mengajar mengaji di Taman Pendidikan Al-Quran, sekitar tahun 2005. Di sana saya menjumpai seorang santri yang unik. Seorang anak laki-laki berusia kurang lebih lima tahun. Wajahnya lucu dan sangat lugu.
Pertama kali saya mengajarnya, saya menemukan kelucuan. Anak ini belum bisa mengucapkan huruf J atau JIM dalam Bahasa Arab. Setiap kali harus membaca kata yang ada J-nya,ia menggantinya dengan huruf D.
Saya sempat kebingungan saat ia mengucapkan JA A HA dengan DA A HA. JA HA TSA menjadi DA HA TSA.

Apa yang salah? Apa dia salah mengingat huruf atau matanya kurang awas? Sampai-sampai saya memintanya memperhatikan bibir saya saat mengucapkan kata yang benar, namun tetap saja begitu.
Akhirnya saya memintanya mengucapkan kata GAJAH dan JAJAN. Hasilnya? Ia menyebutkan kata-kata itu sebagai GADAH dan DADAN.
mengajar-mengaji
sumber: koleksi pribadi
Saya pun mengerti kemudian bahwa ternyata memang anak ini masih belum dapat mengucapkan huruf J. Rupanya ia cedal. Jadi, tak perlu terburu-buru. Ada saatnya nanti cedalnya hilang, pikir saya. Rupanya itu betul, bertahun-tahun berlalu. Kini ia sudah remaja dan tidak cedal lagi.

Mengajar Membaca


Murid kedua saya adalah tetangga saya sendiri. Waktu itu umurnya baru enam atau tujuh tahun. Tepatnya saat itu ia sedang belajar di kelas satu SD.Anak perempuan ini sering bermain ke rumah saya sejak saya dan orang tua saya menempati rumah persis di sebelah rumahnya. Ibunya seorang janda dengan tiga orang anak yang harus membanting tulang dan memeras keringat untuk membiayai hidupnya dan anak-anaknya. Oleh karena itu, si ibu sering terpaksa meninggalkan sang anak yang masih kecil di rumah.

Mau tak mau saya pun ikut mengawasi si anak dan kadang membantunya. Maklum, saat pertama kali kami menjadi tetangganya ia baru berumur tiga tahun, sehingga kadang mandi dan makan pun kami bantu.

Ketika si anak ini mulai bersekolah, kadang-kadang saya ajak ia belajar. Mengenal huruf, mengenal angka, berhitung. Saat ia duduk di kelas satu SD saya mengajarinya membaca. Tentu saja bukan saya yang mengajari dasar-dasar membaca, saya hanya mengulang pelajaran yang disampaikan sang guru di sekolah.
Saya ingat betul waktu itu saya mengajaknya membaca kata-kata yang akrab di telinga, seperti IBU, BAPAK, MAMAK. Anehnya, walau sudah diberi contoh berkali-kali tetap saja ia kesulitan mengeja kata yang memiliki konsonan di akhir, seperti BAPAK dan MAMAK. Selalu yang keluar adalah BAPAKA dan MAMAKA.

Saya sampai kehabisan akal mencarikan contoh dan analogi baginya. Tetap saja dia membacanya sebagai BAPAKA dan MAMAKA. Hadoooh...nggak bakat jadi guru sayanya, hahaha...

Ternyata kasusnya mirip dengan santri saya tadi. Belum tiba saatnya. Setelah si anak ini naik ke kelas dua SD barulah ia dapat membaca dengan benar. Rupanya, terkadang, memang mengajar harus menunggu. Nah, teman-teman ada juga cerita saat harus menjadi pengajar? Ada kisah serupa dengan kisah saya nggak? Cerita yuk di kolom komentar.

Comments

Popular Posts